
Seraut wajah menatap layar ponsel dengan mimik tercengang. Bibir merah mudanya memisah kala melihat pesan yang dikirimkan Djarot untuknya. Sejenak barisan kata itu membuat Rully sudah memahami maksudnya. Namun, kemudian Rully mengumpat.
"Ya elah, Si Botak nggak paham maksud ane!" Ponsel di tangannya terhempas jatuh ke kasur, berbarengan dengan kebingungan pikiran Rully mencari cara agar perjanjiannya batal tanpa menggugurkan gengsinya yang tinggi.
Pikirnya, jika Djarot sepakat menyerah pada perjanjian konyol yang dibuatnya, dia bisa melakukan sesuatu pada pendekatan Djarot kemarin.
"Lagian kenapa bibir bodoh ini mengatakan perjanjian konyol itu segala?" Rully menepuk bibirnya penuh sesal. "Biasanya kamu kan survey dulu, Rul ... lihat dulu latar belakang dan juga gimana laki yang deketin kamu," katanya pada diri sendiri.
Rully mengerang. Baru kali ini dia tertipu oleh bentukan luar seorang pria. Dia adalah penilai ulung. Serapi apapun bungkus luar seorang pria, baik busuknya Rully akan segera tahu. Geng Gibahnya selalu terdepan soal informasi pria. Mereka seakan punya mata dan radar yang canggih untuk mendeteksi kebusukan maupun keunggulan seorang pria.
Soal Djarot—sialnya, Rully tak pernah bicara satu katapun. Sekalipun, Rully tak pernah menyebut nama Djarot di muka teman-temannya, dan Djarot bukan tipe yang masuk ke radar deteksi Geng Gibah Rully. Bapak-bapak boklim yang sudah uzur seperti Djarot, tidak pernah dibahas oleh Geng itu yang menyukai pria keren yang penampilan maupun pahatan wajahnya keren dari lahir. Gian salah satunya.
"Radar Geng Gibah bisa tumpul juga ternyata," keluh Rully. "Tapi wajar, sih ... Djarot kan selalu pakai pakaian kedodoran, terus terlihat galak dan menakutkan. Lagian di kota ini, berapa banyak yang bisa menemui Djarot? Mayang saja yang jelas uangnya banyak, susah sekali nemuin Djarot dulu."
Bayangan Djarot dengan dada dan perut kotak-kotaknya melayang di benak Rully. "Ya Tuhan, Djarot ... kenapa kamu jahat banget sih? Masa aku tiba-tiba dateng, trus bilang sama kamu, 'Pak, perjanjian kita batal aja deh, kita mulai lagi pendekatan kita dengan cara yang baik' ... begitu?"
Diatas kasur di rumah Mayang, Rully berguling gelisah. "Runtuh dong harga diri Rully selama ini? Dan—dan apa kata Djarot nanti? Terkesan gampangan kalau tiba-tiba ngomong kaya begitu. Yang ada nanti bikin ilfil Djarot lagi."
Rully membuang napas, lalu bangkit untuk mengambil air minum. Rasanya kepalanya yang panas ini perlu diguyur air dingin seteko. "Sudahlah, mungkin harus pasrah nunggu sebulan lagi. Mungkin itu juga bisa membuktikan apa aku hanya terpesona sesaat atau aku benar-benar ada rasa sama dia."
__ADS_1
Rully menyeka keningnya, seakan di sana tumbuh banyak sekali buih keringat.
"Kangen sama Djarot, ya, Mbak?"
"Astaga, setan!" pekik Rully saat dari remang ruang depan ada suara dan siluet tak jelas menegurnya.
"Ngapain kamu di situ?" Rully membeliak pada Gian yang perlahan berjalan ke arahnya. Refleks Rully memeluk tubuhnya. Pikiran buruk segera menyergap otak Rully yang suka sekali berpikir kotor.
"Jangan-jangan dia mau ngapa-ngapain aku, lagi?" Ia mundur dengan tatapan awas terhadap Gian.
Sementara menghadapi sikap Rully yang antisipatif, Gian tersenyum. Dia bukan predator, kan? Dan Rully bukan mangsa dalam rantai makanan predator.
"Nggak usahlah—buat apa?" Rully mengendikkan bahunya, berusaha terlihat kalau dia tidak butuh tawaran Gian. Ia pilih menyambung langkahnya.
Gian bersikeras. "Dia itu pria baik yang dibungkus oleh tampilan luar yang mengerikan. Sebagai pengacara, Djarot terlalu menjiwai dan membawa keluar sikap frontalnya di depan persidangan. Aslinya dia sangat ramah, dan kurasa diusianya sekarang, Djarot tidak akan main-main saat dekat sama wanita."
Rully mempertimbangkan ucapan Gian dengan menghentikan langkahnya. Namun dia tidak menoleh.
"Kalau aku bilang, Mbak Rully beruntung jika Djarot memutuskan mendekati Mbak Rully. Ku pikir itu perasaan yang tidak main-main, Mbak. Wanita itu menurutku lebih baik dicintai dari pada mencintai atau mengejar cinta seorang pria. Bagus sih dua-duanya, tapi akan mudah menyesuaikan jika pria yanh jatuh cinta lebih dulu sama Mbak, memperjuangkan tanpa mikir harga diri maupun gengsi. Potensi disakiti lebih sedikit." Gian gigih menerangi pikiran penuh gengsi seorang Rully.
__ADS_1
"Kayak kamu sama Mayang?" Rully berbalik. Dia melihat Gian biasa saja. Tak ada lagi tatapan memuja atau sakit hati. Mungkinkan ini definisi move on bin ikhlas?
"Djarot lebih mengerikan daripada aku, sih. Bisa dibilang, kalau aku gaulnya sama emak-emak yang berhati lembut, Djarot gaulnya sama koruptor, pencuri, penipu, dan mungkin juga pembunuh, tentu dia punya sisi 'kasar' yang agak menakutkan. Aku takutnya, dia memakai sisi itu saat tidak mendapat balasan perasaan dari Mbak Rully."
Rully terhenyak kaget. "Kamu nakut-nakutin aku, ya? Atau kalian bersekongkol untuk membuatku nerima dia?"
Gian tertawa lirih. "Aku pria dan aku hanya melihat dari sisi pria saja. Hanya dugaan lebih tepatnya. Semua terserah Mbak aja, sih ...," kata Gian lebih santai. "Aku ke kamar dulu, silakan Mbak Rully lanjutkan tujuannya."
Gian berlalu pergi, membiarkan Rully bertambah pusing dan galau. Gian tau, semakin kepalamu memikirkan seseorang, maka semakin dekat perasaanmu padanya. Jatuh cinta itu hanya soal sebanyak apa kamu mengingatnya dan dimana kamu meletakkannya dalam benak kamu.
*
*
*
Sorry baru up lagi ... kali ini bukan revisi, tapi pusing karena kurang tidur😄
Eh, bentar ... mau bilang kalau Mayang dipromoin di IG noveltoon😄
__ADS_1