Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
User12345


__ADS_3

Kesibukan pasangan itu bertambah. Gian dan Mayang kembali mengatur agar dalam undangan tertera kalimat yang menyatakan bahwa resepsi ini tidak menerima sumbangan dalam bentuk apapun. Namun keduanya menjalani semua dengan santai. Keduanya selalu penuh tawa.


"Mas ... aku hamil," kata Mayang dengan mata terbuka lebar dan ekspresi tidak percaya melingkupi wajah istri Gian tersebut.


Gian yang memakai celana pendeknya, untuk bergiliran mandi dengan Mayang, mengerutkan kening. "Yang bener?"


"Iya, harusnya aku tanggal ini sudah dua hari menstruasi, tetapi kok masih bersih ya?" Mayang lalu menuju meja dan berniat mengecek tanggal di ponsel yang biasa ia tandai. "Nah, kan ... malah harusnya udah tiga hari."


"Kita test saja, Mai ... takutnya hanya belum." Gian segera memakai pakaiannya tanpa mandi terlebih dahulu. "Ayo ke klinik saja."


"Mas ...," panggil Mayang dengan wajah kesal. "Mandi, ih! Jijik tau, abis begituan kok nggak mandi dan bersih-bersih?" Jam memang sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, tetapi Gian mana pernah ambil peduli. Memompa Mayang sampai menjerit-jerit membuat Gian menyeringai kepuasan. Haih, unyu jadi bangun kembali.


"Nggak sempet, Mai ... Aku keburu penasaran. Beneran hamil atau hanya telat." Gian tentu amat senang dengan kehamilan Mayang meski harusnya Mayang hamil setelah resepsi.


"Mas, plis deh. Mandi dulu, aku nggak mau lihat Mas kuyu kaya cucian abis dikeringkan kelamaan!" Mayang menelisik Gian yang begitu kacau penampilannya. "Lagian ke klinik apa mau pake kolor ijo kaya gitu?"


Gian menunduk. Sikap narsisnya muncul saat ia merasa dipersalahkan. "Biar nggak pake baju dan celana, aku tetap yang paling tampan juga keren."


Mayang memutar bola matanya malas. "Cepetan mandi, dan kita ke klinik, Mas! Jangan narsis kaya anak kecil. Dunia, bahkan debu paling kecil sekalipun merasakan aura ketampananmu."

__ADS_1


"Nah, gini, kan bikin Mas jadi semangat mandi," kata Gian seraya mencium Mayang sekilas. "Love you, Cintaku."


Mayang hanya memanyunkan bibirnya sebagai tanggapan. "Dasar genit!"


Mayang kembali menatap kalender di ponselnya dengan rasa tak percaya. Perasaannya berdebar-debar mengerikan. "Gimana. rasanya hamil, ya? Duh, kenapa aku ngarep ini beneran, ya ...," batin Mayang. Bibirnya mesam mesem tak karuan.


Gian bergerak dengan cepat agar segera sampai di klinik. Tak lupa ia meminta Hani menyiapkan segalanya, agar proses semakin cepat dan mudah.


Secara teknis, ada Aqila yang lahir dalam pernikahan Gian, selain satu yang keguguran karena ulah Anggi. Namun Qila, Gian perkirakan ada, saat Anggia sudah pisah rumah dan telah mengajukan gugatan cerai. Lalu sampai sekarang Anggi tidak menikah, namun Gian selalu tahu sepak terbang mantan istrinya yang kini melanjutkan karirnya sebagai wedding singer.


Tentu kehamilan yang ini menjadi sangat istimewa bagi Gian, ia berharap bayinya perempuan cantik, secantik Mayang.


"Gimana, Han?" Gian tidak memeriksa Mayang sendiri, Hani yang biasa mendampingi.


"Keren banget emang aku, ya!" Gian segera duduk di kursi kebesarannya dan mengambilkan buku berdampak pink dari sebelah kanannya.


"Bu Mai, silakan duduk." Gian mempersilakan Mayang duduk layaknya pasien Gian yang lain.


Mayang hanya mengerutkan hidungnya sebagai jawaban.

__ADS_1


"Jadi di perutmu ada user12345 yang sedang tumbuh, ya, Mai," kata Gian yang mencatat beberapa hal yang Gian sudah hafal dengan benar.


"User apa, Mas?" Mayang melongok ke depan Gian, melihat catatan Gian yang menulis user 12345 pada kolom nama bayi.


"Mas, apa maksudnya itu?"


"Nama calon anak kita yang ada di perut kamu, Mai. Mas harap user12345 akan mampu membanggakan kita sebagai orang tuanya."


"Kamu pikir anakmu gamer." Mayang mendecak keberatan.


"Dari pada bingung cari nama anak, Mai ... sementara pakai itu dulu. User12345, hahaha."


Gian berdiri, lalu duduk di meja depan Mayang. Menarik dagu Mayang lembut. "Aku bakal jadi suami dan ayah yang baik bagi kalian, jadi jangan khawatir."


Gian mencium Mayang dengan parutan yang lembut. "Love you, Mai."


Ah, Mayang balasan Love you, too-nya serasa seret di kerongkongan. Tapi Mayang menubruk pria itu sebagai ganti.


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2