Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Just For Fun


__ADS_3

"Mas!" rengek Mayang.


"Au!" Gian seketika memegangi dadanya yang dicubit Mayang. "Sakit, tauk!"


Gian mengusap-usap ujung dadanya yang terasa panas seraya merengut.


"Aku lagi nanya serius, Mas ... kok jawabnya kaya Deni Cagur gitu?" Mayang kembali mencubit dada Gian hingga pria itu menggeliat, geli juga sakit. Ah, Mayang ....


"May, stop please!" Gian menahan tangan Mayang. "Jangan cubit di situ, kan aku gak bisa balas."


Mayang menggeram kesal. Mata Gian itu sungguh menyiratkan betapa mesumnya seorang Gian.


"Ini biar aku tambah lagi!" Mayang kembali menyerang Gian, kali ini lebih cepat dan kecil-kecil.


"May ...!" Gian sungguh kesal, Mayang sepertinya sengaja. Tak mau dirinya menjadi samsak buat cubitan Mayang, Gian menangkap tangan Mayang dan menekannya halus. Bagaimanapun dia wanita dengan 4 bayi di perutnya. Itu adalah maha karyanya yang susah payah dinantikan selama bertahun-tahun.


"Jangan lakuin itu kalau tidak mau Mas paksa layani Mas malam ini!"


Mayang merinding. Melayani seperti apa itu? Gian dokter, seharusnya dia mengerti ada hal-hal yang seharusnya dihindari walau ... enak. Dan Mayang mau sekali melakukannya. Dia merasa sangat seksi dan nakal jika Gian memintanya melakukan itu.


Astaga ... Mayang kamu berubah jadi liar karena bergaul dengan Gian, ya?


"Hah!" Gian melepaskan pegangannya, lalu kembali melemaskan seluruh tubuhnya. "Ancamanku terlalu enak. Aku tahu kamu pasti suka, May!"


"Kan Mas Gian yang ajarin." Mayang menggigit bibirnya. "Aku rusak ditangan kamu, kan, Mas?"


"Iya!" sahut Gian kesal. Iya, itu memang ulahnya, dia yang bikin Mayang begini, tapi ... Jangan disaat seperti ini dong nakalnya! Kan tidak seru!


Melihat Gian resah, niat mengerjai suaminya itu kian besar. "Mas ... mantan Mas ada berapa? Maksudku yang modelan kaya Bu Hira ada berapa?"


Gian melirik Mayang, dirasa aman, Gian menjawab sedikit sombong. "Nggak keitung, bahkan ada yang sudah menikah. Pas aku kerja sama Dokter Yoga, banyak yang minta aku buat bikinin bayi mereka. Katanya kualitas unggul!"


Mayang merengut. Ini sepertinya malah menjadi boomerang buat dirinya sendiri. "Serius?"


"Iya ...." Gian mengangguk, lalu meminta Mayang merebah di tangannya.

__ADS_1


Saat Mayang sudah meletakkan tangannya di dada, Gian mengusap kepala Mayang, "Tapi kalau aku iya kan, mungkin aku gak dapet wanita cantik dan kaya raya seperti kamu."


"Hah!" Kepala Mayang sontak menjauh. Apa-apaan itu? Jadi hanya dua hal itu yang sebenarnya membuat Gian suka padanya.


Gian menekan kembali kepala Mayang ke pundaknya. "Kalau kamu nggak kaya, nanti aku minta ke siapa kalau kurang dana?"


"Mas serius ih, kenapa dari tadi kamu ngelantur gitu bicaranya?" Mayang mulai kesal. Padahal dia sedang memikirkan yang romantis walau tidak berakhir dengan percintaan yang panas demi si bayi. Ah, rasanya dia ingin cepat-cepat melahirkan dan melakukan sesuatu yang indah itu lagi.


Gian membuang napas, perlahan tangan Gian menuntun tangan Mayang ke alat tempurnya yang sudah siap berperang. "Aku sedang menenangkan dia. Deketan sama kamu, digoda sama kamu, dia mana tahan, May!"


Mayang mendelik, perasaan dingin menjalar bersamaan. "Mas ... kira-kira beneran ndak boleh ya, sampai mereka lahir? Apa ndak ada 'yang terakhir sebelum cuti'?"


Gian menoleh, dan jatuh pada sepasang mata yang mendadak begitu memikat Gian. Jantung Gian berdetak sangat kencang melihat betapa Mayang ingin sekali melakukannya.


Gian bangkit dengan tiba-tiba. "Aku akan hati-hati dan tidak terlalu dalam, Sayang."


"Ah, Mas!"


Gian begitu menggebu saat Mayang terlihat seperti itu. Rasanya lelahnya hilang. Padahal dia berpikir tidak akan ada lagi sesuatu yang menyenangkan sampai lahiran? Ah, ternyata ....


Setan dalam hati Gian tertawa penuh kegembiraan saat melihat pemilik mereka tengah memuaskan satu sama lain. Walau gerakan mereka terbatas, tidak menyurutkan gairah yang ada. Mayang begitu menikmati setiap perlakuan Gian. Pria itu membuatnya seperti wanita paling berharga di dunia.


Jam sudah menunjukkan lewat tengah malam saat Gian menyeka sisa percintaan mereka dari tubuh Mayang. Gian merapikan pakaian Mayang dan membiarkan Mayang tidur dengan tenang.


Astaga ... kenapa Mayang tidur sambil senyum begitu?


Gian sendiri segera tidur usai membalas pesan dari kontraktor yang sedang mengerjakan proyeknya.


***


Pagi harinya, Mayang belum bangun saat dua pembantu tambahan datang, di tambah orang kontruksi yang meninjau lokasi pembuatan lift membuat Gian kerepotan sendiri.


Tak lama kemudian, Rully dan Djarot juga datang. Yah, walau mereka berdua dipastikan hanya akan numpang sarapan saja, tapi yah, Djarot cukup membantu Gian. Dan Rully bisa menghandle pembantu baru itu.


"... jadi kalau mau menghadap ke arah pantai, sebaiknya dari arah sini masuknya." Djarot mengarahkan. "Ini kan kaya space nggak terpakai, daripada kita mesti ke samping dulu, untuk naik ke atas?"

__ADS_1


Gian manggut-manggut. "Aku sebenarnya takut kalau lewat sini akan merusak interior sempurna yang dipilih Mayang, Bro! Ini kan rumah Mayang, aku hanya numpang."


Astaga! Djarot lupa.


"Ya sudah, nanti kamu bicarain dulu sama Mayang." Djarot sepertinya angkat tangan. "Susah sih kalau numpang sama istri."


Sindirian Djarot membuat Gian menaikkan bahu. "Aku suka rumah ini dari pada rumahku sendiri atau rumah bapak. Malah rumahku udah kujual buat modal beli alat medis."


Gian menggaruk hidungnya. Terlihat walau dia mapan tetapi dia masih harus mengatur keuangannya dengan cermat. Beruntung, Mayang sama sekali tidak keberatan atau mungkin belum tahu.


"Yah, asal kamu cintanya sama Mayang tulus mah, itu bisa dimaafkan." Djarot hanya menguji. Dia takut kalau Gian sama seperti mantan suami Mayang yang dulu.


"Aku suka sama dia sejak dia masih istri orang. Aku lihat dia itu menarik, kalem, dan kalau pas lagi tegas, kaya savage nih ... cocok kalau sama aku yang ... yah, kamu lihat sendiri aku kaya gimana! Yang masih suka nggak bisa prioritaskan sesuatu yang harusnya diutamakan."


Gian mengawangkan tatapannya pada ruang kosong yang hendak dijadikan akses masuk lift. Tangan Gian masuk ke saku celana. "Tanpa Mayang, aku mungkin nggak bisa ngerjain proyekku yang sekarang ini, Bro."


Djarot tersenyum. Jika dulu Mayang hanyalah kliennya, kini Mayang adalah adik iparnya. Mereka berdua, menurut Djarot, pas sebagai pasangan. Gian seakan bertemu dengan pawangnya, sementara Mayang bertemu dengan orang yang begitu membutuhkannya.


"Kalian akan bisa mencapai semua keinginan kalian asal saling setia dan menghargai." Djarot menepuk pundak Gian, lalu mereka saling melempar senyum.


"Mas ... sarapan!"


Djarot dan Gian menoleh, lalu keduanya saling berpandangan seraya tertawa lebar.


"Kita saling menemukan pawang masing-masing, ya ...."


Djarot setuju.


"Dan, apa kau nggak bisa pakai foundation biar itu nggak terlalu kelihatan." Gian menunjuk leher Djarot. Bekas merah itu terlihat baru dan segar.


Djarot meraba lehernya. Dia gelagapan.


"Pasti dibuat sebelum ke sini, makanya sampai sarapan di sini!" Gian terkekeh semakin lebar.


Djarot berkeringat dingin. "Astaga ...!"

__ADS_1


Djarot lupa, kalau Rully tadi membuat tanda itu untuk membangunkannya. Gian berpikir kejauhan.


Tapi memang benar sih, selain membangunkan matanya, Rully membangunkan si Dia yang memang sudah bangun lebih dulu. Astaga!


__ADS_2