Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Madu Di Comberan


__ADS_3

Sepatu hak tinggi runcing yang biasa digunakan untuk show yang membalut kaki Anggi patah, sehingga Anggi menentengnya saat berjalan ke sisi jalan untuk memesan taksi. Di sana juga ia melihat Mardian yang tampak kebingungan.


Anggi dan Mardian saling pandang saat keduanya berpapasan. Sekelumit rasa canggung menghinggapi Mardian. Tetapi perasaan terikat pada Anggi membuatnya menyapa terlebih dahulu, kendati Anggi dengan angkuh membuang muka.


"Biar saya bawakan sepatumu, Ha—Anggi." Tangan Mardian terulur dengan tergesa menutupi kesalahan yang meluncur dari bibirnya. Anggi selalu ingin dipanggil Honey, karena keinginan Anggi adalah menjadi madu untuk seorang Mardian.


Jelas Anggi ingin menjadi madu saja, tugasnya akan lebih ringan. Sementara menjadi istri itu merepotkan. "Nggak usah sok manis lagi sama saya, Mas. Mas udah nggak berguna kalau sudah cerai sama Bu Riska." Tangan Anggi menjauh. Matanya sengit menatap Mardian yang menelan ludah kecut.


"Saya masih punya gaji, Anggi ... dan saya tetap punya usaha lain yang lebih dari cukup untuk hidup kita bertiga." Mardian meyakinkan. Lebih dari apapun yang ia rasakan pada Anggi, ia memikirkan nasab putrinya. Entah kenapa ia baru berpikir soal itu setelah beberapa waktu lamanya. Akan berdosa jika suatu saat nanti Aqila akan menikah dan Gian yang dianggap sebagai walinya. Aqila murni darah daging seorang Mardian, mengingat masa itu, hanya dialah yang menyewa Anggi satu bulan penuh. Masa kampanye yang melelahkan, dan Mardian butuh hiburan.


Mata Anggi melirik sinis, "berapa sisa yang akan aku dapatkan setelah dipotong hutangmu dan nafkah untuk anak-anakmu, Mas? Berapa? Untuk perawatanku saja itu tidak akan cukup. Biaya sekolah Aqila saja jutaan satu bulan, belum lagi kebutuhan rumah tangga yang lain. Itu—huek!"


Anggi membekap mulutnya. Perasaan mual itu datang lagi. Dia terlalu stress akhir-akhir ini. Memikirkan Gian membuat pikirannya terbebani.


"Kamu hamil lagi, Nggi?" Mardian terkesiap. Usianya sudah lima puluh lima, tapi bukan masalah jika dia menimang bayi lagi. Bayi dari wanita yang cantik dan menarik.


Mardian meraih bahu Anggi yang kini tak bisa mengelak lagi dari sentuhan Mardian. Tubuhnya dengan pasrah jatuh di dada Mardian. Kenyataan tak pernah mampu berbohong, Anggi selalu butuh Mardian.


"Wah, gundik Bapak hamil lagi?"


Baik Anggi maupun Mardian terkejut bukan main mendengar suara nyaring nan sinis dari arah belakang mereka.

__ADS_1


"Selamat ya, Pak." Suara lain menimpali.


Mardian memejamkan mata, tak habis pikir bagaimana Jihan dan Tyas bisa sampai kemari. Mereka berdua adalah putri Mardian yang tinggal di luar kota bersama suami mereka masing-masing.


"Mas Zafran nitip pesan, lebih baik Bapak tidak usah datang ke rumah Ibuk lagi. Aliya juga tidak mau pulang kalau Bapak masih di rumah Ibuk." Jihan berkata seraya berjalan menghadapi ayah kandungnya. Entah mengapa Jihan jijik sekali dengan pria yang disebutnya bapak itu.


"Tiga anak Bapak adalah wanita, tentu kami tahu betapa Ibuk menderita setiap hari. Bapak sebaiknya menceraikan Ibuk secepatnya, kalau Bapak memang gentle." Tyas juga menghakimi Mardian dengan tegas.


"Kami muak melihat Ibuk nangis tiap malam hanya untuk meratapi pria yang buta akan besarnya cinta Ibuk sama Bapak!" Jihan bersedekap di hadapan pasangan kumpul kebo itu.


Mardian seperti terlindas tronton saat mendengar ucapan Jihan. Ia tak tahu kalau Riska begitu rapuh dibalik sikapnya yang arogan beberapa tahun terakhir ini. Pikirnya, Riska mulai perhitungan dan merasa jauh lebih sukses ketimbang dirinya.


Sementara Anggi, hanya mampu menyembunyikan wajah di dada Mardian. Jihan adalah teman arisan hingga akhirnya ia bertemu dengan Mardian saat arisan di rumah Jihan. Sejak saat itu hubungan Anggi dan Mardian berawal.


"Sebagai pengingat di kepala kamu, Nggi. Kalau ada hati lain yang kamu sakiti seperih dan sesakit ini!"


"Jihan! Hentikan!" Mardian menerima tubuh Anggi yang terpelanting jatuh. Suara pekikan Anggi yang begitu nyaring, menandakan betapa kuatnya pukulan Jihan yang jago bela diri itu.


Jihan tersenyum miring melihat Anggi bersimbah air mata dan merah pipinya karena gamparannya barusan. "Itu kado pernikahan kalian dariku. Selamat menempuh hidup baru."


Jihan dan Tyas bergandengan tangan meninggalkan dua orang yang saling berpelukan di trotoar. Panas matahari sore pasti masih mampu menambah kehangatan kasih sayang mereka.

__ADS_1


"Mas, sakit," rintih Anggi. Mata berlapis softlens abu-abu terang itu berkunang-kunang. Pipinya perih dan terasa sobek di bibirnya.


"Mas antar kamu pulang, Sayang. Kita obati memar di pipimu." Mardia mencoba memapah Anggi, namun tubuh wanita itu lemas dan lunglai.


"Mas aku nggak kuat!" Anggi jatuh pingsan di pelukan Mardian yang panik.


"Anggi-Nggi!" Mardian mengguncang tubuh Anggi yang berkeringat dan dingin. "Astaga."


Mardian berteriak minta tolong pada beberapa orang yang ada di sekitar. "Panggilkan taksi, Pak. Tolong istri saya!"


"Wah, taksi pasti lama datangnya lagi, Pak. Gimana kalau pakai mobil saya saja. Kalau mau sih, kebetulan saya abis angkut pasir di belakang gedung ini. Agak kotor tapi daripada si Ibu tidak tertolong." Pria berpakaian kotor penuh pasir itu menawarkan.


Mardia berpikir sejenak, lalu mengangguk. Biar sajalah, dari pada Anggi tidak kelamaan mendapat pertolongan, apalagi ada bayi di perut Anggi.


"Ya sudah, nggak apa-apa, Pak. Mana mobilnya?"


"Itu, Pak!" tunjuk pria itu pada sebuah truk tua dengan bak berkarat dan penuh pasir bercampur air. Ah, sudah pasti selain kotor juga bau sekali itu. Bau comberan.


Mardian membuang napas sebelum menggendong madunya ke atas bak truk tersebut. "Maaf, Sayang."


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2