
"Kita akan tinggal di tempat seperti ini, Mas?" Lea menatap sekeliling ruangan yang akan menjadi tempat tinggalnya. "Yakin kamu, Mas?" Ia segera mengalihkan perhatiannya pada Ferdi yang sibuk memasukkan barang-barang mereka. Setelah beberapa hari di rawat Lea akhirnya diperbolehkan pulang, Ferdi agak memaksa, karena bayaran perawatan terus membengkak, dan dia tak akan mampu membayarnya.
Ferdi tahu Lea akan bereaksi seperti itu, sehingga ia memilih menyibukkan diri ketimbang mendengarkan keluhan Lea. Kamar berukuran 4x4 itulah kos-kosan yang mampu ia bayar untuk mereka tinggal sementara.
"Mas?!" Lea memprotes, "kamu mau bikin aku malu sama teman-temanku? Ini ... ini nggak layak buat aku tinggali, Mas! Anjing saja masih diberi tempat yang layak dari pada ini!"
Ferdi menghela napas, ia menyeret koper terakhir yang baru diturunkan dari mobilnya. "Nanti kita pindah ke rumah yang lebih besar, kalau udah mapan hidup kita. Ini hanya sementara, Le ... lagian kamu belum bisa urus rumah yang lebih gede, kamu belum sembuh benar."
"Hah ...," Lea menertawakan alasan Ferdi yang agak mengada-ada itu. Ia sampai berkacak pinggang saking kesalnya. "Kamu aja kere dan bodoh, Mas ... kapan akan mapan? Ngayalmu terlalu berlebihan."
"Tolong jaga ucapan kamu, Le ... kayak gimana juga, aku ini suami kamu. Nggak boleh kamu ngatain aku kayak begitu!" Ferdi berkata sangat lembut. Ia ingat Mayanga bertekuk lutut padanya karena kata-kata lembut dan penuh perhatian. Semoga ini bekerja pada Lea.
"Tapi itu kenyataan, kan, Mas ... jadi kenapa aku tidak boleh mengatakan yang sebenarnya?" Lea membalas tatapan Ferdi dengan berani.
Ferdi membuang napasnya dengan kasar. Ia ingin menjawab, tetapi segera diurungkannya. Dia lelah setelah bekerja dan kini harus berdebat dengan Lea hanya soal tempat tinggal. Ferdi memlih kembali membuka koper dan mengambil handuk untuk pergi mandi.
Lea mencibir suaminya yang lemah mentalnya itu. "Dasar miskin! Bisa apa aku di kos mau roboh begini?Bisa gatel-gatel aku tidur di tempat jelek begini."
Lea memeriksa satu persatu isi kamar ini. Satu kasur busa yang sudah tipis, sprei usang,lemari plastik, dapur dengan kompor satu tungku, kamar mandi yang tampaknya hanya berisi timba bekas cat sebagai penampung airnya. "Berapa harga sewa tempat kumuh kayak gini?" kritik Lea.
__ADS_1
Ia terus mengeluh dan mengkritik, meski itu hanya sarung bantal yang terkena noda permanen, sampai bibirnya terasa lelah dan perutnya terasa lapar. Lea langsung menarik bungkus makanan yang mereka beli dalam perjalanan kemari. "Hadeh, Mas ... aku bisa jadi orang miskin beneran kalau makan nasi sama urap daun singkong kayak gini!"
Lea membolak balik makanan di depannya. Ada urap daun singkong dan cambah, lauknya tempe dan telur rebus separuh. Kendati demikian, Lea melahapnya juga, sampai tak bersisa. Matanya sempat basah. Dulu ia sering makan makanan seperti ini saat ibu dan bapaknya masih merantau, Lea dititipkan sama neneknya yang serba kekurangan. Masa itu jauh sebelum orang tuanya bekerja pada Rianti. Makanan itu begitu istimewa, meski tidak ada lauk sama sekali. Kini, Lea seperti dilempar ke masa lalu, dimana dia harus menelan ludah ketika teman-teman sebayanya mempunyai barang bagus dan hidup berkecukupan.
Lea mengambil ponsel usai meremas bungkus makanan yang sudah berpindah isinya ke lambung Lea. Dia akan menghubungi orangnya yang ada di Selera. "Jika uang Mayang tak bisa dicuri lagi, sarang walet di bawah pasti luput dari pengawasan. Mayang pasti tidak akan sadar kalau sarang waletnya ilang."
Dengan senyum terkembang, ia mengetikkan pesan pada orang itu. Ia tak jadi menelpon, karena air kran dalam kamar mandi sudah mati. Lea berencana tidak memberitahu Ferdi soal ini, suaminya itu sibuk meratapi mantannya, dan tidak mengizinkan sang mantan tersentuh.
Usai makan, Lea merebahkan tubuhnya di atas kasur yang memang kurang empuk. "Ya ampun ... bisa sakit semua badanku kalau tiap hari tidur di kasur kaya triplek gini. Cepet tua kalau tidurku nggak nyenyak."
Bibir Lea mengeluarkan kuap. Matanya mulai berat. Ia tertidur tanpa sadar, dan terbangun pagi-pagi sekali saat suara berisik tetangga kosnya menghampiri telinganya.
"Ampun dah ... orang miskin suaranya berisik sekali!" Lea menutup kupingnya dengan bantal, tetapi suara di luar masih jelas terdengar.
"Sarapanku sudah kamu belikan?" tanyanya langsung ketus.
"Sudah, kamu tinggal makan. Semua baju juga sudah aku cuci ... kamu tinggal jemur nanti kalau sudah panas." Ferdi menunjuk bungkusan makanan di meja dapur yang sangat kecil, lalu beralih ke sebuah bak, yang penuh dengan cucian.
"Hadeh, Mas ...." Lea semula mengikuti kemana Ferdi menunjuk, kini dia menatap suaminya malas. "Kenapa kaya orang susah, sih ... nanti aku ke londrian aja, nyucinya. Aku punya uang banyak kalau kamu nggak mau keluar uang lebih untuk urusan itu."
__ADS_1
"Selagi masih bisa dikerjain sendiri, kenapa harus keluar uang, Le?" Ferdi mencoba tetap sabar dan istikomah sebagai suami yang baik. "Uangnya bisa buat yang lain."
"Hadeh, bicara sama orang miskin susah ya? Taunya cuma ngirit aja!" keluh Lea.
"Nanti mobilnya akan aku jual, Le ... biar kita bisa beli rumah." Ferdi mencoba tuli akan cemoohan Lea. Rasanya setelah Mayang tak bisa lagi digapai, lebih baik ia menata masa depannya yang baru. Ia mencoba untuk mendidik Lea menjadi istri yang baik. Ucapan Mayang kemarin lalu membuat Ferdi banyak berpikir.
"Apa, Mas?" Lea mendelik tajam, membuat Ferdi yang melamun jadi terkejut. "Mobilnya di jual?"
"Iya ... Mas nggak sanggup lanjutin cicilannya. Kita naik motor saja, yang lebih murah. Gajiku nanti bisa dialihkan pada keperluanmu yang lain." Ferdi menjelaskan.
"Tidak!" pekik Lea. "Mobil tidak boleh dijual, nanti aku ditertawakan orang kalau pakai moyor butut!"
Astaga! Ferdi mengusap wajahnya. Begini banget ujian orang yang ingin ke jalan yang bener.
__ADS_1
*