Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Tidak Berharap Ini Yang Terjadi


__ADS_3

Untuk kehamilannya yang special, Mayang tidak boleh banyak berjalan dan bergerak, juga tidak boleh lelah. Sehingga waktu-waktu senggangnya, digunakan untuk bermalas-malasan di sofa. Makan buah dan menonton drama.


Sore ini, Mayang hanya menyaksikan saja Gian sibuk mengawasi pekerja pembangun lift, sepulang bekerja. Memakai kemeja putih, celana bahan tanpa ikat pinggang, Gian berkacak pinggang. Dari posisi ini, tampak sangat menawan sekali. Punggung dan tangan yang begitu kekar, juga sepasang kaki yang begitu kokoh dan seksi. Ugh, Mayang begitu menggilai postur suaminya itu.


"Ck, berhenti memuja suamimu berlebihan, kayak dia paling cakep saja di dunia ini!" Rully menjatuhkan tubuhnya tepat di sebelah Mayang. Aroma wangi khas salon menguar bersamaan. Mayang menutup hidung.


"Ya kali aku mengagumi Pak Djarot, Mbak!" Mayang mencibir seraya menjauhkan tubuhnya. "Mbak baunya kayak obat rebonding! Mandi sana!"


Rully lagi-lagi mencibir, "Kamu kok sensi banget, sih, May ... dulu nggak suka bau Gian, sekarang nggak suka bauku, besok bau siapa lagi? Bau Mas Djarot?"


"Ya mana aku tau, itu bukan kemauanku! Lagian bayinya empat, pasti keinginannya beda-bedalah!" Mayang membenahi posisinya, menatap sang kakak begitu jutek. Tangannya membuat gerakan pengusiran yang halus.


Rully memasang wajah tak suka, lalu berdiri dengan gerakan cepat. "Emang dasarnya kamu itu tuan putri, jadinya manja, deh!"


"Rasakan sendiri kalau kamu hamil nanti! Tak sumpahin kamu ndak bisa makan apa-apa dan ndak mau deket-deket Pak Djarot!" sumpah Mayang dengan suara keras.


Rully mengibaskan tangannya tanda tak peduli. Sudah sejauh ini dan dia belum ada tanda-tanda hamil. Ah, dia masih santai ... mungkin karena kelamaan jadi perawan, sehingga Tuhan membiarkan mereka masa pacaran setelah menikah lebih lama.


Mayang mendengus, lalu kembali menonton drama yang disukainya.


"Mayang ... Mayang!"


Samar-samar terdengar suara memanggil namanya dari arah luar rumah, Mayang bergegas bangun dan duduk tegak. Mencoba memastikan suara itu benar memanggil namanya. Gian pun mendengarnya, pria itu melongok keluar.


"Siapa May?" tanya Gian seraya melongok lebih jauh. Suara itu tidak menampakkan wujudnya.


"Ndak tau juga, Mas." Mayang berdiri dengan menumpukan kedua tangannya ke sandaran sofa untuk membantunya bangun. Langkahnya begitu hati-hati ke menuju pintu depan.


Di halaman sudah ada pembantu Mayang yang memeriksa luar pagar.

__ADS_1


"Siapa, Yu As?" tanya Mayang pada pembantu tersebut.


"Anu Bu ... mungkin ibu yang kehilangan anaknya. Sudah jauh, jadi saya cuma lihat punggungnya saja " Pembantu bernama Asminah itu berjalan terburu-buru mendekati Mayang. "Rada ndak waras."


Melihat Asminah menyilangkan telunjuknya di kening, Mayang membuang napas. "Tak pikir manggil aku tadi, Yu."


"Mungkin nama anaknya sama kali, Bu, sama nama Ibu." Asminah membantu Mayang kembali ke dalam rumah. "Ibu mau makan buah apa lagi? Tina lagi nganggur, katanya tambah pembantu jadi banyak nganggurnya."


"Kenyang, Yu ... aku bisa ngantuk kalau kebanyakan makan." Mayang tersenyum. "Sekarang dinikmati aja waktunya nganggur, nanti kalian semua bakal tak repotin dengan suara bayi yang berisik."


"Kalau soal itu mah, rebes Bu, pokoknya Ibu tau beres. Ibu duduk dan nyusuin dedek bayi, nanti soal yang lain, jadi urusan kami berempat." Pembantu yang sudah memiliki cucu itu memang tidak diragukan lagi. Semua beres di tangannya. Tina dan dua yang lain selalu kompak meski belum lama bekerja sama.


Mayang tertawa melihat kesigapan Yu Asminah yang sudah lama ikut bekerja dengannya ini. Tetapi ketika mereka baru saja akan masuk ke ruang tamu, pintu pagar digedor dari luar. Seseorang di sana meneriakan nama Mayang sekali lagi.


"Mayang, Mayang!" Tangan kurus keriput itu menjulur ke dalam pagar, melambai seolah ingin Mayang mendekat.


Mayang mencoba mencermati suara itu dan dia sepertinya kenal. "Tunggu, Yu As! Itu kayaknya suara ...?"


"Mayang, ini Ibuk, Nak ... Ibuk tau kamu di rumah mewah ini! Buka pintunya, Nak ... buka!"


Mayang terkesiap, mengingat suara itu adalah suara mantan ibu mertuanya. Lantas Mayang menepuk pundak Asminah keras dan cepat. "Yu As buka pintunya, Yu ... itu ibunya Mas Ferdi."


Asminah gelagapan, lalu mengangguk dan berkata terbata-bata. "I-iya, Bu."


"Tunggu!" Gian menghentikan langkah Asminah. Wanita itu menoleh dan sedikit bingung. Mayang juga. Apa Gian tidak suka?


Sejenak Gian menatap Mayang, lalu beralih ke Asminah. "Biar aku saja ... kamu tunggu di sini, May."


Mayang patuh, dia tidak banyak mengeluh. Gian pasti tau apa yang dilakukannya.

__ADS_1


Asminah menyingkir, lalu mengekor Gian karena dia juga penasaran. Seperti apa rupa mantan mertua majikannya yang begitu tega membuat Mayang tersiksa selama menjadi mantunya.


Gian membungkuk, berniat memeriksa dulu apa benar itu adalah Marini, tetapi ucapan orang itu sungguh membuat Gian kesal bukan main.


"Alhamdulillah, Pak Satpam ... tolong panggil Mayang. Ini ibu mertuanya, Pak. Saya udah lama nunggu di sini dari pagi, masa ndak dibiarkan masuk. Saya ini mertua majikanmu, jadi kamu akan dapat masalah bila ndak izinkan saya masuk!"


Asminah sesaat terbengong, lalu menutup mulutnya untuk menyembunyikan tawa.


Gian mendengar itu dan semakin kesal. Andai wanita tua ini tidak pikun, Gian siap mengajaknya duel. Masa ganteng begini dibilang satpam?


"Ibuk ... maaf sebelumnya, tapi Mayang sedang istirahat karena sedang hamil anak saya." Gian berkata setengah kesal.


Sorry to say, ya, Bu! batin Gian dongkol.


Marini sedikit tersentak, tetapi jangan panggil Marini kalau tidak bisa ngeyel. "Oh ... kamu ngaku-ngaku, ya! Suami Mayang itu anakku! Masak Mayang mau sama satpam buluk jelek miskin kayak kamu! Anakku jauh lebih baik dilihat dari manapun. Pegawai P**M, bahkan dipromosikan jadi kepala! Seenak udelmu ngaku-ngaku!"


"Mas ...!" Mayang memanggil, Gian menoleh. "Bawa saja kemari, aku ndak apa-apa kok!"


Gian menghela napas, mengatasi rasa jengkel yang sudah mengepul di ubun-ubun. Buluk, jelek, miskin? Ya Tuhan ....


Gian akhirnya membuka pintu dengan bantuan Asminah, yang masih menahan tawa mendengar olok-olok wanita tua itu.


Marini terpampang dengan senyumnya yang begitu bengis. Meski keriput dan kulitnya berkerut-kerut, tapi wanita itu sungguh berbudaya. Pikun saja masih modis, gimana pas masih waras? Baik Asminah maupun Gian hanya menggelengkan kepala.


"Lah, yok ngene seko mau, lak yo penak to urusane! Awas kalian berdua, tak adukan Mayang biar dipecat!" Marini menuding muka Gian dan Asminah, membuat Asminah nyaris terjungkal karena tertawa.


Marini langsung memasang wajah bangsawannya, meski penampilannya begitu dekil, rambutnya acak-acakan dan putih semua, kulitnya hitam dan berkeringat, baju kutu baru-nya sudah hilang beberapa kancingnya, robek di beberapa bagian, juga kain jarik batik sudah banyak yang koyak.


Mayang miris melihat penampilan sang mantan mertua. Tanpa sadar air matanya jatuh, bibirnya berkata pelan seraya mengusap perutnya yang menggembung. "Amit-amit jabang bayi."

__ADS_1


__ADS_2