
Melihat Mayang meninggalkan pesta, Gian meminta Rully menemani Mayang ke hotel. Gian tentu tidak enak hati pergi begitu saja tanpa berpamitan dengan kawan-kawannya.
"May, aku tinggal sebentar kamu nggak apa-apa kan?" tanya Rully pas sampai di depan pintu kamar hotel yang ditempati Mayang.
"Kemana?" Mayang bertanya tanpa memandang kakaknya yang masih berdiri di luar pintu.
"Beli pembalut," jawab Rully asal. "Udah ya, keburu kemana-mana ini." Ia berlari meninggalkan Mayang yang baru menoleh saat kakaknya sudah lenyap dari sana.
"Ih, bohongnya suka keterlaluan. Abis dateng bulan kok udah dateng bulan lagi?" Mayang mencibir, tapi merasa aneh juga ketika Rully main rahasia dengannya. "Apa dia dapat gebetan temannya Mas Gian, trus dia balik ke sana lagi?"
Mayang membuang napas lalu menutup pintu kamarnya. Setelah mandi, dia akan tidur sampai puas. Lelah sekali rasanya hari ini. Sekaligus lega karena semua berjalan sesuai rencana.
Namun hal yang tidak sesuai rencana justru datang pada Djarot yang malam ini harus lembur karena urusan Riska. Sosialita itu minta besok surat gugatan cerainya sudah masuk ke pengadilan. Bagi Djarot itu bukan hal yang sulit, tetapi ia sama sekali belum punya bekal untuk gugatan itu. Riska sudah beberapa kali konsultasi dengannya soal perceraian itu, termasuk hak asuh anak dan harta gono gini yang Riska sendiri sebenarnya sudah memberikan gambaran, mana saja yang merupakan harta bersama. Namun, karena pikirannya sejenak oleng pada Rully, jadi Djarot agak sedikit lupa.
"Pak, saya boleh tidur?" tanya Roni yang sudah berkali-kali menguap. Sedari tadi Roni hanya bisa memperhatikan apa yang dilakukan atasannya itu tanpa bisa membantu. Kalau fotocopy adalah tugasnya, selain itu ya, paling antar-antar dokumen ke klien. Atau bikin kopi.
"Kamu kaya kerja rodi aja, jam segini udah ngantuk." Djarot meregangkan tangannya dengan menggerak-gerakkan jemari. "Sana beli susu jahe di angkringan Mas Eko. Biar mata kamu nggak inget-inget bantal terus. Kaya ditungguin bini aja pake gaya sok ngantuk. Tuh yang nungguin kamu nyamuk betina yang demen ngumpet di sarang kamu!"
Roni mencebik kesal. Sudah galak, kaku, suka bener lagi kalau ngomong! Dasar Pak DJ ...!
"Mau nggak?!" Melihat Roni yang tampak kesal, tangan Djarot tak jadi mengambil dompetnya.
__ADS_1
"Ya mau, toh, Pak ... masa ya, nolak! Mana duitnya," ucap Roni dengan tangan terulur ke depan Djarot. Lalu uang seratus ribuan mendarat di tangan Roni. "Semua nih, Pak?"
"Iya, kalau mau kamu perutnya kepanasan dan gumoh-gumoh!" Djarot menatap Roni yang langsung nyengir karena ketahuan pura-pura tidak tahu berapa jumlah susu jahe yang harus ia beli.
"Sama sate jeroan, telur puyuh, dan tempe mendoan, ya, Pak?" tanya Roni.
"Ndak ... susu jahe aja. Hemat uang, buat modal kawinin Rully." Djarot menyahut asal, kemudian tanpa menghiraukan Roni lagi, Djarot meraih ponsel yang ia senyapkan saat bekerja.
"Gusti ... uang Bapak ndak bakal abis meski Bapak beli sekalian sama Mas Ekonya. Duh, selain galak, pelit juga ya, bosku ini." Roni melesat usai berkata demikian, membuat Djarot meradang kesal hingga mendesiskan umpatan.
Djarot kembali tekun pada pekerjaan, karena ponselnya telah sepi dari whatsapp Rully. Bukan karena Rully tak mengiriminya pesan, melainkan Djarot tak membalasnya satu pun.
Tanpa buang waktu, Rully bergegas masuk ke pagar bercat perunggu itu. Rully datang tanpa persiapan sehingga ia bingung mau melangkah ke mana. Hanya pintu teralis samping yang terbuka dengan beberapa anak tangga di sana.
Rully masuk melalui lorong itu, lalu berbelok ke sebuah ruangan dengan pintu kaca gelap. Mata Rully terus saja mengawasi rumah yang sekaligus menjadi kantor Djarot.
"Cepet banget, Ron ... nggak antri?"
Rully beristigfar saking kagetnya melihat seseorang yang berambut lebih manusiawi ketimbang sebelumnya duduk menunduk di kursi dengan meja paling lebar di ruangan ini.
"Dek Rully ...." Djarot terperangah sampai berdiri ketika matanya tak mempercayai objek yang dilihatnya.
__ADS_1
"Mas—eh, Pak Djarot?" tanya Rully berintonasi heran.
"Beneran ndak mau jadi jodohku, ya ... sampai sebegitunya, malam-malam datang kemari?" Djarot tersenyum miris. Padahal tinggal dua minggu lagi, tapi hangus lagi. Secara kasat mata, Djarot sudah menahan diri tiga minggu lamanya.
Rully bingung, tujuannya kemari kan mau mencari penjelasan kenapa tidak datang ke acara Mayang, kenapa tidak membalas pesannya, kenapa menanggapi komentar genit para wanita yang hinggap di setiap postingan Reel Djarot. Bukan mau bilang tidak mau jadi jodoh Djarot. Rully ingin Djarot berhenti memposting aurat indah pria itu saja.
"Kemarikan hape Pak Djarot!" perintah Rully dengan tangan terulur. "Atau mau aku ambil sendiri?"
"Buat apa?" Djarot menyembunyikan ponsel yang tergeletak di antara kertas-kertas yang baru saja ia lengkapi isinya.
"Mau hapus media sosial Pak Djarot agar tidak genit lagi posting-posting aurat Bapak! Biar nggak ada dosa yang mengalir di hape Bapak dengan membuat para wanita di luar sana berpikir macam-macam dan mengundang syahwat lawan jenis!" Rully mendelik galak dan dengan tegas meraba-raba meja Djarot.
Djarot hanya menanggapi santai, membiarkan Rully kalap terbakar amarahnya sendiri. Ketika Rully menemukan benda yang agak disembunyikan, Rully menatap Djarot bak orang kesurupan setan pemarah. Pasti ada yang disembunyikan di sana. Jari Rully dengan cepat menggulir layar ponsel Djarot, dan mencopot beberapa aplikasi media sosial.
"Udah belum, Dek? Atau nggak bisa?" tanya Djarot mengejek. "Wong yang posting Roni, kok ... bukan aku. Ya yang pasti ada di hapenya Roni."
Rully membelalak ....
Apah?
Tatapan horornya yang tajamnya melebihi tatapan Ayu di kkn desa penari, membuat Djarot memainkan lidahnya di bagian dalam pipi. Rasain kamu, Rull! batin Djarot puas.
__ADS_1