Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Menghalau Noda Membandel


__ADS_3

Mayang mengantarkan Rully sampai ke mobil, perasaannya jauh lebih baik. Setidaknya, yang semalam telah terobati.


Mengingat semalam, Mayang segera ingat untuk memanggil Lea. Ia memutar kakinya ke dapur dimana Lea bekerja.


"Le ... ikut aku ke ruanganku!" Mayang setengah berteriak ketika mendapati Lea batu saja meletakkan tasnya. Mungkin dia baru saja menjual perhiasan atau tanahnya, entahlah. Mayang tersenyum sinis.


Lea mencebik. Pikirnya, Mayang akan memaki ataupun menghajarnya soal semalam. Dia tidak peduli, dia sudah menang. Entah apa yang dipikirkan Mayang, sampai sudah melihat suaminya berselingkuh, tetapi tidak juga mengambil tindakan apa-apa, malah mau memberikan kejutan untuk mertuanya. Dasar bodoh!


"Mulai besok, kamu ndak usah kerja lagi disini!" Mayang menghadapi Lea ketika sampai di ruangannya. Dia berdiri angkuh dan dingin, seolah menunjukkan dialah pemilik semua ini.


Lea mendenguskan tawa sinis, "Hanya seperti ini saja keberanianmu, Mayang?" Ekspresinya meremehkan, jelas sekali ia merasa menang. "Jadi kamu hanya berani menggertak aku, dan berpikir hanya aku yang tergila-gila sama suami kamu? Kamu pikir, suami kamu itu cinta sama kamu? Sampai kamu hanya menindasku saja?"


"Aku tahu," tukas Mayang dengan keras dan ketus. "Perselingkuhan tidak mungkin hanya dari satu orang, tapi dua orang yang sama-sama gila. Tidak masalah kalau soal itu, Le ... ambil saja suamiku itu. Aku berikan secara suka rela, toh aku ndak terlalu rugi." Mayang mengendikkan bahu, lalu siap melanjutkan.


"Bagiku, kebahagiaan bukan soal siapa yang bersamamu tetapi bagaimana kamu bahagia dengan dirimu sendiri. Dan pemberhentianmu, bukan soal semalam karena aku telah melihat kamu bercinta dengan suamiku, tetapi karena rumah makanku ini akan ternoda oleh kotoran macam kamu jika kamu masih terus nempel di sini."


Lea membeliak, marah dan tak terima. "Baik! Aku juga tidak sudi kerja di rumah makan kampungan dan kumuh seperti ini. Aku akan punya rumah makan yang jauh lebih baik dari semua kepunyaanmu!" teriak Lea. Suaranya menggema, membuat telinga Mayang sakit.

__ADS_1


"Silakan keluar kalau begitu! Aku tunggu pembukaan restoran mewah kamu, Lea ... dan undangan nikahmu juga. Kurasa kamu tak punya barang-barang untuk di kemasi, jadi sekarang juga kamu pergi dari sini!" Mayang santai menanggapi.


Lea masih sempat menatap Mayang dengan tajam, seolah sedang menandai detik ini, seakan sedang mengucapkan sumpah agar hatinya juga ikut mengingat dimana dia sudah dicampakkan. Dengan menyentak gerakan memutarnya, Lea meninggalkan ruangan Mayang.


Mayang menghembuskan napas lega, lalu ia ikut keluar dan melihat Lea sampai benar-benar pergi dari rumah makannya.


"Wita, katakan pada semuanya, setelah ini jika Lea datang, tolong diusir, jangan biarkan dia masuk!" perintahnya pada Wita yang juga sedang bingung dengan pemecatan Lea. Namun, Wita hanya mengangguk dan tak ingin bertanya lebih lanjut.


"Nduk ... Mayang, Cah Ayu!" Mayang baru saja akan berbalik kembali ke ruangannya, tetapi suara dari Marini membuatnya menoleh.


Wanita sepuh itu tergopoh-gopoh mendekatinya. Wajahnya berseri-seri. Semalam Marini ke rumah saudaranya, dan mungkin baru pulang siang jelang sore kali ini.


"Nduk, ayo ke Arumndalu ... Ibuk habis nawarin tanah dan sawah buat bantu kamu beli Arumndalu," kata Marini girang. "Mau di beli mahal loh, Nduk. Paklik-Paklik Ferdi kan kaya semua, jadi pas Ibuk bilang segini, pada rebutan, katanya ... murah bangetz!"


Jantung Mayang hampir copot mendengar ini. Darimana Marini tahu soal ini? Apa Ferdi yang membocorkan? Mendadak Mayang merasa tak enak hati dan bersalah pada mertuanya ini.


"Buk, uangnya sudah cukup, kok ... sebaiknya ndak usah jual sawah sama tananhnya, itu kan hak milik Ibuk!"

__ADS_1


"Halah, wes!" Marini mengibaskan tangannya, tak peduli dengan perkataan Mayang. "Pokoknya kamu ndak boleh nolak, ini saja yang bisa Ibuk lakukan buat bantu kamu. Wes ndak usah kelamaan mikir, kita ke sana sekarang. Ibuk mau lihat-lihat calon rumah makan Ibuk!"


Mayang mengerjap, lalu karena tarikan Marini, Mayang tak bisa lagi menolak. Astaga, bagaimana ini? Mayang sungguh tidak siap dengan semua ini.


"Gusti, tolong hambamu ini," batin Mayang memohon.


*


*


*


*


3 bab untuk hari ini done😄 dah othor mau masak😄😄😄 kalian sih, ndak pada mau ngirimin aku makanan, malah suruh update mulu🤧 untung akunya mau, kalau enggak gimana?🙄


😄😄😄😄

__ADS_1


Dearly


Misshel❤


__ADS_2