
Benar saja, Nika dan Yeni masing-masing mengomeli Mayang karena mereka berjongkok sepagian menanti pintu pagar rumah Mayang terkunci.
"Bu Mayang kalau joging nggak perlu kunci pager juga! Toh barang berharganya nggak ada!" sembur Nika saat melihat Mayang turun dari Yariz berwarna citrus.
"Sembarangan!" Mayang mengulurkan satu set kunci kepada Nika.
"Yang berharga kan tinggal aku, soalnya Ibuk sudah laku. Sudah diodel-odel(dibuka sembarangan) oleh Pak Gian semalam." Nika cengengesan menggoda Mayang. "Iya, kan? Bu May nyamperin Pak Gian ke klinik sampe kesiangan begini?"
Tuduhan itu benar, tapi yang membuat Mayang kesal adalah suara Nika yang mirip toa tukang jamu di pasar. "Ih, sok berharga, padahal rencengan," balas Mayang sambil menoyor kepala Nika.
"Ish, Ibuk! Jilbab saya berantakan gara-gara Ibuk, nih." Nika memberengut, ia sibuk memegangi jilbab warna coklat susu yang membalut kepalanya.
Mayang mencibir dan mendecak. "Halah, sok cantik. Nanti saya ganti dengan yang baru kalau cuma jilbab mah. Berapa sih, harganya?"
"Mahal lah!" jawab Nika sewot.
"Tiga puluh ribu di olshop, Bu," sahut Yeni santai. "kena diskon tanggal cantik 98% dan gratis ongkir."
"Ish, buka rahasia kamu, Yen!"
Yeni hanya menaikkan bahu dan bergegas masuk. Membiarkan Nika dan Mayang berdebat masalah sepele. Dua orang itu memang dekat dan akrab, juga saling menjahili.
"Ibuk dah janji, ya, mau beliin aku jilbab gini lagi!" todong Nika.
Mayang mencibir. "Kecil, asal kamu hari ini bantu-bantu saya nyiapin sesuatu."
"Siap bosku!" Nika mengacungkan ibu jarinya dengan senyum semringah.
Mayang tersenyum sebagai jawaban, lalu menoleh ke arah mobil lagi. "Eh, suami saya ketinggalan di mobil, mungkin dia ketiduran."
Mayang berlari kecil ke arah mobil, membuat Nika menganga. "Orang cantik mah, punya suami ganteng juga tetap bisa lupa."
__ADS_1
Nika melihat Gian turun dengan muka bantal yang kiyowo sekali. "Uh, gantengnya nggak ilang meski baru bangun tidur. Astaga, itu pria apa jelmaan dewa."
"Ayok, masuk! Mau jadi patung selamat datang?" Ajakan Mayang mengetuk kesadaran Nika yang sejak tadi memandangi Gian. Nika hanya cengengesan tak jelas sebelum berlari secepat kilat ke dalam rumah yang sudah dibuka Yeni.
Kesadaran juga sudah menghinggapi Lea, tetapi badannya masih sangat lemas dan perutnya terasa nyeri. Matanya menatap kosong ke luar ruangan yang terdiri dari empat bed ini. Ia sedang menebalkan hati, mengusir rasa simpati. Baginya, yang pergi dan tidak akan kembali, tidak perlu diratapi, toh nanti dia bisa membuat lagi.
Bohong jika dia tidak kehilangan, sebenarnya. Tetapi ada orang yang layak disalahkan dalam hal ini. Kehidupannya yang tenang berubah kacau karena Mayang. Mayang membuat semua rencananya tak bisa terlaksana.
"Mas ...!" panggil Lea pada Ferdi yang merebah di ranjang sebelah. Kebetulan ruangan ini hanya terisi dua pasien, jadi Ferdi bisa tidur semalaman di ranjang sebelahnya.
Yang dipanggil rupanya asyik melamun. Dia memikirkan cicilan. Gajinya hanya tiga juta lebih sedikit, sementara cicilan mobil dua setengah juta. Lima ratus ribu bisa apa? Belum lagi hutang di koperasi karyawan. Kenapa soal uang selalu ruwet?
Gaji Ferdi termasuk besar untuk ukuran standart gaji di kota ini, bahkan di atas UMR yang ditetapkan. Jika kelola oleh orang yang benar, gaji sebanyak itu, cukup untuk menghidupi dua kepala seperti rumah tangga Ferdi.
Sayangnya, kegedean gengsi jadinya pusing sendiri.
"Mas!" Lea mengulangi dengan suara membentak.
Ferdi langsung bangkit, duduk di tepi ranjang, dan menatap Lea yang menatapnya dengan tatapan penuh kekesalan.
"Ngalmunin apa, sih, sampai nggak denger panggilanku?" Lea berteriak saat menanyakan itu.
Ferdi bergegas bangkit, lalu membungkam mulut Lea, yang langsung ditepis Lea dengan kasar. "Jaga bicaramu, Lea ... malu dilihat orang!" pinta Ferdi dalam bahasa lirih mendesis penuh penekanan.
"Biar saja semua orang tau kalau kamu itu laki-laki beristri yang masih suka mikirin mantan!" bentak Lea.
Orang di seberang ranjangnya memalingkan wajah. Malu sendiri melihat kelakuan kasar Lea.
"Ya, ampun Le ... kamu ini bener-bener nggak waras, ya!" Ferdi sama sekali tak mengerti kemana arah pikiran Lea berjalan. "Apa hanya cemburu saja yang ada di kepalamu?"
Ferdi mundur, duduk di tepi ranjang lagi.
__ADS_1
"Aku itu nggak cemburu, Mas ... kaya laki-laki cuma kamu aja di dunia. Aku hanya nggak suka kamu banding-bandingkan aku sama Mayang! Jelas aku yang paling baik!" Lea kembali bersuara keras.
Ferdi tampak geram disepelekan Lea, tetapi ia tak mau kehilangan muka di depan orang lain. Setidaknya tidak disini dia memberi Lea pelajaran.
"Terserah kamu mau bilang apa!" Ferdi lanjut merebahkan diri, "Percuma saja ngomong sama orang gila!" sambungnya bergumam.
"Mas! Aku belum selesai bicara, ya!" Lea berusaha menggeser tubuhnya, ia ingin menarik Ferdi agar bangun dan memberinya atensi penuh. Namun karena masih sakit di perutnya, Lea hanya berteriak-teriak memanggil Ferdi.
Teriakan Lea baru berhenti saat seorang petugas klinik yang tidak ada hubungannya dengan tugas merawat pasien masuk dengan membawa troli berisi hampers.
"Maaf, Ibu, Bapak." Petugas wanita dan pria itu berdiri di ujung. "maaf mengganggu sebentar. Ini ada bingkisan kecil dan makan siang. Pemilik tempat ini kemarin menikah, dan belum sempat mengadakan tasyakuran. Jadi sebagai bentuk syukur dan berbagi kebahagiaan, beliau memberikan bingkisan ini."
"Alhamdulillah," jawab pasien seberang saat menerima bingkisan itu. "Semoga pernikahan beliau langgeng dan menjadi keluarga sakinah, mawadah, warahmah, Bu."
"Aamiin. Makasih doanya ya, Pak, Bu."
Lea dan Ferdi memandang adegan itu tanpa berkedip. Jika Ferdi tahu siapa yang menikah, berbeda dengan Lea yang hanya tahu kalau pemilik yang dimaksud adalah Gian.
"Jadi dokter tampan itu sudah menikah? Lalu Mayang patah hati dong?" batin Lea tertawa bahagia.
Tak ada doa maupun ucapan apa-apa saat Ferdi menerima bingkisan yang terlihat berat itu, malah dia terkesan malas menerimanya. Seolah ini begitu disengaja agar Ferdi merasa cemburu. Menertawakan kekalahanku rupanya, batin Ferdi.
Ketika petugas itu meninggalkan bangsal, Lea tak bisa lagi menyembunyikan tawa kemenangannya. "Mantanmu pasti patah hati karena ditinggal gebetannya nikah."
Lea menyeringai ke arah Ferdi, lalu karena Ferdi masih merasa kesal dan belum dapat pelampiasan, jadi dia membalas Lea untuk memuaskan rasa sakit hatinya.
"Kalau begitu tidurmu tidak akan nyenyak! Karena aku akan terus memikirkan Mayang. Aku akan terus mengejarnya sampai aku dapatkan dia lagi."
Ferdi menyeringai penuh kemenangan saat melihat Lea membeliak nyaris lepas bola matanya.
"Silakan saja kalau Mayang masih mau sama kamu! Aku bisa dapatkan yang lebih baik daripada wanita itu punya, juga pria yang jauh lebih sempurna dari pada kamu! Wanita yang membuat anakku mati!" pancing Lea memprovokasi.
__ADS_1
Ferdi menajamkan tatapannya karena tidak paham apa maksud Lea.
"Kamu pikir mantan kamu itu baik, apa, Mas?"