
Ada tangan gemetar kala kuas make up menyapu wajah Mayang. Ada air mata tertahan, saat kenyataan mengatakan Mayang menerima pinangan Gian. Semuanya alot dan berantakan. Namun, Mayang menyikapi semuanya dengan tenang.
Ketika Rully datang, Mayang dengan lantang menyuarakan iya-nya di hadapan semua orang. Cukup sudah telinga Mayang penuh dengan perdebatan yang terjadi antara Gian dan Paklik Mayang. Ini sungguh memalukan.
"Kamu yakin dengan semua ini, May?" Kuas di tangan Rully ditarik menjauh dari wajah Mayang, namun make up belum selesai, masih akan dipoles dengan kuas besar yang baru saja diambil Rully dari tempatnya.
Mayang yang masih memejam, bergumam 'hem' yang ambigu, membuat Rully kesal dibuatnya.
"Kamu nggak ingin minta maaf atau merasa nggak enak hati sama aku, May?" Lebih lama menahan, mungkin Rully akan meledakkan tangis. Selagi akad belum terlaksana, Rully ingin memastikan.
Mayang membuka mata, menatap kakak yang begitu menyayanginya. "Aku ndak ada salah apa-apa sama Mbak Rully," tandas Mayang seraya memalingkan wajahnya ke arah lain.
Rully kesal akan jawaban Mayang yang terkesan sombong dan egois. "Kamu jelas tau aku yang menginginkan Gian, tapi kamu—"
"Tapi Gian maunya sama aku. Jadi jangan salahkan aku, Mbak ... salahkan Gian dan perasaan Mbak." Mayang menukas dengan sarkas. Dia hanya tidak mau keadaan kacau, saling berdebat, dan akhirnya hanya peroleh benci juga malu. Sedangkan Rully tak melihat betapa Mayang bingung sendiri menghadapi ini semua.
Mayang mengiyakan karena Gian bersedia memberi waktu Mayang melepas ketakutannya dalam ikatan pernikahan mereka. Katakanlah Gian egois, tapi menyukai dan mencintai memang harus egois. Seyakin apa perasaan Gian pada Mayang, Mayang sendiri tidak tahu, tetapi cukuplah janji Gian yang rela menjadi teman dan partner sebelum mereka benar-benar menjadi pasangan sesungguhnya.
"Kamu bisa bilang tidak, May ... kamu bisa katakan kalau aku yang suka sama Gian." Rully meletakkan alat make up-nya dengan kasar, lalu kembali menghadapi Mayang yang tampak tenang.
"Lalu perdebatan itu makin besar dan runyam, bikin heboh, dan akhirnya Gian marah? Soal perasaan Mbak, aku beri kesempatan pada Mbak mengatakannya pada Gian, jika Gian mau, silakan kalian yang menikah. Saranku, sebaiknya Mbak Rully simpan dan hentikan perasaan Mbak pada Gian. Itu hanya akan melukai Mbak. Akan menjadi hal yang tidak nyaman untuk hubungan kita ke depan." Mayang mencoba memperingati, entah Rully mendengar atau tidak, Mayang enggan memikirkannya.
Rully beranjak, meninggalkan adikknya yang akan menikah kedua kalinya. Rully, entah kenapa, merasa semua orang menyayangi Mayang, Tuhan juga.
Make up telah usai, Mayang sudah siap dengan kebaya putih seadanya yang diambil dari salon Rully, make up sederhana, tak ada dekorasi layaknya pernikahan pada umumnya. Tak ada tetangga datang, hanya ada karyawan Mayang yang sibuk mempersiapkan jamuan dadakan.
__ADS_1
Gian rupanya sudah naik ke lantai tiga untuk menjemput Mayang. Dia tidak memberitahu siapa-siapa, hanya Katon yang tahu dimana rumah Sigit—paklik Mayang—yang ia jadikan kawan semalam. Sekali lagi, Gian tak tidur, ia menembus dinginnya malam menuju desa di atas gunung, tempat Sigit tinggal. Meminta Mayang pada Sigit yang Gian baru tahu, sangatlah protektif pada Mayang. Subuh, Gian baru sampai ke rumah dan mempersiapkan semuanya di bantu Hadyan. Beruntung semua siap sesuai jadwal.
Namun, melihat ketidaksiapan Mayang, Sigit kembali meradang, Gian harus merelakan telinganya terkena bentakan seorang anggota TNI yang begitu tegas bersuara.
Pintu terbuka, membuat Gian tersenyum lebar sampai ke telinga. Niatnya ingin mencuri ciuman dari calon istrinya itu, tetapi ketika dia sudah ancang-ancang menyosor, yang keluar adalah calon kakak iparnya yang menangis.
Gian tak tahu kalau persaudaraan mereka sedekat itu sampai mereka menangis haru kala salah satu mereka mendapatkan jodoh.
Tatapan mereka sejenak beradu. Gian tersenyum lebar sampai ke telinga, sementara Rully menahan luka.
"Mayang udah selesai, Mbak? Mau saya boyong ke bawah," tanyanya cengengesan.
Rully melengos, bibirnya tersenyum sinis penuh luka. Mereka berdua memang tak tahu malu dan tak peka.
"Secinta apa kamu sama Mayang?" Dari semua tanya yang ingin Rully katakan, hanya itu yang dirasa pas dan tidak terlalu kentara menunjukkan kekecewaannya. Rully menatap Gian kembali, dikuatkan hatinya agar tidak rapuh dan menangis lagi. Dengan berani, Rully menelisik ke dalam mata Gian.
"Menggambarkan cintaku sama Mayang itu hanya sebesar ujung kuku, Mbak ... yang akan terus tumbuh meski di potong dan patah berulang kali. Saya memang buka orang kaya, saya hanya orang biasa, yang tak tahu diri menyukai adikmu. Kami sama-sama pernah gagal, kami tahu rasanya terluka dan bagaimana menyembuhkan, hanya saya selalu bahagia dan tenang saat melihat Mayang. Tak ada yang bisa saya banggakan dan saya janjikan, Mbak ... saya cukup ingin membuktikan."
Rully mencibir, "laki-laki semuanya begitu, bermulut manis. Gombalan ala playboy, ya, seperti itu." Bola mata berlapis lensa kontak berwarna abu-abu itu memutar malas. Tapi, kata-kata Gian barusan sungguh membuat hatinya kembang kempis sendiri. Padahal itu untuk Mayang, bukan dia. Ah, bagaimana rasanya jadi Mayang yang dicintai sepenuh hati oleh pria tampan ini?
"Mbak Rully boleh mengataiku apa saja. Tapi, saya harap, Mbak jangan sampai membuat semua ini kacau, saya dan Mayang sudah berusaha juga sepakat. Kami akan menjalani bahtera ini sesuai kemampuan kami." Gian merasa tertantang, cibiran itu sungguh melecut hati Gian untuk membuat kehidupan pernikahannya penuh makna dan banyak kenangan.
Gian menyelonong masuk, menjemput calon ratunya. Dan Gian benar, Mayang sangat cantik dengan dandanan yang begitu simple dan elegan.
"Bidadari insecure, euy." Gian bersuit, senyumnya melebar, jantungnya mulai berdebar tak karuan. "Bidadari hatinya Mas Gian emang nggak ada duanya. Nggak salah pilih emang hati Mas Gian menjatuhkan pilihan."
__ADS_1
Mayang manyun, agar bunga-bunga dihatinya tetap terjaga di dalam sana. Gian tak boleh tahu kalau dia merasa senang atas pujian barusan. "Aku terpaksa tau, Pak. Kalau aja Bapak ndak bikin ulah, aku ndak mau nikah dengan cara begini!"
"Kamu kalau nggak dipaksa, nggak akan mau nikah sampai presiden ganti empat periode, Mai ... bisa-bisa saat itu tiba, aku udah miskin dan nggak bisa apa-apa. Kamu udah bahagia sama pria lain, dan aku menangis karena nggak gercep mengamankan kamu." Gian melangkah dengan ringan, hatinya lega.
"Alah, Bapak mah ... gombal mulu kalau ngomong sama saya. Inget ya, Pak ... kalaupun dah nikah, Bapak ndak boleh semaunya sendiri sama saya." Mayang merinding mengatakan ini. Entahlah, ia tak memikirkan apa-apa tentang bagaimana nanti. Atau setelah menit-menit akad terlewati.
"Iya, kan tadi udah janji, kalau saya akan ikut apa mau kamu." Gian meraih tangan Mayang yang polos. Gian memandanginya. "Cincin nyusul, ya, Mai ... aku tadi nelpon toko emas, katanya nggak nerima panggilan di luar jam buka. Mungkin karena aku bukan crazy rich kali, ya ... makanya beli cincin couple nggak dilayani. Coba aja aku ini crazy rich, beli mobil jam tiga pagi pasti dilayani."
Mayang menampik pelan lengan Gian, "ndak usah ngayal jadi crazy rich, Pak ... saya belum siap kalau harus sendiri lagi setelah nikah ini."
Gian mengangkat wajahnya. "Bu Mayang takut kehilangan saya?"
Mayang mengerjap, ia merasa terjebak dengan ucapannya sendiri. Perlahan pipi, leher, dan telinganya panas terbakar.
Iyalah, Pak, gitu aja pake nanya.
*
*
*
*
*
__ADS_1
Ciang cemuanya, Mayang nyapa lagi, ya, gengs😄