
"Kamu dari mana?" Ferdi bertanya ketika Lea sudah sampai di dapur. Lea berniat sarapan terlebih dahulu, sebelum melanjutkan tidur.
"Nggak usah bawel deh, Mas!" Lea menyambar gelas di tangan Ferdi lalu menuangkan teh panas yang mungkin merupakan hasil seduhan Marini. Sebelah tangannya meletakkan sebungkus nasi pecel yang ia beli dari warung tetangganya.
"Aku berhak tanya, Lea ... kamu subuh-subuh keluar nggak pamit, kalau kamu kenapa-kenapa bagaimana?" Ferdi meradang, istrinya ini selalu membangkang. Walau bagaimanapun, Ferdi tetaplah seorang suami, yang wajib Lea hormati.
Lea meletakkan gelasnya dengan keras, usai menenggak habis isi gelas tersebut. Matanya menatap Ferdi tanpa rasa takut, malah dia cenderung meremehkan. "Bukannya kita akan bercerai, Mas ... buat apa aku pertahankan anak ini? Biar saja aku kenapa-napa, toh, Ibumu hanya mau bermenantukan Mayang! Lagian kamu jangan sok peduli sama aku, ya, Mas ... aku tau kamu begitu agar aku tetap lunasi cicilan kamu, kan? Aku nggak bodoh kaya Mayang, Mas ... jadi kalau kamu ingin sesuatu dariku, kamu harus patuh sama aku, ngerti kamu, Mas!"
Lea menekankan perkataannya kepada Ferdi. Mata wanita itu melebar sempurna. Rasa putus asa Lea berubah jadi sebuah perasaan ingin menguasai. Lea ingin satu orang saja jatuh tunduk di kakinya. Bisa-bisanya, baik Ferdi maupun Marini masih mengharapkan Mayang kembali, dan Lea tahu dari teman kantor Ferdi kalau Ferdi ingin menceraikannya, lalu balikan sama Mayang. Kenapa semua orang menggilai Mayang, ha?
"Kamu ini bukannya tahu diri dan segera pergi dari sini, malah bikin rumah saya kaya neraka!" Marini muncul dari balik pintu dapur. Dia mendengar dan melihat perlakuan Lea pada Ferdi. Ia sungguh tak terima, tapi ini juga kesalahan Ferdi.
Lea menatap Marini dengan sinis. "Rumah ini jadi milikku sebagai ganti tanah yang tak bisa kalian kembalikan padaku!"
"Enak saja, kamu!" pekik Marini. "Ini rumah adalah peninggalan orang tua saya, rumah ini milik saya! Ferdi ndak punya hak atas rumah ini, bahkan bapaknya Ferdi sekalipun!" Marini mendadak seperti diungkit luka lamanya. Sejauh pernikahannya berjalan, Marini sebenarnya menyesal menjatuhkan pilihan pada Bapaknya Ferdi yang ternyata tidak sekaya yang dia bayangkan. Namun, memang bapaknya Ferdi mempunyai kharisma yang tak bisa ditolak oleh Marini.
Entahlah, Marini sebenarnya merasa terjebak dan berharap anaknya bisa hidup lebih baik. Pegawai lembaga keuangan harusnya cukup bergengsi, lalu Marini mendukungnya dengan menjodohkannya dengan Mayang. Harapan Marini tinggi untuk kelangsungan pernikahan Ferdi dan Mayang, sebenarnya. Namun semua kacau dan sia-sia, karena ulah Ferdi.
"Tidak peduli, Buk ... selagi anak ibuk ini nggak bisa balikin tanah aku, aku akan tetap di sini, meski sudah bercerai sekalipun! Itu—hilangnya tanah Lea—karena kebodohan anak ibuk, jadi ibuk harus ikut bertanggung jawab!" jawab Lea bengis.
__ADS_1
Ferdi terbengong. Tak pernah terpikir olehnya, kalau Lea akan bertindak sejauh itu padanya. Ini namanya pemerasan. Dia hanya sedang mengusahakan, jika hasilnya nihil ya, itu bagian dari nasib, toh Lea sudah ikhlas dan dalam keadaan sadar saat menyerahkannya, bahkan mendukung penuh usaha Ferdi. Jadi salahnya dimana?
"Ndak bisa Lea, ndak bisa begitu! Kamu ndak boleh tinggal di sini. Biar Ferdi anakku, kalau dia sudah menikah, itu bukan menjadi urusanku lagi, apapun yang menjadi masalahnya, Ibuk ndak mau ikut campur lagi! Kalian bisa pergi jika ndak suka sama keputusan saya!" erang Marini. Dia sangat marah mendengar ucapan Lea barusan.
"Buk!" protes Ferdi yang tidak terima pengusiran secara tidak langsung itu. Dia mau jadi apa tinggal dengan Lea? Jadi pembantu.
"Ndak, Fer ... ibuk tetap pada prinsip Ibuk. Sudah cukup kamu buat Ibuk susah setelah Ibuk angkat derajat kamu dengan menikahi Mayang. Ibuk udah lepas tangan sama kamu. Terserah kamu mau apa atau bagaimana jalani hidup kamu!" Marini menggelengkan kepalanya kuat-kuat seraya mengangkat tangannya ke atas. Sakit, sih, tapi mau bagaimana lagi, Ferdi harus bisa bertanggung jawab pada hidup dan jalan yang dipilihnya sendiri.
"Buk," rengek Ferdi saat Ibunya beranjak pergi, menerabas Lea dan Ferdi, untuk pergi ke wastafel dan menyalakan keran kuat-kuat, ia tak mau diganggu.
Lea mencibir Marini dan mengecap wanita itu sangat arogan dan congkak. Miskin saja belagu, pikir Lea.
Berbeda dengan Ferdi, Gian malah dalam kondisi yang sebaliknya. Mayang membuatnya kehilangan semua rasa lelah dan sakit. Terbayar sudah, sakit hatinya pada Anggia dengan mengutarakan isi hatinya pada Mayang kemarin.
Anggia mendesak, tetapi Gian menolak. Keadaan sudah tak sama lagi bagi Gian. Cintanya sudah menjadi milik Mayang, dan hanya Mayang yang akan menjadi tempatnya berlabuh suatu saat nanti. Dan Tuhan memang mengaminkan keinginannya dengan munculnya sosok Mayang di sana. Gian sampai harus menahan malu pada rekan-rekannya akibat ulah Anggia yang terus menempelnya hingga akhirnya kesempatan itu datang. Mayang melintas dan Gian memanfaatkan waktu itu untuk menembak Mayang.
Endingnya cukup bagus, sesuai dengan yang Gian mau. Dengan diseretnya dia dari tempat itu, tanpa sepatah katapun dari Mayang, semua orang berpikir, kalau Mayang hanya malu. Malu menerima ungkapan perasaan Gian.
"Kamu kesambet suster ngesot apa sundel bolong, Yan? Pulang-pulang kok mesam mesem kaya orang ndak waras." Hadyan sejak tadi memperhatikan tingkah laku anaknya dari meja sudut.
__ADS_1
Gian menoleh, tidak terkejut atau salah tingkah. Biar saja bapaknya itu tahu kalau dia sedang senang.
"Pak, Bapak kenal sama Pak penghulu di KUA kecamatan kan?" Gian duduk di depan Hadyan yang masih memakai baju koko lengkap dengan sarung dan kopiah legend-nya. Mencomot pisang goreng hangat yang ada di meja.
Hadyan menatap anaknya dengan teliti dari atas sampai bawah. Ia yakin sesuatu pasti merasuki anak tunggalnya itu. "Le, kamu dibawa ke Pak Yai Angger, yo ... kayaknya klinikmu banyak penunggunya."
"Aku mau dirukyah sama Mayang aja, Pak ... nggak perlu ke Yai Angger. Kayaknya, cuma Mayang yang bisa nyembuhin sakitku ini." Gian tersenyum jahil sambil terus menikmati pisang goreng yang masih mengepul itu.
"Memangnya Mayangnya udah mau? Idahnya sudah selesai? Jangan ngawur kamu kalau ngomong, Yan?" Hadyan memang tak pernah main-main soal Mayang. Itu bagian dari kekasih hatinya, Gian tidak boleh macam-macam sama Mayang.
"Aku buat Mayangnya mau nggak mau harus mau, Pak ... setelah idahnya habis, aku langsung nikahin dia. Kalau kelamaan aku mungkin bisa gila." Gian serius menatap bapaknya. Ya, Mayang harus mau. Selain takut Mayang ketemu pria lain, Gian juga ingin membuktikan kalau Anggia benar-benar sudah hilang dari hatinya.
*
*
*
*
__ADS_1
*
Jadi bagaimana rencana Gian, ya? Penasaran aku tuh🤭