
"Itu bukan solusi, Pak ... tapi justru mendatangkan masalah baru. Anggi tidak sembuh, saya malah dapat kena musibah berlipat ganda. Jadi apa gunanya saya menceraikan Anggi kalau ujung-ujungnya saya harus pura-pura dan menyiksa batin saya lagi?" Kedua pria itu saling berhadapan di kantor Gian. Kepulan asap kopi mengepul tipis menjadi sekat penjeda diantara mereka. Seakan menjadi garis pembeda antara Gian dan Mardian. Sikap mereka amat sangat berkebalikan. Gian masih sangat waras untuk oleng ikut arus yang Mardian ciptakan.
Gian hanya belum mengatakan 'apa-apaan maksudnya meminta melakukan hal gila semacam itu'
"Bapak kan suaminya sekarang, jadi Anggi jadi urusan Bapak. Saya hanya bisa bantu doa dan usaha dari luar."
Mardian menatap lekat wajah Gian yang keras-keras menolak permintaannya. Mereka pernah saling cinta, apa tidak tersisa sedikit saja perasaan simpati di hati Gian untuk sang mantan?
"Saya bingung, Mas Gian ...." Kelihatan sekali dari sorot mata pria itu meski tanpa mengucapkannya. Gian tersenyum remeh secara samar.
"Pak, maaf kalau saya terkesan menggurui ... saya ada sedikit saran buat Bapak," ucap Gian seraya menghela napas. Mardian terlihat menunggu.
"Semakin Anggi jauh dari saya dan semakin sering Bapak terlihat di mata Anggi, itu jauh lebih efektif membuat Anggi sehat kembali. Kuncinya cuma sabar. Bapak mulai hubungan dengan Anggi itu dimulai dari nol. Tidak tahu apa-apa, tidak saling mengenal, selain di tempat tidur. Secara karakter, kalian berdua adalah orang asing, jadi Bapak harus mendekat dan mengenali Anggi."
Mardian mengangguk. Setuju dengan ucapan Gian itu. Termasuk nekad dan terburu-buru, Mardian menikahi Anggi. Hanya karena merasa Anggi bisa diajak membangun mahligai. Prasangka bahwa Anggi mencintainya, membuat Mardian buta.
"Perlu sekali, Pak ... manusia itu mencukupkan diri pada sebuah kepuasan duniawi dan ragawi. Setia itu keren dan mahal, sementara mendua itu hal yang sangat mudah. Seusia Bapak, harusnya lebih memikirkan bekal pulang, bukan jalan bikin bayi saja, Pak. Bapak punya segalanya tetapi Bapak menggapai ranting rapuh dengan sarang yang Bapak kira isinya madu. Bapak tidak dapat apa-apa selain kecewa dan menyesal."
Gian menyodok sisi sensitive Mardian yang dalam dan lembut. Tetapi semua itu benar, Mardian pikir ia mengenal Anggi lewat waktu-waktu yang terlampaui bersama, tapi apa? Anggi menolaknya dan terus meneriakkan nama pria lain. Lalu selama ini cinta apa yang diobral oleh Anggi?
__ADS_1
"Saya pikir Anggi adalah pelabuhan terakhir saya, Mas Gian ... Riska terlalu dominan dan berkuasa atas saya yang seorang pria." Mardian mencurahkan.
"Wajar, Pak," sahut Gian. Ia mendadak mengerti. Mardian menaikkan alis, matanya yang sendu dan sedih ikut bergerak sebentar sebelum ia kembali tenggelam seraya mempersiapkan diri menerima tamparan dari Gian selanjutnya. Wajar yang bagaimana kata Gian ini?
"Bapak harusnya sadar dari mana uang Bapak berasal. Wajar kan kalau wanita luar biasa seperti Bu Riska mendominasi jalan rumah tangga kalian. Itu pasti hanya diluar saja, sementara di tempat-tempat tertentu, Bu Riska begitu patuh dan jatuh di kekuasaan anda." Gian serius mengatakan ini. Setinggi apapun wanita berkuasa, dia akan butuh pria yang begitu lembut dan penuh senyum untuk mendukungnya. Apa Mardian tidak merasa ketulusan Riska selama ini?
"Saya hanya ingin di hargai di setiap kesempatan, Mas Gian. Anggi yang bisa melakukan itu, sementara Riska terkadang mengomel kala saya buat kesalahan kecil saja." Mardian mengenang. Masa itu sangat menyakitkan, sampai ia rela mendua karena merasa tidak berguna. Melalui wanita-wanita kedua di pernikahannya, Mardian mendapatkan kepuasan sendiri soal pengakuan dan penghargaan. Mereka senang sekali menyanjung Mardian.
"Omelan tanda dia peduli, Pak. Tunggu saja kalau dia mulai diam dan dingin, pasti badai pernikahan Bapak sudah mengambang dan siap mengoyak." Gian menerka. Dan bukankah itu benar, Mardian telah digugat cerai oleh istri sahnya?
"Saya bantu beri rujukan, ya, Pak ... tolong pikirkan baik-baik perasaan saya yang baru saja menemukan cinta baru saya setelah yang lama dihancurkan Anggi begitu saja." Gian menyindir. Mardian juga ikut andil dalam perpisahan Gian dan Anggi, kan?
Mardian menatap hampa gerakan tangan Gian. Dia bingung dan lelah.
Gian melirik, "Jadilah pria yang kuat, sekuat Bapak mengocek mantan istri saya itu sampai Qila ada. Saya yakin Bapak bisa dan mampu."
Gian mengulurkan lembaran kertas dimana ia menuliskan dokter dan rumah sakit khusus penyakit mental. Letaknya tujuh jam perjalanan dari sini, dan itu cukuplah untuk menghalau bibit parasit menjijikkan macam Anggi.
Mardian membaca kertas itu, lalu membuang napas tanpa bisa mendesak Gian lebih jauh. "Bahkan jika saya menawarkan investasi besar untuk pengajuan rumah sakit ini, Mas Gian tetap menolak tawaran saya?"
__ADS_1
"Saya menolak, sekalipun Bapak akan membantu mengurus legalitas usaha saya." Gian tersenyum penuh kemenangan seraya menggesekkan pulpen hitam dengan aksen emas ditengah-tengahnya. "Saya punya investor dari ibukota. Bapak jelas tidak ada apa-apanya."
Mardian mengepalkan tangan dengan perasaan tersinggung. Namun ia tak mampu lagi mendesak atau melabrak Gian atas hinaannya barusan. Ia memilih pergi dengan muka masam, percuma saja sih, membujuk Gian yang keras dan angkuh itu. Harusnya Mardian ingat, Anggi yang murahan saja pernah Gian perjuangkan mati-matian dulu saat awal-awal jadi wanita piaraannya. Apalagi sekarang setelah permata ditangannya, Gian pasti tak akan peduli pada kilau-kilau semu lainnya.
Gian menghela napas dengan berat, lalu menoleh ke jam dinding yang sudah menunjukkan sore hari.
"Pak Dokter, pasien atas nama Lea pingsan." Gian tersentak dan bangun segera. Suara itu bahkan belum masuk ke dalam ruangannya, tapi tampaknya Hani yang bar-bar itu begitu panik sampai berteriak-teriak memenuhi ruangan besar ini.
"Bapak suka ngilang tanpa kabar, sih ... bikin aku makin kurus, Pak ... kalau lari-larian begini tiap jari."
Gian mengabaikan Hani yang menumpu lutut dab mengatur napasnya yang terengah-engah. "Sudah kau periksa semuanya, Han? Apa dia masih sakit perut sama seperti semalam?"
"Iya, Pak ... kualat kali dia ini, Pak!" Hani masih di tempatnya, sementara Gian sudah melesat bahkan saat Hani belum sempat menyelesaikan kalimatnya. "Astaga Bapak!" Hani menyeret langkahnya menyusul Gian yang seharusnya menunggu Hani seraya menjelaskan kondiai detail pasien bernama Lea ini.
*
*
*
__ADS_1