
Tidak ada yang tahu bagaimana nasib manusia, walau hanya satu detik ke depan.
Sampai di kos, Lea masih gemetar. Badannya terasa lemas. Sempat beberapa saat ia tak percaya kalau kejadian itu menimpa dirinya. Sesaat lamanya pula, dia tersadar mengapa dia sampai memikirkan rencana konyol seperti itu.
Lea termangu.
Memikirkan semua yang telah ia lakukan selama ini. "Benernya apa sih, yang salah sama aku?" gumam Lea. Ia bangkit dan bercermin. Pantulan dirinya teramat mengerikan. Jika diperhatikan benar-benar, dia sungguh berbeda. Kurus, kusut, pucat, dan terlihat tua.
"Pantas semua orang jijik sama aku, ternyata aku kini mirip penyihir dari pada manusia." Lea mengusap rambutnya yang tak lagi terawat. Tak ada kilau dan cahaya di sana. Pantas Mas Ferdi tidak lagi menyukaiku seperti dulu."
Terbayang di mata Lea, bagaimana tatapan Ferdi untuk Mayang. Mayang sekarang sangatlah berbeda, tentu Ferdi menjatuhkan liur kala bersitatap dengan mantan istrinya itu.
"Apa aku keterlaluan selama ini?" batin Lea. "Tapi aku hanya ingin sama seperti Mayang. Aku hanya ingin disayang seperti Mayang. Apa aku harus mengubah sikapku seperti Mayang?"
Lea membuang napasnya pelan, lalu mengubah posisi berdirinya. "Mayang dengan mudah dapet dokter setelah cerai sama Mas Ferdi. Makin bersinar hidupnya. Apa aku bisa jadi seperti Mayang?"
__ADS_1
"Tapi aku tidak mau cerai dari Mas Ferdi." Air mata Lea tiba-tiba berderai tak terkendali. Ia ingat bagaimana rasanya ketika hampir gila ketika Ferdi ingin meninggalkannya dulu. Lea begitu mencintai pria itu. Perjuangan mereka untuk tetap saling terhubung meski harus sembunyi-sembunyi, bahkan Lea dulu rela menjadi istri gelap jika Mayang dan Ferdi selamanya terikat dalam ikatan pernikahan. Sejauh itu Lea mencintai Ferdi.
"Ah, mungkin sebaiknya aku mempertahankan suamiku. Siapa yang akan nerima aku apa adanya selain dia?" Lea mundur dan segera membasuh dirinya. Mungkin semua pikiran rumit ini nanti akan berubah cerah jika badannya sudah segar.
Ketika Lea di kamar mandi, Ferdi pulang ke rumah dengan naik ojek. Ferdi memilih mengembalikan mobilnya ke dealer setelah kini ia tidak lagi bekerja.
Pikiranannya kalut. Setelah pulang tadi, Ferdi berkeliling mencari pekerjaan lain, meski belum ada yang mau mempekerjakannya. Ia takut kalau Lea akan marah padanya, jika mengetahui hal ini. Walau sebenarnya, Lea ikut andil dalam pemberhentiannya kali ini.
Ferdi menata dirinya agar tak terlihat kalut di mata Lea. Sebisa mungkin ia tidak terlalu ingin terlihat kalut. Dia tetap melakukan apa yang ia lakukan seperti biasa.
Ferdi merebahkan dirinya di kasur lantai yang tipis, membuka dua kancing kemeja bagian atas agar ia tak merasa gerah berlebihan. Matanya segera terpejam rapat, membayangkan betapa rumit hidupnya kedepan. Entah bagaimana jadi nya jika bayi mereka masih hidup. Apa jadinya kehidupan anaknya kelak? Hidup diantara orang tua yang tidak berguna dan miskin.
Pintu kamar mandi terbuka pelan, menampakkan Lea yang tak kalah muram wajahnya meski sudah terlihat lebih baik.
"Aku menunggumu keluar," kata Ferdi mencari alasan agar ia terhindar dari interogasi Lea.
__ADS_1
Lea diam saja, hanya menyingkir dari depan pintu kamar mandi sembari terus menggosok rambutnya. Ferdi dengan cepat meninggalkan Lea, kendati dalam benaknya bertanya-tanya ada apa dengan Lea yang tidak seperti biasanya.
Rambutnya masih basah, hari pun masih sore, tetapi Lea sudah menggulung tubuhnya dalam selimut, meski matanya sama sekali tidak terpejam. Ia hanya ingin merebah dan melepaskan semua penat.
Malam ini mereka lalui dengan pikiran penuh tanpa saling menyapa maupun berbagi cerita. Lea tidak ingin Ferdi tau perbuatannya, pun dengan Ferdi, ia tak ingin Lea tau kesulitan hidupnya.
Sementara di belahan rumah lain, dua manusia menghabiskan malam dengan bercengkrama, berbicara sampai bibir mereka lelah, lalu tertidur dengan berpelukan, menikmati tidur yang damai. Sungguh tak ada perbuatan yang tak berimbas pada kedamaian dan kebahagiaan. Yang kau tabur, itu yang kau panen.
*
*
*
❤❤ aku pen ngetik anu, tapi masih puasa🤣terpaksa slip lagi🤭
__ADS_1