Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Keputusan Rustina


__ADS_3

Rustina mengilhami betul apa yang dikecamkan suaminya kepadanya, sehingga setiap detik waktu setelah kejadian itu, dia benar-benar memikirkan tingkahnya selama ini. Dia cemas—jujur saja. Jika benar dia akan diduakan, dia akan tamat. Hidupnya akan berakhir. Bukan soal harta kekayaan, melainkan karena cintanya pada Murdyo yang membuatnya berpikir banyak soal ucapan pria yang telah puluhan tahun hidup dengannya.


Wanita itu hilir mudik di ruang duduk depan TV.


"Loh, Ibuk di sini, toh?" Seorang pria muda masuk, membuyarkan apapun yang dipikirkan Rustina. Bergegas Rustina menghampiri pria tersebut dan menyeretnya ke halaman samping.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Rustina dengan penasaran.


Yusuf namanya, salah satu orang kepercayaan keluarga Rustina, tercengang melihat reaksi berlebihan wanita yang biasanya anggun dan tenang ini. Dia menyuarakan isi hatinya.


"Buk ... Bapak mungkin sedang bercanda saja waktu itu, jadi Ibuk ndak usah repot begini. Lagian, Ibuk tinggal nanya sama Mbak Rully atau Mas Lingga saja, kan?"


Rustina menelan ludahnya kecut. Yusuf pasti tidak paham bagaimana keadaannya saat ini, sekalipun mereka dekat. Segera saja dia menepikan apapun ocehan Yusuf yang kentaranya mudah bagi orang lain, tetapi bagi Rustina itu sangat sulit. Tentu karena dia pernah bertindak tidak wajar pada Rully, dan itu akan membuatnya canggung. Apalagi, dia jauh lebih tua dari pada Rully, pasti sikap yang waktu itu seharusnya tidak pernah terjadi dan ditunjukkan oleh wanita yang sudah bergelar nenek. Rustina malu.


"Katakan wae apa hasilnya, Suf ... jangan ngajari saya apa yang baiknya saya lakukan! Ini langkah terbaik yang bisa saya lakukan agar penikahan saya selamat, dan Lingga ndak lagi memusuhi saya!"


Mengerti akan hal itu, Yusuf membuang napas sebelum melapor.


"Menurut istri saya—"


"Kok istri kamu, sih, Suf?" sela Rustina dengan mimik heran. Ah, ini jadi bukan rahasia lagi namanya kalau sudah melibatkan pihak ketiga. Dia menjadi kesal.


Yusuf lagi-lagi hanya bisa menarik napas kuat-kuat.


"Ibuk ... salon Mbak Rully itu khusus wanita, jadi kalau saya masuk kesana dan bertanya banyak hal, apa itu tidak terlalu kentara? Apa iya saya harus jadi banci biar bisa mengorek informasi?" Yusuf bertanya dengan nada kesal ditahan-tahan. Ya, tugas sih, tugas ... tapi butuh trik juga, kali, Bu Rus.


Rustina mengibaskan tangannya, "bukan begitu, tapi ... sudahlah! Katakan saja apa hasilnya, Suf!"


"Jadi, Mbak Rully itu kaya sekali untuk ukuran wanita lajang di kota sebelah, Buk. Koneksinya banyak dan berkelas, hanya dia tidak terlalu mengumbar dirinya, suka tampil apa adanya dan merakyat. Punya rumah makan yang dikelola adiknya, adiknya ini punya suami seorang dokter kandungan terkenal yang sekarang sedang membangun rumah sakit sendiri. Mbak Rully awalnya menolak Mas Lingga sampai akhirnya luluh karena Mas Lingga ngejar-ngejar Mbak Rully. Kesimpulannya, Mas Lingga beruntung menikah dengan wanita mapan yang ndak mandang harta, ndak silau sama kedudukan, mandiri, dan menurut saya, dia sangat pantas menjadi menantu keluarga Ibuk." Yusuf menghela napas ketika menyudahi laporannya.


Rustina juga menghela naoas saat berekspresi serius. Entah mengapa ia sudah tahu sebelum Yusuf memaparkan.


"Ibuk harusnya bisa melihat lah, dari pembawaan dan cara bicara Mbak Rully. Dia juga lulusan S2 kalau ndak salah, jadi ndak kalah sama Putri dan yang lain. Ibu ndak bakal kecewa pokoknya, Ibuk hanya harus legowo menerima keputusan Mas Lingga." Nasihat Yusuf.


Rustina melirik Yusuf yang dinilainya benar. "Ada rekamannya ndak, Suf ... istri kamu bisa diandalkan, ndak?"

__ADS_1


"Jelas ada lah, Buk ...." Yusuf mengeluarkan ponselnya, "aku kirim ke WA Ibuk, ya, full no sensor pokoknya." Yusuf tersenyum bangga pada hasil kerja istrinya yang antisipasif. Ya iyalah, bayarannya gede.


"Yo wes, kalau gitu ... sebentar." Rustina berlalu saat Yusuf sibuk mengirim video itu. Dia mengambil uang yang dijanjikan pada Yusuf.


"Ini Suf ... Ibuk ndak bisa transfer, nanti Bapak curiga lagi." Ia mengulurkan segepok uang berbalut amplop putih panjang pada Yusuf, lalu duduk di kursi santai seraya membuka ponsel yang sudah menerima kiriman video dari Yusuf.


Yusuf tersenyum senang dan berpamitan. "Lihatnya jangan sambil tahan napas, Buk ... siapkan jantung pas dengar nominal dan investasi Mbak Rully secara langsung. Istri saya saja keluar dari salon bukannya cantik malah jadi pucet dan megap-megap."


Rustina berdecak, "itu karena istrimu ndak kenal orang kaya yang sering nyebut uangnya."


Yusuf tergelak mendengar jawaban Rustina barusan. Itu juga benar, tapi siapapun pasti tercengang melihat investasi Rully, diusia semuda itu. Lebih lagi, itu murni hasil kerjanya selama ini.


"Sana pergi, keburu Bapak pulang dan lihat kamu di sini, lagi." Rustina mengusir Yusuf dengan kejam, lalu tanpa peduli lagi, dia segera membuka video percakapan karyawan Rully dan istri Yusuf.


Pada detik awal, dia masih biasa, tetapi ketika masuk ke pertengahan video, Rustina beneran syok. Kemudian, tanpa menyelesaikan video tersebut dia bergegas menelpon suaminya.


"Pak, minta tambahan anggaran buat acara Sabtu nanti!' seru Rustina saat Murdyo baru saja menjawab panggilannya. "Undang semua anak buah Bapak juga."


Rustina memutus sambungan tanpa menunggu jawaban suaminya, lalu ganti menelpon jasa cathering, MUA, dekor, fotografer, dan hiburan terbaik di kota ini. Dia mencari yang paling baik dan direkomendasikan oleh teman-temannya.


Ponsel Rustina berdering dengan nama Djarot mengambang di permukaan layar, bergegas Rustina menjawabnya.


"Aku udah transfer buat acara Sabtu nanti, Buk ...," ucap Djarot to the point usai mengatakan salam pada ibunya.


"Aduh, Nak ... ndak usahlah. Bapak udah nanggung semuanya, kok ... uangnya buat kamu bulan madu saja." Rustina tidak enak hati dibuatnya. Kendati Djarot selalu begitu padanya sejak mampu menghasilkan uang sendiri.


"Kami nggak bulan madu, Buk ... Rully sibuk. Dan aku, minta doanya dari Ibuk, hari ini aku buka firma hukum. Maaf aku nggak kabari Ibuk lebih dulu." Djarot terdengar sedih.


"Ibuk selalu doakan kamu, Nak ... semoga sukses dan banyak kliennya, ya. Kapan-kapan Ibuk akan kesana buat nengok. Masih di rumah kamu, kan?" Rustina menahan haru. Anak lelaki satu-satunya ini sungguh sangat berbakti padanya. Dia sangat bersyukur.


"Iya, Buk ... makasih, ya, Buk! Tolong uangnya jangan dikembalikan, buat keperluan Ibuk aja," pinta Djarot sebelum mengucapkan salam dan menutup teleponnya terburu-buru.


Jelas Djarot tidak mau Rustina mendengar suara mesum Rully yang terus-terusan mengajaknya berkembang biak.


"Lagi nelpon siapa, Mas?" tanya Rully seraya melingkarkan tangannya di pinggang Djarot yang hanya berbalut celana panjang saja. "Mantan yang tersisih lagi?"

__ADS_1


Endusan hidung Rully membuat Djarot menengadah dan menahan hasrat. "Ibuk," jawabnya singkat seraya menunjukkan ponselnya, tanpa memandang Rully yang pasti memakai kemejanya tanpa celana.


Rully melirik saja lalu kembali mengusapkan jemari lentiknya pada punggung keras Djarot. Body yang memesona ini membuat Rully benar-benar jatuh.


"Pakai baju yang benar, Sayang ... meski ini rumah, tapi ini tempat kerjaku. Bagaimana nanti kalau ada yang masuk?" Djarot akhirnya menyerah. Rully benar-benar membuatnya tidak bisa berpikir. Kendati dia memaksa bekerja, tapi wanita itu selalu datang dan duduk dipangkuan penuh provokasi.


Dan itu berhasil memancing Djarot yang anehnya,selalu prima tiap kali Rully menggodanya. Yah, walau akhirnya ... dia selalu berhasil kalah oleh Rully.


"Mas, latihan fisik lagi, yuk ... biar makin terbiasa dan tahan lama."


Djarot membuang napas, "Aku lagi ada janji sama orang hari ini."


"Udah aku usir orangnya ... sama rekan-rekanmu juga. Di rumah tinggal kita berdua saja." Rully mengerling dari samping dengan muka polos yang dibuat-buat.


Djarot berhenti napas beberapa saat. "Aku lelah, Sayang ...."


"Nolak ajakan istri itu dosa loh, Mas ..." Rully terkekeh seraya memeluk erat perut Djarot.


Ya ampun ... Djarot hanya bisa tercengang tanpa bisa bereaksi. "Ndak ada rumusnya yang kaya begitu itu, Yang ... lagian, biasanya kan wanita suka sekali jalan-jalan setelah menikah, romatis-romatisan di depan umum, dipamerkan ke teman-teman. Kamu kok tidak? Kamu malu ya, nikah sama aku?"


Rully mencebik kesal. "Aku bukan abg, Mas ... yang harus pamer kemana-mana. Seusiaku dan sematang kamu, rawan dibidik pelakor. Mending di kamar aja, toh makanan bisa minta dikirim sama Mayang. Jalan-jalan, cukup dari lantai atas ke bawah sambil digendong sama kamu. Kalau teman-teman, sebaiknya jangan tau dulu, aku takut kamu direbut mereka."


"Banyak alasan." Djarot mendorong kening Rully dengan telunjuknya. "Bilang saja kamu itu malu dikatain menjilat ludah sendiri!" Djarot terkekeh.


"Ih, tapi aku suka kok dikatain menjilat ludah sendiri. Apalagi menjilat .... kamu."


*


*


*


Halo ... welcome back untukku sendiri yah. hehehe ... sorry lama kembalinya, sebab aku ada kesibukan di RL yang nggak bisa ditinggalkan. Tolong dimaklumi ya, tapi nggak usah juga ... hehehe. Sesuai janji saya di grup Misshel, minggu ini Fatty Become Sexy bakal tamat dengan beberapa ekstra part di bulan Agustus, dan saya mau lanjut ke My Perfect Widower ya, selow update nanti ya, soalnya nggak ada reward apa-apa dari novel itu. Saya usahakan update tiap hari, biar Om Nuga-nya cepet-cepet kawin ... hahahahaha. Duda kolot sama anak gadis perawan yang belum pernah disentuh laki, wkwkwkwkkwk. Astaga, aku mesum wkwkwk.


Ya udah ya, bye-bye semuanya. Met malem, met bobocantiks, met enna-enna, met meluk guling yang jomlo, hehehe

__ADS_1


__ADS_2