Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Kembali Merengkuhmu


__ADS_3

Lea benar-benar telah ditinggalkan, serumah juga tak membuat semuanya semakin baik, yang ada dia malah makin terasing dan sendiri. Semua mengerubungi Mayang. Mayang, Mayang, dan Mayang. Wanita itu bagai nyamuk yang mengganggu tidurnya. Semua orang sedang membahas kesuksesan Mayang.


Lea lelah, hatinya bergemuruh penuh dengki yang tak akan pernah mampu ia ungkapkan.


"Mas ...!" Lea pada akhirnya memberanikan diri memanggil kesayangannya yang telah berjam-jam ia tunggu kedatangannya.


Ferdi hendak meletakkan gelas bekas jus untuk Mayang, melirik malas wanita yang memburunya sampai ke meja dapur. Aroma wangi, gesture indah saat bercinta melayang di benak Ferdi. Rindu menjalar selewat beberapa hari tak bersentuhan, bahkan bertegur sapa pun tidak. Ferdi menguatkan hati. Besar harapannya, Mayang mampu menandingi Lea untuk urusan ranjang. Meski kenyataannya, Mayang kerap banyak alasan menolaknya. Alotnya pembelian Arumndalu membuat Mayang benar-benar tertekan hingga mengabaikannya.


"Mas ...," ulang Lea seraya menarik tangan Ferdi, hingga langkah Ferdi benar-benar terhenti. "Jangan abaikan aku seperti ini, Mas ... aku-aku akan melakukan apapun asal kamu kembali menatapku. Aku rindu kamu, Mas, aku ngga sanggup hidup tanpa kamu."


Lea memeluk tubuh Ferdi dari belakang dengan erat. "Aku kangen kamu, Mas ...," isak Lea di punggung Ferdi.


"Aku tidak bisa lagi, Le ... aku tidak kuat menghadapi kamu yang keras kepala dan tidak mau mendengarkan aku!" Ferdi melepaskan tangan Lea, menjauhkan kehangatan Lea dari tubuhnya. Dia tidak boleh terjatuh dalam perasaan itu. Dia lemah di depan Lea.


"Mas ... aku mau dengerin kamu, aku mau nurut sama kamu. Kamu-kamu mau aku lakuin apa? Kamu mau aku jual tanah itu atau perhiasan itu? Aku-aku akan bantu kamu, Mas ... aku akan mendukung apapun usaha kamu, Mas ... tapi kumohon, jangan tinggalkan aku. Aku cinta mati sama kamu, lebih baik aku mati saja jika kamu meninggalkan aku."


Lea berjalan cepat ke meja dapur, mengambil pisau dan menekankannya di pergelangan tangan. "Iya, lebih baik aku mati daripada melihat kamu sama dia di sisa umurku, Mas. Aku ngga mau kehilangan kamu, aku ngga sanggup hidup tanpa kamu!"

__ADS_1


Ferdi tergagap dan bingung. "Lea, jangan bertindak bodoh! Kita bisa bicarakan baik-baik. Aku-aku—"


"Ambil apa yang kamu mau, tapi jangan tinggalkan aku, Mas. Aku mohon."


Lea meraung, menangis menjijikkan. Mengemis cinta pada pria yang begitu dicintainya. Lea sudah tinggi menggantungkan asa pada Ferdi. Tidak bisa digantikan oleh siapapun.


Ferdi mendekat, tangannya menekan udara di depan tubuhnya. "Tenang, Le ... aku akan tetap disisimu, tapi jangan nekat. Kamu akan menyesal nanti, Le."


Perlahan Ferdi melepaskan pisau dari genggaman Lea, lembut meraih gadis muda itu dalam dekapannya.


"Aku hanya mau kamu, Mas ... aku ngga bakal bantah-bantah kamu, asal kamu tetap sayang sama aku, Mas." Lea terisak dan mendekap erat tubuh Ferdi seakan takut kalau pria itu lepas darinya.


"Janji, Mas!"


"Besok, kamu pindah dari sini. Ada Ibuk yang harus aku waspadai." Ferdi melepas pelukan dan memandangi wajah Lea yang sudah berubah sendu. Lea mengangguk paham maksud Ferdi.


"Aku mau Mas nikahi aku. Aku nggak sanggup kucing-kucingan begini. Aku butuh kamu menemani malamku, Mas ... aku kesepian."

__ADS_1


Ferdi tersenyum, lalu mengusap rambut dan mengecup sekilas bibir Lea. "Aku akan datang ke Bapakmu, kita nikah siri di desamu. Bisa kan?"


Lea mengangguk kuat, lalu melingkarkan tangannya di leher Ferdi. "Bisa banget, Mas ...!"


Keduanya tersenyum puas, lalu masih dalam keadaan bersimpuh, mereka berciuman panas. Lea bahkan tanpa ragu mengarahkan tangan Ferdi ke bagian tubuhnya yang merindukan belaian.


Kebetulan Marini tidak ada di rumah. Dan Mayang tengah memandangi pergumulan mereka di ambang pintu dapur. Lea melihatnya.


Tak ada pemenang sebelum perang dimulai, Mayang. Akulah pemenang perang ini, batin Lea. Senyum Lea terkembang bersamaan dengan erangan nikmat di antara helaan napasnya. Lea melepaskan dirinya. Melepaskan beban. Membiarkan Mayang melihat betapa Ferdi menggilai tubuhnya.


*


*


*


*

__ADS_1


Namanya juga tuman😄 kalau ada kesempatan ya, hayuk😄


__ADS_2