Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Membalas Dengan Cantik


__ADS_3

Di hari yang telah ditentukan, Mayang memenuhi undangan Arista di sebuah kafe tengah kota yang tak terlalu ramai.


Sepertinya bahasan soal usaha franchise itu sudah dimulai. Namun, yang dicari Mayang belum hadir di sana. Tiga orang sudah duduk melingkari meja.


"Hai, May ...." Arista menyadari kehadiran Mayang memanggil. Seruannya membuat hampir seluruh pennghuni kafe itu menoleh.


"Maaf, aku telat," balas Mayang sopan. Secara pribadi, Mayang memang tidak terlalu mengenal mereka, hanya sekadar say hai dan like postingan Instagram. "Sudah lama?"


Mayang tidak mau berbesar perasaan, akan tetapi tatapan tiga orang itu terlihat sedang mengaguminya.


"Sudah—"


"Belum juga, kok." Arista tersenyum manis, tetapi tangannya meremas tangan Rena yang ada di sebelahnya. Mata Arista melotot ke arah Rena agar tidak usah membuka mulut.


"Mau pesan apa, May? Sengaja nggak dipesenin tadi, takut nggak sesuai selera kamu." Arista tersenyum sopan. Biasanya sikap seperti ini, membuat tamunya merasa dihargai.


Mayang duduk dengan tenang dan meletakkan tas mewahnya di sebelah kanan, lalu melipat tangannya yang dipenuhi perhiasan berkilau. "Samain aja lah, kaya sama siapa aja!"


"Oh, oke." Arista langsung memanggil pelayan agar menghidangkan dua gelas jus yang sama dengan yang sudah disajikan.


"Jadi, sambil nunggu Lea, kita bahas-bahas hal ringan aja, ya ... kaya kita nentuin jadinya yang akan kita ambil apa," ucap Arista ringan.

__ADS_1


Mayang mengerutkan kening, "bukannya keripik kentang, ya? Franchise kan?" Mayang menegaskan ketidakjelasan yang dialaminya.


"Em, sebenarnya, bukan sih, May ... hanya usaha biasa saja. Aku kurang paham dengan sistem franchise," aku Arista malu-malu. "Kita kaya model es krim itu loh, sediain freezer doang. Dan aku mau jual oleh-oleh khas sini, kaya tahu tuna, otak-otak, pokoknya yang kaya begitulah, May ... lihat tuh, toko sebelahku rame banget, banyak bis yang mampir buat borong olahan ikan untuk oleh-oleh," jelas Arista buru-buru.


Mayang membuang napas, ia baru mengerti sekarang kenapa dia ada di sini.


"Jadi nanti kamu yang urus modalnya, May ... kita butuh setidaknya seratus freezer di awal usaha." Arista melanjutkan dan Rena yang memang memegang lembaran perkiraan modal, mengulurkan kertas itu ke Mayang.


Jadi, ini sudah direncanakan? Oke, lihat lagi lebih lanjut, batin Mayang yang memang berniat melihat apa tujuan mereka. Rena dan Arista bergantian menjelaskan rincian uang yang diperkirakan.


"... kalau patungan kan, ngga berat May. Nanti pembagian keuntungan sesuai modal yang ditanam," papar Rena.


"Ini terlalu gede, ndak sih, modal sebanyak itu, hanya untuk usaha yang musiman?" Mayang menaikkan pandangannya pada Arista, Rena, dan Salma yang sejak tadi hanya diam saja. "Kan wisatawan, ndak tiap hari banyak, kecuali kalau udah punya nama kaya sebelah, dan suka kirim ke berbagai daerah."


"Aku yang akan modalin," seru Lea yang baru datang dan langsung nimbrung.


Mereka serempak menoleh ke arah Lea yang kelihatannya menenteng sesuatu yang maha berat di tas yang berada di tangannya.


"Kamu takut kalau uang kamu nggak kembali, kan, Yang? Kamu meragukan kemampuan kami yang kamu anggap remeh dan tidak mampu mengurus bisnis kaya kamu, kan?" Lea sudah berhadapan dengan Mayang yang duduk seraya menengadahkan wajahnya menghadap Lea yang berbicara.


"Nih, aku bawa tiga ratus juta, aku setorkan semua kalau modal awalnya nggak cukup buat usaha kita!" Lea meletakkan tasnya dengan hentakan kasar dan tetap menyudutkan Mayang.

__ADS_1


"Kamu masih takut bangkrut atau kau memang pelit dan ndak punya uang?" tantang Lea.


Mayang bangkit, lalu menghadapi Lea dengan sindiran telak. "Terserah apa katamu, Lea ... tapi aku tetap nggak mau join kalau usahanya jor-joran kaya gini. Bagiku, untung rugi itu biasa dalam urusan bisnis, yang penting usaha itu ndak gruduk sana, gruduk sini, kalau masih ragu dan belum mantap. Masih mikir aja udah kaya gini hebohnya, apalagi usaha bareng-bareng, resiko ditipu sangat tinggi. Di curangi apa lagi, gede banget, tuh resikonya!" terang Mayang sekaligus menyindir.


"Ih, sok pinter, kamu! Kamu ini usaha aja yang jalanin aku, kok ... mau sok ngajarin aku soal resiko," sahut Lea tak kalah sinis.


Mayang bersikap. "Mending sok pinter tapi pinter beneran dan udah kebukti, dari pada pinter tapi cuma pinter bodohin orang, mana ndak ada buktinya lagi!" Mayang menohok, tepat seperti yang dia inginkan. Mayang sejurus menatap Lea yang tak bisa membalas, tetapi dia tau kalau Lea kesal setengah mati. Terbukti tangannya meremas buku jarinya sendiri. Heuh! cibir Mayang. Belum apa-apa sudah sok


"Saya permisi," pamitnya pada mereka yang duduk di kursi dengan wajah merah padam karena malu. Jelas, mereka berempat hanya kutu dibanding Mayang yang sudah punya banyak pengalaman dalam berwirausaha. Jelas mereka ciut kalau Mayang sudah mengatakan sesuatu yang digambarkan dengan jelas.


"Mayang ... aku cinta sama kamu!" Seruan yang membuat Mayang kaku berdiri di tempat.


*


*


*


*


*

__ADS_1


Maaf, baru bisa update🙏


__ADS_2