
Marini hari ke hari semakin kurus, setiap hari hanya memikirkan nasib sawah yang telah dijualnya dan tidak bisa dia batalkan lagi jual-belinya. Jika ingin memiliki sawah itu, Marini harus membeli dari adik iparnya sesuai dengan harga yang ditawarkan. Ini pemerasan, padahal mereka saudaraan. Gusti ....
Marini terbiasa perhitungan, ia terlampau sayang jika uangnya keluar, kini kebutuhannya harus ditanggung sendiri sejak Mayang berpisah dengan Ferdi. Marini menyesal. Sungguh.
"Buk."
Marini menghela napasnya dengan berat, melirik anak semata wayangnya dengan perasaan lelah. "Sudah selesai bertengkarnya? Sampai kapan kamu mau begini, Fer? Ibuk ndak kuat kalau denger kamu ribut terus setiap hari, Ibuk bisa mati cepet kalau kayak gini terus!"
"Jangan bicara seperti itu, Buk! Aku masih butuh Ibuk," ujar Ferdi nyeri.
"Kalau begitu, ceraikan Lea. Lebih baik kamu hidup sendiri, cari perempuan lain yang punya sikap baik kayak Mayang. Lagian ini kan salah kamu, ulah kamu, kebodohan kamu sampai mau-maunya tergoda sama Lea yang sifatnya seperti itu!" omel Marini.
Ferdi membuang napas perlahan. "Lea kan sedang hamil anakku, Buk ... nggak mungkin aku ceraikan dia."
"Itu juga karena kamu yang pikirannya edan, Le ... bisa-bisanya istri ndak dihamili, malah hamili wanita lain. Ya Allah, Le ... salahku opo pas hamil kamu dulu?!" Marini menangis, menyesal, kalut, bingung. Seakan dia sudah kehabisan kata untuk menggambarkan betapa susah hatinya kini.
"Perasaan Ibuk dulu, mintanya anak yang berbakti, yang baik, yang bisa membahagiakan orang tua, tetapi apa Le ... kamu kayak gini, kamu bikin hidup kamu susah sendiri. Kenapa kamu ndak bisa neladani sifat Bapakmu, Le." Marini tersedu, tangannya menyangga kepala yang menggeleng pelan. Mungkin Marini sudah tak bisa memikirkan apa-apa lagi. Dia sudah pasrah pada apa-apa yang dilakukan Ferdi nantinya.
Ferdi mendekati Marini, duduk bersimpuh di hadapan Ibunya. Memohon ampunan dari wanita yang telah melahirkannya ini. Dihadapan ibunya, Ferdi selalu merasa kecil dan tidak berguna.
"Maafkan aku, Buk ... aku akan perbaiki hidup kita, Buk. Aku akan jadi anak yang lebih baik ke depannya, Buk." Ferdi menciumi tangan ibunya.
__ADS_1
"Buktikan, Le ... lepaskan Lea. Ibuk dari dulu ndak setuju kamu sama dia," ujar Marini penuh penekanan. "Ibuk ndak mau kamu hanya janji-janji saja sama Ibuk!"
"Ndak bisa, Buk." Ferdi mendongak, dia masih butuh Lea. Lagipula, jika dia menceraikan Lea, dia akan dicecar hutang lagi. "Lea hamil, Buk ... katanya Ibuk mau cucu."
"Iya, tapi dari Mayang, bukan wanita murahan macam dia!"
"Oh ... jadi begitu?" Lea muncul diambang pintu dengan tangan bersedekap.
Marini dan Ferdi menoleh serempak. Keduanya terkesiap, tetapi Marini langsung tidak ambil peduli. Bagus jika Lea mendengar semuanya, biar wanita itu pergi. Meski ia tahu, Mayang tak akan pernah mau kembali pada anaknya, setidaknya perusuh satu ini tidak lagi muncul di hadapannya.
"Lea ... kita bicara di kamar saja." Ferdi melihat gelagat dua wanita di hadapannya ini, siap memuntahkan amarahnya. Dia memilih mengamankan, kalau tidak kepalanya akan meledak karena pertengkaran mereka yang puluhan kali lipat lebih menegangkan dan keras.
Lea mengibaskan tangan Ferdi, dan terus berjalan lurus ke arah Marini yang membuang muka dan bersedekap angkuh.
"Aku bersedia cerai meski aku hamil, asalkan sebelum Mas Ferdi mengucapkan talak padaku, kembalikan uang tiga ratus juta dan tanahku yang terjual karena kebodohan Mas Ferdi. Apa kalian sanggup?" Lea memandangi dua orang itu bergantian. "Aku senang bisa lepas dari pria macam anak Ibuk ini, asal Ibuk tahu! Aku ndak mengemis hanya pada pria kere nggak tau diri macam dia, Buk!"
"Lea!" bentak Marini dan Ferdi nyaris berbarengan.
"Jangan sombong kamu!" Marini beranjak saking tak terimanya. "Baik ... akan Ibuk bayar, tiga ratus juta itu! Tapi pergilah dari sini secepatnya! Pergilah!"
"Oke, dengan senang hati!" jawab Lea seraya tersenyum penuh kemenangan. "Nikmati hidup penuh derita yang kalian banggakan itu!" Lea memutar tubuhnya dengan arogan dan kasar. Mencibir habis-habisan Marini dan Ferdi yang dianggapnya tak akan bisa hidup tanpanya. Rencananya jika uang itu di dapat, akan Lea pamerkan bagaimana gaya hidup orang kaya di depan Marini, yang sempat sebentar ia nikmati. Harapannya, Ferdi akan bertekuk lutut nanti, karena dia tak akan punya apa-apa selain gajinya yang tinggal beberapa ratus ribu itu. Belum lagi hutang lain yang setiap bulan harus di bayar. Ferdi pasti merengek lagi padanya. Ya, seharusnya seperti itu.
__ADS_1
Ferdi bergerak dalam kebingungan. Dia memandangi Ibunya. "Buk, kok bisa-bisa Ibuk bilang begitu?"
"Memangnya mau seperti apa? Bersujud di kaki wanita murahan seperti dia?"
Marini? Harus sujud di kaki Lea? Tidak sudi! Marini jelas lebih terhormat dari pada Lea.
"Setidaknya jangan sampai membuat Lea marah! Nanti gimana kita?" Ferdi sampai meringis membayangkan suramnya hidup setelah bercerai dari Lea.
"Ibuk akan makan dengan tenang, tidur nyenyak! Kalau kamu, Ibuk ndak tau! Kamu keloni aja itu guling! Yang ada ilernya Lea!" Marini beranjak dengan menyentak tubuhnya. Meninggalkan Ferdi yang merepet bingung.
*
*
*
*
*
*
__ADS_1
Hari ini update tersendat karena lelah bet🤣 maaf, ya ... makasih tipnya akak2 semua. Makasih semua dukungan yang membuat saya semangat lagi😍😍😍