Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Habislah Kau!


__ADS_3

Melihat sikap welcome-nya Rully ke Agung di parkiran tadi saja, Djarot sudah kepanasan apalagi sekarang melihat dua manusia itu tampak mesra, sudah pasti asap mengepul di kepala Djarot. Bagaimana bisa Rully tertawa lepas bersama pria lain saat seharusnya dia masih setia padanya. Apa Rully memilih berpaling begitu saja?


"Bapak terlalu lama menggantung dan mempermainkan perasaan Mbak Rully, jadinya dia milih yang available untuknya saja. Bapak terlalu bertele-tele." Roni berkata serius. Bukan sekali dua kali dia memperingatkan Djarot agar lebih berhati-hati berurusan dengan Rully. Mempersingkat hal yang rumit apalagi setelah Rully terang-terangan datang untuk menyerahkan diri. Sudah sejauh itu kejadian malam itu. Tetapi mereka seolah mundur lagi ke garis nol.


Djarot punya alasan melakukan itu. "Pernah kamu melihat saya merendahkan diri di hadapan wanita sampai saya tidak punya rasa malu dan harga diri? Pernah kamu mendengar nama saya begitu rendah di mata orang? Kamu tahu betapa Rully menyinggung harga diri saya sampai saya merasa menjadi pria paling buruk sedunia? Dia tidak mengiyakan, tetapi tidak menolak barang-barang yang aku berikan. Namun juga tidak pernah memakainya ... dari situ kemana kira-kira semua barang yang saya hasilkan susah payah?"


Roni terkejut bukan main mendengar itu. "Sebegitunya dia sama Bapak?" cetus Roni dengan kekesalan yang mulai timbul. Yang kita semua tidak tahu, bahwa di setiap barang-barang itu ada tingkah polah Roni yang tak terbilang lagi bagaimana bentuknya. Tidak bisa gitu juga, dong, meski cantik ber-spek bidadari.


"Aku tidak pernah melebihkan atau mengurangi perkataan, kalau tidak jangan sebut saya pengacara." Djarot marah, tapi dia merasa lemas sampai tulang belulangnya terasa menjadi jeli. Ia menjatuhkan diri di jok mobil, kemudian memeta langkah selanjutnya.


"Benar, Bapak hanya memutar-mutar kalimat saja." Roni masih mengawasi kemesraan Rully dan Agung, yang sebenarnya biasa-biasa saja. Hanya saja di mata orang terbakar api cemburu, semuanya adalah salah dan luar biasa. Otak seakan menyiramkan bensin ke atas tumpukan bara, lalu emosi menyumbangkan setumpuk kayu bakar. Menggelegar sudah api di sana lengkap dengan kepulan asap membara.


 "Jadi kita harus bagaimana?" Roni menghindari menunjuk Djarot seorang demi menyelamatkannya dari kata-kata kasar bosnya, selain itu, dia banyak belajar dari Djarot bagaimana mengetahui atau mencari informasi tanpa ketahuan dan terlalu kentara.


"Kita terus pantau mereka," Djarot memejamkan mata, seolah ingin mempertajam bayangan samar rencananya yang kasar dan terkesan memaksa.


Roni kembali pasrah. Bosnya juga belum punya rencana, akan tetapi jelas pria itu sedang berpikir keras. Roni menjadi sangat bosan, tanpa bisa merokok, dia hanya mengunyah permen karet yang sudah habis dua kotak. Di dalam Pajero putih penuh sejarah ini, Roni menunjukkan loyalitasnya.


Selang tiga puluh menit, Rully bergerak dan Roni mengikuti mereka tanpa menunggu perintah.


"Ini jalan kemana, Ron? Rumah siapa yang di tuju Rully?" Dia sedang menyangkal kalau Rully dengan senang hati mengantarkan Agung pulang. Ini makin membuat Djarot meradang. Agung benar-benar melakukan apa yang Djarot sarankan tadi. Benar-benar gila.


"Saya belum yakin, Pak ...," jawab Roni datar. Jelas dua orang itu tahu kemana arah tujuan Rully.


Sementara di depan mereka, Agung yang mulai bisa menguasai keadaan dan sedikit tenang karena Rully barusan mengatakan apa yang menjadi masalahnya, terus mengeluarkan candaan sampai membuat Rully tertawa.

__ADS_1


"Jadi setelah obrolan kita sejauh ini, apalagi sebentar lagi saya sudah mau sampai rumah, tetapi Mbak belum mau mengatakan siapa pria itu, apa artinya akan ada pertemuan lain setelah ini?" Agung mendesak ketika Rully masih diambang terlena. Wanita itu masih berusaha menguasai diri.


Rully masih ingat kalau Agung tetaplah Agung yang manipulatif orangnya, jadi dia juga harus pintar mengotak atik agar Agung ikut terjebak. Rully hanya kelihatannya saja lengah, tapi dia selalu waspada.


"Aku sih, tidak, ya ... tapi kayaknya kamu yang ngarep ada pertemuan kedua, ketiga dan seterusnya. Aku tahu, akan susah bagi pria jika sudah terkena paparan auraku yang mempesona untuk move on." Rully berkata tanpa ekspresi yang berarti. Bagaimana itu bisa? Agung bingung sendiri mau menjawab pakai golit(gombalan elit) atau tanggapan yang sungguh-sungguh. Agung bertaruh, ia mempertaruhkan harga diri ketika ia memutuskan untuk mengikuti apa kata Djarot tadi.


"Benar sekali. Aku mengharapkan ini bukan pertemuan terakhir," jawab Agung dengan ekspresi serius. "Kamu benar-benar beda."


Rully ingin menaikkan alis untuk menunjukkan betapa remeh dan terlalu biasanya alasan itu. Akan butuh banyak gombalan yang mumpuni untuk membuat Rully hanyut pada pusaran yang dibuat Agung. Dia bukan wanita-wanita muda dan perawat magang di klinik Gian. Dia wanita dewasa yang punya prinsip terutama soal Agung. Sorry, bukan soal kasta, tetapi Rully harus memastikan, setelah menikah dia hanya akan berbahagia, bukan meributkan harta. Latar belakang Agung tidak bisa diterima oleh Rully. Tepi dia bukan orang yang alergi bergaul dengan siapapun dari kalangan manapun. Namun soal jodoh dia harus pasang filter dan target benar-benar.


Sampai ketika mobil Rully berhenti di depan rumah sederhana di sebuah desa, Agung masih digantung oleh Rully. Wanita itu diam, datar, tetapi dia tampak tidak terganggu atau merasa jijik dengan Agung. Ini kan aneh? Biasanya, gombalan dari orang tak berpunya macam Agung, akan membuat wanita kaya seperti Rully akan langsung menjaga jarak, atau tindakan ekstrem lainnya. Misalnya menurunkan ditengah jalan atau memaki-maki dengan meneriakkan kasta sebagai pembedanya.


"Aku perlu turun buat kasih penjelasan ke ibu kamu, kenapa anak lelakinya pulang telat?" Rully menatap sekeliling dimana ada sekelompok ibu-ibu sedang mengerubuti tukang sayur. Tangan boleh memegang sayuran, tetapi mata tetap fokus pada kedatangan mereka.


"Ibuku tidak memerlukan itu, kan? Ibuk pasti sedang di kebun sekarang." Agung paham, kemudian dia mengambil ranselnya, "kalau mau ngeteh anget bolehlah mampir dulu."


"Itu memang pohon mati, sejak pemiliknya mati dua bulan lalu." Agung menjelaskan.


"Ih, pohon seram dong kalau gitu?" Rully bergidik ngeri


"Tidak juga," kata Agung seraya memperhatikan pohon yang tumbuh di samping rumah Agung. "Dulu sempat bikin perselisihan antara pemilik pohon yang mati sama pemilik rumah itu tuh," tunjuk Agung pada belakang rumah pemilik pohon.


Agung menoleh. "Daunnya mengotori halaman."


"Lalu?"

__ADS_1


"Nggak tahu di kasih apa, tujuh hari setelah pemiliknya mati, pohon jati ini juga mulai mati. Kata orang dikasih obat apa gitulah, aku sama ibuk nggak terlalu nguping. Soal daun kering yang suka memenuhi halaman dan talang air rumah kami, Ibuk tidak keberatan untuk membersihkannya. Toh kadang Ibuk juga butuh daunnya, kadang malah sampai disuruh jual biar nggak terlalu rimbun daunnya."


"Oh ...." Rully mengangguk, namun itu semua hanya pengalihan. "soal tadi ...."


Agung siap turun tetapi berhenti dan mendengarkan penuh harap. Jika iya, maka artinya Agung ahrus mulai bekerja keras untuk menyamai Rully.


"Kecuali kamu benaran kehabisan ongkos pulang, tidak ada bis, atau angkutan ... kamu boleh telpon saya dan akan saya antarkan pulang." Ucapan Rully terdengar kejam, tetapi Agung sadar, kalau memang itulah yang seharusnya diucapkan Rully, agar dia tidak banyak berharap.


"Aku tahu kamu kesulitan, tidak apa-apa kalau kamu meminta bantuan seperti tadi, tapi lain kali katakan tujuan awalmu dengan jelas. Jika orang lain, pasti mereka mencak-mencak tak karuan setelah sadar kamu perdayai."


Beruntung itu Rully, yang memang sedang ada masalah dan butuh ketenangan.


Wajah Agung merah padam tanpa melewati merah muda terlebih dahulu. Wanita ini sungguh bukan kelas seorang Agung. Seharusnya dia berpikir dulu sebelum melaksanakan ide gilanya mengelabuhi Rully. Disini jelas Agung harus tahu, tidak semua wanita sama, terlebih yang punya kualitas seperti Rully.


"Makasih, ya, udah mau nemenin aku makan dan menenangkan diri. Jangan terlalu dipikirkan, hanya kalau ucapanku benar, pertimbangkan. Wanita tidak semuanya bodoh pas diperdaya ... aku pamit dulu."


Agung terkesiap, karena dia masih duduk termenung di kursi penumpang, ia tergagap. "Aku yang harusnya bilang makasih ... Mbak."


"Itu tidak perlu. Salam buat Ibumu yang gigih membesarkan dan mendidik kamu sampai kamu sesukses ini."


Agung masih dalam perjalanan turun kala mendengar itu. Oh, sungguh mulut yang tajam dan berbisa sampai hati Agung berdenyut-denyut. Wanita itu menyindir dengan telak. Mana ada ibu yang mengajari anaknya menjadi orang yang manipulatif? Agung tertampar sebadan-badan.


"Bye ...." Rully tersenyum lebar tanpa ada kesan marah atau sebersit ekspresi kemenangan. Wanita itu masih terdengar biasa saja. Agung hanya bisa membungkuk seraya memeluk erat-erat ranselnya. Tuhan, apa besok-besok aku masih punya muka jika harus berpapasan dengan dia?


Rully mengambil langkah mundur dan memutar haluan mobilnya di halaman rumah tetangga Agung sebelum melaju ke jalan raya. Wanita itu terbahak-bahak saat mengingat eksresi Agung yang berubah-ubah dan ketakutan. Rully rasanya tak tega, tapi dia tidak mau lagi diperdaya.

__ADS_1


Kesenangan Rully berakhir ketika sebuah Pajero putih menghadang laju mobilnya. "Wong edan! Sudah bosan hidup opo?" umpat Rully kala moncong Jazz-nya nyaris mencium body mobil putih. Rully turun buru-buru dan siap perang dengan pengemudi ugal-ugalan itu.


"Hei ... turun kau pengemudi mabok!"


__ADS_2