Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Sorry, Nggak Minat


__ADS_3

"Sudah malam, Mas ... sebaiknya kamu kembali ke klinik. Lea lebih membutuhkanmu." Mayang berdiri, mempersilakan Ferdi pulang. Sebentar lagi Gian pulang setelah ada operasi mendadak tadi.


"Yang ... Mas mohon jangan benci Mas setelah ini. Mas ingin tetap berhubungan baik denganmu." Entah kenapa, Ferdi tak tahu malu mengatakan itu. Dia hanya tidak mau kehilangan Mayang, tetapi juga tidak ingin berpisah dari Lea.


Dari Lea, Ferdi tetap bisa membayar cicilan mobil, dan meski Lea sangat kasar, Lea tetap mau mengurusinya. Saat ini, jika dia tetap mengikuti apa kata Ibunya, Ferdi tak akan bisa hidup dengan baik. Gajinya tak cukup untuk hidup sebulan setelah semua potongan hutang yang ada. Jelas, Ferdi harus menopang hidup sang ibu, sebagai anak lelaki, pengganti sang bapak.


"Tetapi semua ndak lagi sama, Mas ... ada perasaan suami yang harus aku jaga. Aku ndak bisa menerima tamu pria seperti ini tanpa sepengetahuan suamiku. Apa yang aku lakukan tetap harus atas izin Mas Gian." Mayang menegaskan.


Bersamaan dengan itu, yang disebut Mas Gian muncul di depan pagar dengan senyumnya yang bahagia.


Kupingnya mendengar Mayang memanggilnya Mas Gian di depan sang mantan. Uh, andai boleh serakah terus meminta dan memaksa Mayang memanggilnya begitu.


"Mas sudah pulang?" Mayang agak terkejut, kapan Gian datang? Membawa bungkusan pula.


Mayang bagai melayang menghampiri suaminya, lalu memeluk lengan Gian dengan mata dikedip-kedipkan cepat.


"Kamu kelilipan pasir?" Gian tampak panik dan menangkup pipi Mayang. "Buka mata kamu lebar-lebar, Sayang ... biar Mas tiup pasirnya—sini."


Gian memaksa mata Mayang terbuka, lalu meniup pelan meski Mayang ingin berontak. "Udah ilang, Sayang ... lain kali ati-ati. Nggak usah lari-lari nyambut Mas. Di dalam aja, dandan yang cantik dan wangi, biar Mas makin sayang sama kamu."


Gian menghadiahkan kecupan kecil-kecil, mulai dari mata, hidung, kening, pipi, dan terakhir di bibir. "Kangen banget sama kamu, Yang ... setelah seharian kerja."


Mayang merasa terjebak pada akhirnya. Ia lupa kalau Gian adalah orang paling tidak tahu malu dan tidak peduli pada dunia. Jika hanya Ferdi tentu ia bisa menganggap kalau Ferdi adalah makhluk tak kasat mata, Gian pernah menyatakan cinta di depan pengunjung kafe, yang berakhir diseret Mayang. Harga diri Gian memang ngesot. Tapi tetap saja, dia mendapatkan tatapan memuja.

__ADS_1


"Kok diem ... nggak kangen sama Mas?" Usapan di dagu membuat Mayang blushing dan gerah.


"Kangen, tapi masih ada tamu." Mayang menggerakkan matanya ke samping.


"Oh ...." Gian menepuk keningnya, "Maaf aku suka khilaf kalau lihat kamu, Sayang." Sekali lagi, Gian mengecup bibir Mayang, lalu menggandeng Mayang menuju teras.


"Aku bawakan kamu kebab, katanya lagi pengen itu." Gian berkata sangat mesra di sebelah kepala Mayang yang terus ia kecupi.


Mayang membatin, kapan dia minta kebab? Ngadi-ngadi Pak Dokter mah.


"Maaf, harus melihat itu semua." Gian mengulurkan tangan pada Ferdi yang tangannya seolah lengket dalam kepalan. Jemarinya seakan tak mau berpisah saking kuatnya ia meremas tangannya sendiri. Tentu saja ini hanya akal-akalan Gian saja. Sudah pasti Ferdi melihat itu semua walau Gian tidak mengatakannya.


Senyum Gian tak henti melebar saat menunggu sambutan niat baiknya. Gian menantinya dengan sabar.


"Tidak apa-apa." Ferdi bersuara pada akhirnya. Ia harus tetap bersabar dan tidak boleh menunjukkan emosi meski dalam hatinya terasa panas. "Sebaiknya saya segera pulang, sudah lama saya berada di sini."


Panas nggak tuh hati lihat kemesraanku sama Mayang, batin Gian.


"Ah, kebetulan saya hanya lewat di sekitar sini dan yah, saya hanya ingin bersilaturahmi saja." Ferdi gugup setengah mati, Gian memang selalu mengintimidasi. "Saya pamit, Yang."


Ferdi langsung meninggalkan rumah Mayang, tanpa menoleh lagi. Hatinya sakit bagai ditusuk tusukan sate. Nelangsanya ini, begitu nyata saat melihat mereka berdua sangat mesra.


Begitu Ferdi lenyap, Gian menggeser Mayang lebih rapat padanya. "Ngomong apa aja sama mantan?"

__ADS_1


Mayang menoleh dan memajukan bibir bawahnya. "Nggak ada, Mas ... hanya silaturahmi dan ngadu soal rumah tangganya." Bahu Mayang naik, terlihat sekali kalau dia malas membahas Ferdi.


"Awalnya kan emang ngadu alias curhat, trus nanti jadi simpati, trus jadi deh selingkuh." Gian mencecar, tetapi tetap santai. Dia tidak marah, cemburu juga kelihatannya terlalu berlebihan. Hanya menggoda Mayang adalah hal menyenangkan. Malah ia senang, Mayang lupa mengubah panggilannya, dari Pak Gian jadi Mas Gian. Uh, semoga lupa terus.


Mayang mendelik lalu mencubit perut Gian, hingga pria itu meringis. "Kira-kira kalau saya selingkuh sama Mas Ferdi itu apa sepadan dengan Bapak?"


Yah, udah balik aja baru diomongin.


"Jadi ngomongin apa, tadi? Ngajak balikan?" Gian mengusap bekas cubitan Mayang, yang terasa sampai ke ubun-ubun.


Mayang membuang napasnya keras, "stroberi mangga donat ...."


Gian sampai memgerutkan keningnya, saking tidak mengerti apa yang dibicarakan Mayang. Namun sebelum Gian bertanya lebih lanjut soal ucapannya, Mayang menjawabnya tepat di depan wajah Gian.


"Sori, ndak minat!" Mayang merampas bungkusan yang katanya kebab khusus untuknya, lalu berlari ke dalam rumah, membiarkan Gian mencerna pantun ala kadarnya, seperti yang dia dengar di tivi.


*


*


*


*

__ADS_1


*


Buka bentar ya, tadi belum sempet😄


__ADS_2