Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Dibelah Dua


__ADS_3

Kini, Rully harus melipat kakinya rapat-rapat saat berjalan menuju mobil dengan kemeja Djarot yang lain sebagai simpul penutup tubuh pinggang ke bawah. Sisa benda tajam bagai pedang itu masih mengganjal di sana. Membelah tubuh Rully mulai dari inti sampai ke ubun-ubun. Tapi meski begitu, dia tetap santai.


Biar rambutnya berantakan, biar penampilannya kacau, tapi senyumnya merekah senang. Dia menang banyak dengan memiliki suami berkualitas terbaik. Terlepas dari dirahasiakannya pernikahan ini dari kawan satu geng Rully. Ya, dia akan mengundang temannya itu khusus nanti, setelah sepasaran(sepekan setelah menikah) atau maguti(36 jari setelah menikah/selapanan)¹.


Ya, itu karena Rully terlanjur bilang no jika sisa Djarot saja pria di dunia ini untuk dinikahi. Tetapi sekarang apa? Bahkan dia menggoda-goda Djarot agar mau menyetubuhinya. Hahaha ... pasti dia akan malu nanti, tapi tentu dengan seperangkat keperkasaan Djarot, Rully siap jika harus kena olok-olok, meski tidak sekarang.


Setidaknya, di depan keluarga Djarot, Rully harus tetap wanita sempurna.


"Pakai maskermu dengan benar, Rully!" Djarot mengingatkan saat masker istrinya turun dan menampakkan hidung bangir Rully. Mata Djarot melirik sekawanan orang yang melintas, tiga lelaki diantaranya melirik Rully penasaran. Bagaimanapun, kaki mulus itu tetaplah tampak di mata mereka.


Ingin Djarot memakaikan celana miliknya, atau membungkusnya bak pakaian londrian di bagasi mobilnya.


"Iya, Mas ... maaf, tadi melorot." Rully segera mepet ke belakang suaminya yang sedang membuka mobil dan menghalangi pandangan luar mencuri kepadanya. Senyumnya kembali nyengir.


"Nggak usah cengar-cengir, mau besok jadi bengkak dan memar semua badan kamu?!"


"Astagfirullah, Mas ... kamu ini loh, kok kasar banget sama aku!" Rully melipat bibirnya menahan senyum.


"Nggak usah akting, Rul ... aku tau kamu itu suka dikasari!"


"Hehe ... Iya, sih."


Djarot menutup pintu dengan masam. Dia berpikir, sikap brutalnya saat bercinta akan membuat Rully ketakutan, tapi ternyata ... gadis itu malah kesenangan. Malah melunjak dan minta lagi. Lagi dan lagi.


Kepala Djarot yang pening sepanjang hari hanya lenyap saat dia menyatukan diri dengan Rully, kini saat mereka berjauhan, Djarot kembali berdenyut.


Ia menggeleng dan segera memutari mobil untuk duduk di balik kemudi.

__ADS_1


"Tapi, Mas ...," rengek Rully seraya menggeser duduknya ke dekat Djarot. Lengannya mengait lengan Djarot yang sedang memasang sabuk pengaman. Kepalanya menyandar. Ia sudah melepas maskernya ke dagu.


"Pakai sabukmu, Rul ... kita mau jalan." Djarot kesal sekarang. Ini berbahaya dan tidak aman bagi tubuh Djarot yang selalu 'on' saat apapun yang berasal dari Rully menggeseknya.


Djarot melirik, Rully merengut dibuat-buat dan mendongak memandangnya.


"Ih, cuma setengah kilo aja, kok ... emangnya mau nabrak apa? Aku kan masih ingin deket-deket sama kamu, Mas ... harusnya kita nggak usahlah kembali ke gedung itu. Kita di sana aja sampai sebulan kalau perlu." Mata itu berkedip-kedip, menyebalkan dan nakal.


Bibirnya membulat seolah mengisyaratkan untuk meminta dicium. Djarot frustrasi. Ini wanita kelewatan agresif. Haruskah dia minta Roni beli jamu kuat untuk malam ini? Apa itu tidak sakit? Padahal jelas sekali kalau gesekan demi gesekan itu terkesan menyakitkan untuk sekarang. Sepanas apapun pemanasan yang Djarot berikan, tetap saja itu masih sangat seret.


"Pakai maskermu!" Hanya itu saja yang mampu Djarot katakan, lalu tangannya dengan sigap menaikkan masker Rully hingga mulutnya yang monyong itu tertutup.


Rully hanya tergelak melihat kejengkelan Djarot. Ia melipat kakinya ke atas jok, dan terus memprovokasi suaminya itu saat mengemudi. Jelas mata pria itu sesekali melirik pahanya dan Rully tertawa lebar karena Djarot menggeram setelahnya seraya menampar bagian itu pelan.


Senja telah datang saat Rully meninggalkan homestay itu, dan mulai gelap saat tiba di hotel tempatnya menginap bersama keluarga besar Djarot. Dia segera masuk ke ruangannya setelah perias yang sudah akrab dengannya itu menyambutnya dengan omelan, dan mulai melakukan pekerjaannya saat menaiki lift.


Rully hanya nyengir. "Yang di leher agak tebalan ya, biar gak kelihatan itu tanda cinta suamiku."


"Dasar perawan tua nafsuan!" sembur MUA itu jengkel lantas ia menabok pantat Rully kuat-kuat.


"Aww, itu bekas ditabok Mas Djarot, jangan kamu tambahin lah. Masih ngilu." Rully meringis pelan.


Perias itu membeliak, "Dia main kasar, ya gak, sih?"


"Dia hanya kelewat gemas dan hanya puas dengan melakukan itu, jadi ya, udah lah, ya ... Dia juga tahu kapan waktunya berhenti, kok ...." Rully menghibur kawan periasnya. Dia tidak tahu nanti, tapi sejauh ini, Djarot masih dalam batas wajar. Setidaknya, Rully bisa menerima dan juga cukup mampu mengimbangi. Atau memang, Rully mulai memikirkan kalau memang Djarot lah yang pas sepadan untuknya.


Entahlah ....

__ADS_1


Acara itu jelas molor jauh dari jadwal. Djarot dan Rully yang masuk ke ruang resepsi dengan bergandengan tangan, menyapa seluruh tamu dengan senyuman hangat yang tulus. Rully melihat mertuanya menyambutnya dengan Putri berdiri di sebelahnya. Dia ikut menaburkan bunga.


Rully mendadak masam dan menaikkan dagunya. "Dia mau cari masalah kayaknya."


"Jangan macam-macam, di sini yang hadir adalah teman-temanku." Djarot mengingatkan dengan gigi merapat, tanpa melepaskan senyumnya yang lebar.


Rully membuang napasnya. "Kalau dia yang mulai ya, apa boleh buat."


"Kamu udah miliki aku, Rul ... kurang apa? Anggap mereka itu pengganggu yang iri melihat keberhasilanmu menaklukkan aku." Djarot kini membuang mukanya ke sisi lain yang mampu menjangkau tamu di ujung ruangan.


Rully berdecak. Itu sih jelas, tapi baginya, yang usil harus diusir jauh-jauh. Pasang pelat kepemilikan besar-besar dan jelas. Djarot hanya milik Rully seorang.


"Dia hebatnya apa, Mas?"


"Bahasa inggrisnya lancar dan fasih, bahasa mandarin, jepang, dan korea menguasai. Dan sedang belajar bahasa jerman dan perancis. Dia lulus sarjana dalam waktu kurang dari tiga tahun, sedang mengajukan lamaran di kedubes RI untuk Jerman." Djarot melirik Rully. Entah itu mengintimidasi atau tidak, Djarot hanya perlu mengatakan semuanya. Dia tidak menyuruh Rully perang tanding, hanya menyiapkan istrinya bila harus berhadapan dengan Putri soal kecerdasan. Yah, meski Djarot merasa tidak perlu kejeniusan tingkat dewa untuk menjadi istrinya. Dia hanya mau istrinya setia, pengertian, dan tidak manja. Itu pasti ada di Rully.


"Oh, aku bahasa inggris aja cuma yesno-yesno." Rully berkata jujur. "Sudah deket banget?" Mereka telah berjarak sekitar dua langkah dari Murdyo dan Rustina. Senyumnya masih lebar dan bahagia.


"Aku dekat sama Melly malah. Putri baru tahu profil nya dari Ibuk dan orang tuanya sudah sering ketemu, tapi kalau ketemuan sama Putri baru dua kali pas di Jakarta dan Singapura."


"Kamu mengunjunginya?" Rully berhenti dan menoleh. Menatap Djarot sungguh-sungguh, hatinya berdenyut secara mendadak. Itu bisa saja kan terjadi sesuatu? "Dengan sengaja?"


"Ya, aku sengaja menemuinya," jawab Djarot seraya menarik tangan Rully agar dia kembali berjalan. Djarot semula menatap Rully, tapi kemudian kembali ke arah depan. Tatapannya datar dan kaku.


"Aku lelah ketika aku sedang ada seminar atau urusan penting untuk karirku, Ibuk mendesak dan tidak berhenti nelpon aku agar mengunjungi Putri. Dia baru akan berhenti kalau aku dan Putri sudah video call sama Ibuk. Ya, paling aku hanya sepuluh menit ketemuan sama Putri."


Djarot ingat, saat dia sedang di Batam, Rustina mendesak Djarot untuk ke Singapura, dimana Putri sedang melamar kerja di sana. Dan baru puas meneror Djarot setelah Djarot menghubungi ibunya bersama Putri.

__ADS_1


Djarot waktu itu hanya sekitar sepuluh menit berada di negeri yang dijuluki negara termaju di Asia Tenggara itu.


__ADS_2