
Menikah itu mudah, Gian membuktikannya. Kalau tidak mau ya, dipaksa saja, asal memang hati hanya terpaku pada calon bidadari hatimu.
Kendati usai akad digelar baik Gian dan Mayang menuju tempat kerja masing-masing, tapi kelegaan dan beban pikiran berkurang tak bisa hilang dari wajah Gian. Pria itu tersenyum sepanjang perjalanan dari Tiga Dara ke kliniknya.
Gian disambut tatapan keheranan dari para staf di kliniknya. Tak percaya pria galak dan sadis cenderung psyco itu bisa mengeluarkan senyum tanpa sebab seperti itu. Yang bagi kebanyakan stafnya merupakan bentuk lain sebuah kekejaman yang akan menimpa mereka.
"Pak Gian, tolong jangan dikurangi jatah libur kami," gumam seorang bidan yang bekerja di bawah pengawasan Gian.
"Lah, kamu mah enak, meski libur cuma dua hari, tapi tiap dipanggil pas partus, kamu ada komisi, beda sama perawat kaya aku, meski libur empat kali sebulan, tapi gaji kami nggak mau mekar, bantet dari jaman berdiri sampai sekarang," sahut perawat wanita yang sering dongkol dengan jumlah gajinya.
"Namanya juga klinik baru, masih cari nama dan prestasi, pelayanan baik dan cepat biasanya menentukan pilihan masyarakat. Pak Gian mah adil, ia memaksa bidan kerja tambahan, tapi komisi juga royal, jadi ya, aku pikir dia cerdas dan menghargai tenaga karyawannya." Yang lain membela Gian.
"Kenapa jadi bahas gaji ... kita bahas senyum Pak Gian yang kaya bunga raflesia, langka dan hanya mekar sesuai dengan lingkungan tempat tinggal."
"Juga tergantung adanya inang, yang bisa membuat senyum Pak Gian mekar selebar raflesia."
"Inang Pak Gian pasti memuaskan, kalau tidak, mana mungkin parasit kejam macam dia bisa dipuaskan sama inang ecek-ecek."
"Haish, kenapa pikiranku jadi traveling, bayangin Pak Gian lagi main kuda-kudaan sama inang cantik dan seksi, ya!"
Mereka tergelak menertawakan Gian. Meski galak, pesonanya tak pernah luntur maupun tertutup. Gian pada dasarnya baik, hanya kadang dia suka nyolot tak terkendali saat marah.
Sambutan berbeda datang pada Mayang, mereka—karyawan Mayang, berkumpul dan memberikan ucapan selamat. Mereka senang akhirnya Mayang lepas dari Ferdi.
Namun, kegembiraan itu sirna kala Lea datang dan duduk dengan angkuhnya di sebuah meja. Kakinya menyilang, kacamatanya dilepas dengan gaya yang begitu kemayu.
__ADS_1
"Sepi banget ... nggak punya pelanggan tetap lagi, ya?" Lea berkata keras-keras. Ya, memang rumah makan ini sepi karena baru buka. Mayang menutupnya dan membawa makanan ke rumahnya saat akad nikah tadi. Selebihnya, Gudang Rasa mengambil alih, bahkan Wita membuat tulisan di rolingdoor depan, bahwa rumah makan tutup sampai jam makan siang. Yah, Gudang rasa kebanjiran pembeli.
Mayang mendengar itu dari kursinya di meja kasir. Suara menyakitkan itu datang seakan mengantarkan wajah dan tubuhnya untuk menerima murka Mayang.
"Nggak mau diajak kerja sama, nggak mau investasi alasannya bukan usaha yang awet, eh. dicoba juga. Bilang aja takut kalah saing sama aku." Lea terus mengoceh sendiri.
Mayang datang dengan langkahnya yang tenang, seolah Lea bukan apa-apa baginya. Sementara Lea tiba-tiba merasa kesal melihat Mayang yang cantik dan seksi, dia kalah jauh sekarang. Ah, sial sekali.
"Eh, bosnya keluar? Ups, aku ngomongnya salah, ya? Yang bener udah bangkrut dan mau gulung tikar." Lea menutup mulutnya dengan gerakan dibuat-buat.
Mayang memutar bibirnya, mengambil posisi duduk di depan Lea. "Kenapa, ya, aku kok iri sama orang yang lebih sukses dan mampu mengatasi masalah yang dikirim seorang pecundang?"
"Dan lagi, di depak itu rasanya ndak enak, walau kayaknya udah menang. Kek ada yang kurang gitu kalau ndak usil dan jahil." Mayang begitu santai menanggapi Lea yang tampaknya agak ciut melihat Mayang biasa saja.
"Sombong sekali kamu, Yang ... baru begini saja kamu sudah ngajarin aku gimana cara bersikap." Lea menggebrak meja. "Diatas langit masih ada langit, jangan sombong! Nanti kekayaanmu diambil, baru kamu tau rasa."
"Begini saja kamu sudah kehilangan banyak pelanggan, gimana kalau tau bahan masakanmu busuk semua?" cibir Lea menantang. Ia sungguh ingin menjajal kemampuan wanita yang menurutnya manja dan bodoh.
"Coba saja semua usahamu itu, Le ... aku ndak akan takut apalagi mundur. Tapi, jika kamu sudah keterlaluan, akan aku balas dengan hal yang sama seperti yang kamu lakukan padaku." Mayang menjawab lunas semua tantangan Lea.
"Aku sombong karena ulat bulu kecil sepertimu menggangguku. Aku sombong karena aku punya, aku sadar diatas langit masih ada langit, tapi kamu ndak sadar kalau nasehat itu lebih pantas diberikan padamu. Bukan aku."
"Jika kau terus mengerjaiku, jangan salahkan aku kalau aku akan terus memepet kamu layaknya permainan catur. Aku terus menskak kamu kemanapun langkahmu menuju, tak akan aku biarkan kamu bernapas lega walau sedetik, sampai kamu menyerah!"
Lea melebarkan mata sebagai reaksi. Bibirnya kelu. Mayang tampak sungguh-sungguh dengan ancamannya.
__ADS_1
"Menguras tabunganmu, mengusirmu dari kos, melemparkanmu ke jalan sudah aku lakukan, bahkan tanganku tak segan menamparmu. Apa itu belum membuatmu sadar dan mengerti kalau Mayang bisa melakukan banyak hal dengan tangannya. Bayangkan kalau aku pakai uangku untuk membinasakanmu? Apa kamu yakin kamu masih akan bisa bicara seperti ini?"
Lea terdiam. Namun jelas dia amat terhina. Bingung mau menjawab apa. Itu benar. Bahkan Mayang menghasut Ferdi agar mereka ribut terus dulu. Sampai akhirnya, hubungan Lea dan Ferdi harus renggang.
"Kalau kamu udah menggigil, sebaiknya kamu pulang, kami bukan pengasuhmu yang akan mengepel ompolmu, Le!" Mayang jelas melihat Lea pias. Mata itu bergoyang lembut. Getar di tangan Lea juga tak bisa di sembunyikan. Jelas Lea takut. Hanya sedang berusaha bertahan dengan sisa harga dirinya yang ada. Sungguh tak tahu malu.
"Kamu tau jalan keluarnya, kan? Kalau lupa, biar aku tunjukkan, mari!" Mayang berdiri, menyilakan Lea berjalan lebih dulu. Namun, Lea yang bebal, tentu akan merasa dirinya benar.
"Sombong kamu, Mayang. Tuhan tidak akan tinggal diam, pasti akan ada karma untuk wanita sombong seperti kamu!" Lea berdiri dan memutar tubuhnya dengan cepat, mengibas rambutnya yang panjang dan lurus di depan Mayang.
Mayang hanya tersenyum, "Kaca matanya dibawa, Bu Lea ... disini ndak nerima barang kw apalagi barang murahan kaya gini."
Lea menghentikan langkahnya, lalu berbalik mengambil kaca mata coklat kemerahan di meja depan Mayang. Meski KW tapi tetap saja, ia keluar uang untuk membelinya. Sialan!
Mayang terkekeh geli. "Nasehatnya makasih, ya, Bu Le ... nasehat yang sama juga buat Bu Le."
*
*
*
*
*
__ADS_1