Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Apa?


__ADS_3

Rully menelan ludahnya saat ia tahu ternyata malam ini dia langsung diperkenalkan pada keluarga besar Djarot.


Semakin cepat semakin baik, begitu kata Djarot.


Dengan gelisah, ia menatap tampilannya di cermin. Dia tidak mau terlihat tidak anggun sekarang, walau bukan merubah ciri khasnya yang ceria, tetapi ia lebih ingin menjaga sikap.


Djarot tersenyum puas melihat penampilan Rully yang dibalut atasan batik dan celana kain longgar sampai menutup mata kakinya. Kaki Rully terlihat lebih besar, dan dia tidak tampak kurus.


"Setelah ini, kamu harus banyak makan, seusiamu, tidak seharusnya berbobot 48 kilo." Alih-alih menilai, Djarot menyarankan sesuatu yang baik. Ia ingin calon istrinya tidak nampak kekurangan gizi.


"Aku hanya terlalu sibuk, Pak ... sibuk mengalihkan pikiranku dari mu." Rully menyengir.


Djarot tertawa, "Mikirin aku nolak kamu waktu itu?"


"Iya ...," jawab Rully malu. "Salah satunya itu, yang lainnya, kebanyakan menahan marah dan cemburu. Saya sampai tidak bisa makan atau tidur dengan nyenyak. Ngomong sama Mayang juga malu, jadi akhirnya bikin badan saya kurus kering."


Djarot meminta Rully jalan duluan, "tolong hati-hati di tangga, ya ... jangan meleng."


Rully membulatkan jemarinya, ia menarik celananya ke atas agar tidak terinjak oleh heels sepatunya. Beruntung Rully selalu bawa sepatu di dalam mobil, hanya untuk pakaian dia tidak siap. Ini tadi ia membeli dadakan untuk acara ini. Meski tidak resmi, tapi pakaian batik couple ini lumayanlah.


"Nanti saya harus gimana, Pak?" Tanya Rully seraya terus melangkah. Tetap sepatunya terredam dan menggema.


Ia menoleh untuk menatap Djarot. Sungguh ia ingin Djarot memberi tahunya sesuatu. Paling tidak, kejadian tadi sore tidak terulang lagi.


"Jangan panggil saya 'Pak' di bawah nanti," jawab Djarot seraya melihat jam di tangannya.


Rully memanas. "Semoga tidak keceplosan. Saya suka konsep bapak dalam hubungan kita, Pak. Kaya pejabat yang panggil suaminya pak dan ibu, gitu. Kalau mas dan adek, nanti dikira kakak adek, dan Pak Djarot di godai wanita lain lagi."


"Pak Bu kesannya juga kaya tua banget, nanti aku dikira bapak kamu, atau atasan kamu. Bisa kena pasal aku nikahi anak di bawah umur."


"Saya tidak semuda itu, Pak." Rully semakin salah tingkah. Ingin rasanya ia kembali ke depan cermin dan memandangi mukanya yang sudah tua.


Tapi memang, selain rajin perawatan, Rully dianugerahi wajah yang awet muda. Dia selalu pantas memakai seragam sma-nya. Hanya tambah berisi sana sini. Yang membuat dirinya makin menarik. Kuncinya cuma satu, Rully tidak mau ribet soal urusan cinta yang menyakitkan. Sekiranya toxic, Rully memilih memutuskan. Buat apa jalani hubungan sia-sia? Hidup bukan untuk menangisi pria yang tidak berguna. Lagian, semua yang ada  di hidup Rully sesuai dengan keinginannya, jadi apa yang harus membuatnya berpikir keras dan berat?


"Kita akan lihat jawabannya di bawah. Saya harap, apa yang saya pinta, sudah kamu siapkan." Djarot tidak mau berdebat soal penilaian. Pasti yang mengalami tidak akan merasa. Hanya jawaban dari orang lain yang menjadi pembandingnya.


"Saya kirim filenya ke hape Bapak, nanti saya pakai hape Bapak saja." Rully telah mendarat di lantai berwarna coklat itu, ia menatap Djarot agar sejajar dengannya.

__ADS_1


"Tapi kenapa banyak sekali?" Djarot heran.


"Bapak akan tau jawabannya nanti." Rully memikirkan itu setelah mendengar semua cerita Djarot soal riwayat perjodohannya. Lengkap dengan latar belakang mereka. Rully tidak merasa rendah diri. Walau dia tidak berkedudukan juga memakai seragam dinas. Tapi dia wanita berkarya juga.


Djarot meraih pinggang Rully, senyumnya tak pernah pudar dari wajahnya. Merengkuh pinggang itu, seperti sedang merengkuh bulan.


"Yang pasti, Bapak harus siap-siap dengan segala keburukan saya, tidak seperti wanita yang akan dijodohkan dengan Bapak."


Sekali lagi Rully mengingatkan. Tetapi Djarot hanya terkekeh dan mempersilakan Rully duduk di ruang makan.


"Panggil saya Mas saja, Rul ... kita hanya beda beberapa tahun. Kaya saya sedang bicara sama pegawai saya saja kamu ini."


"Saya usahakan, tapi pada kesempatan tertentu, saya ingin panggil Pak. Misalnya pas berdua saja." Rully memang begini, suka bicara dan membantah. Ada saja jawaban Rully untuk semua permintaan orang lain. Dan ini yang membuat Djarot suka. Dia irit bicara, sementara teman hidupnya adalah gadis banyak bicara.


"Pastikan kalau tidak ada komisi perlindungan anak di sekitar kita. Aku nggak mau jadi tersangka."


Keduanya tertawa.


Sementara Rus menyaksikan itu semua, meski tak jelas mereka bicara apa. Tapi sungguh, ia sangat sedih.


"Cantik tapi masih anak-anak. Ini nanti aku akan adu sama calon yang di tolak Lingga dulu." Rus mengepalkan tangannya. Huh. Dia ingin merobek Rully dengan cara yang lebih kejam dari sekedar kata-kata saja. Gadis tak tau diri itu nanti pasti akan malu sampai keluar dari rumah ini memakai wajahnya sebagai alas untuk melangkah.


Kakak Rus hanya membuang napas. "Dia itu udah besar, hanya kelihatan muda karena banyak tertawa! Jelas kamu ndak paham sama yang begituan, kamu dan keluarga kamu ini emang susah kalau tertawa. Kaku kalian ini!"


Rus melirik kakaknya kesal. Namun ia tak sempat membalas, karena wanita cantik calonnya Djarot baru saja masuk ke ruang tengah. Dan itu membuat suasana di sana menjadi sangat ramai.


Djarot mengajak Rully ke depan. Ikut bergabung dengan ibunya dan keluarga lain. Ada adik-adik Djarot, keponakan ibunya, dan wanita yang dijodohkan dengan Djarot sedang bercanda dia penuh kehangatan. Hanya Rully yang diabaikan.


"Gimana Singapur, Melly?" Tanya Rus pada Melly yang baru seminggu pulang dari liburan di Singapura.


"Tante harus dateng sendiri ke sana nanti, sama saya pas bulan madu." Melly heboh sendiri.


"Oh, pasti dong ... kita bisa atur lah buat yang begitu-begitu itu. Selama ada sangu, aman dan bisa dikondisikan."


Yang lain jauh lebih kalem, terutama Putri yang sedari tadi menatap Rully tanpa berkedip.


"Ayo kita masuk." Rus mengajak tamunya masuk ke ruang jamuan. Mengabaikan Rully sekali lagi.

__ADS_1


Namun, mereka semua menyapa Djarot dengan hangat, sementara pada Rully mereka bersikap dingin.


Rully berjalan di belakang. Ia memilih menatap Cleo yang sedari tadi tertawa bila matanya melihat Rully. Bayi perempuan itu adalah anak dari adik bungsu Djarot.


Mereka duduk dan kembali berbincang seraya menunggu Murdyo Putranto datang. Banyak yang mereka obrolkan terutama soal pekerjaan.


Putri yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara. "Mbak, kerja di kantor apa?"


Kalimat itu langsung menyedot perhatian para penghuni meja makan termasuk Murdyo yang baru sampai di ambang pintu.


Rully menatap sekeliling, memastikan kalau dialah yang sedang ditanyai. Kemudian dia berdehem.


"Saya tidak ngantor." Rully menjawab apa adanya. Dia memang tidak punya kantor.


"Bisa masak?" Nada suara Putri jelas sedang meremehkan Rully.


"Tidak." Rully menggeleng.


"Melakukan pekerjaan rumah?"


"Tidak pernah."


Semua mata tertuju pada jemari Rully yang indah dan bersih, pun dengan kulitnya yang bersinar-sinar.


"Tinggal sama siapa?"


"Kadang di rumah, kadang di rumah saudara, kadang tidur di tempat kerja."


"Kerja?" jawab mereka serempak. Lalu satu-satu bingung mau bertanya apa terlebih dulu.


"Iya, kerja ... kerja yang menghasilkan uang? Apa kerja itu aneh?" Rully heran.


"Kamu bukannya baru lulus SMA?" Yang bertanya adalah kakaknya Rus. Dia bukan memojokkan, tapi menguatkan penilaian. Dia ingin menunjukkan kalau dia jauh lebih jeli ketimbang Rus.


"Saya lulus SMA sekitar lima belas tahun lalu, Budhe." Rully mengeluarkan tawanya yang anggun. Bukan lagi yang tadi sore atau sebelum duduk di sini.


Apa?

__ADS_1


__ADS_2