
Mayang sudah menduga jika Ferdi akan pulang lebih dulu dari pada dia. Terlihat rumah langsung sepi saat dia masuk ke rumah. Padahal jelas sekali Mayang mendengar suara ribut-ribut di dalam.
Mayang tersenyum tipis, melihat gelagat Ferdi dan Lea, pasti setelah mendengar aduan dari calon istri sirinya, Ferdi bakal berubah pikiran pada Mayang. Ferdi menatapnya sakit hati, namun tampaknya Ferdi tidak mampu berkata apa-apa. Sudah barang tentu Ferdi diambang dilema, menuruti apa yang diadukan Lea dan menyudutkan Mayang bukanlah sesuatu yang baik untuk sekarang. Uangnya di tangan Mayang semua.
Jelas ada sisa perdebatan di antara Lea dan Ferdi, tetapi Ferdi bersikap seolah tak ada yang penting di antara mereka.
"Gimana tadi, Yang? Lancar?" Alih-alih marah, Ferdi segera melembutkan suaranya, mengulurkan tangan meraih pinggang Mayang. Beberapa detik lamanya, Ferdi seperti terkejut. Dibalik baju Mayang yang tampak kedodoran, ada pinggang yang sedikit lebih ramping. Dan mengherankan lagi, Mayang tak pernah mengeluhkan sakit. Apa yang dilakukan Mayang selama ini tanpa sepengetahuannya?
"Lancar Mas ... tinggal nunggu waktu aja, sebelum semuanya deal." Mayang tersenyum manis, mengabaikan Lea yang menatapnya penuh dendam.
"Semua berkat bantuanmu, Mas!" Mayang melingkarkan tangannya di pinggang Ferdi, merebah manja dan disambut kecupan hangat di kepala. Ferdi tampak penuh sayang menghadapi Mayang.
"Bohong ... semua itu bohong!" Lea menghambur ke arah mereka dan melerai pelukan suami istri tersebut dengan brutal. "Kamu dibohongi dia, Mas. Kamu ditipu mentah-mentah sama dia!" Lea melotot penuh amarah ke arah Ferdi, sementara begitu jijik ketika melihat Mayang. Seolah Mayang adalah kotoran yang melekat di matanya, tanpa mampu ia hilangkan bagaimanapun ia mencoba menghapusnya.
"Lea, kamu ini apa-apaan, sih?" Ferdi membeliak tak percaya pada apa yang sedang dilakukan Lea di depan Mayang. Apa dia lupa apa yang barusan dikatakannya pada Lea agar bersabar sedikit lagi? Ferdi memandang Mayang dengan perasaan tak enak. Lea mengacaukan segalanya. Sial!
"Yang ...." Ferdi meraih tangan Mayang, menatap Mayang seolah meminta Mayang agar tidak mendengar ucapan Lea, dan Mayang tersenyum.
Lea merintih tak percaya, dia tidak terima, Ferdi memilih di sisi Mayang dari pada bersamanya, "Mas ...!" sentak Lea, masih diantara rasa frustrasinya karena sikap Ferdi. Entah apa yang akan dia lakukan untuk membuat Ferdi percaya dan memihak padanya.
__ADS_1
"Mas berhak tidak percaya padaku, pun denganku yang tidak percaya pada ucapannya, Mas." Mayang melirik Lea dramatis. "Lea mengatakan kalau Mas menduakan aku dengannya, tetapi aku memilih percaya padamu, Mas. Aku tau Lea begitu iri melihat aku memiliki segalanya, dan dia tidak. Bahkan aku punya kamu."
"Apa kamu bilang?" Lea menyentak tangan Mayang yang sengaja ia lemaskan. "Yang ada kamu yang merebut Mas Ferdi dariku, Gendut!" Lea meraung.
"Kamu yang merebut kekasihku agar menikahimu!" Lea menuding wajah Mayang. Matanya sudah merah, napasnya sangat tidak beraturan dan Lea benar-benar sudah kalap.
"Lea ...!" Ferdi kali ini tak bisa lagi menolerir Lea, dia langsung menarik Lea dan menyeret Lea ke kamarnya.
Mayang mengangkat bahunya, tidak peduli, meski Lea terus berteriak 'awas kau, Mayang'. Mayang segera mengayunkan langkahnya ke kamar, menyiapkan sesuatu untuk dia pergi dari sini. Teriakan demi teriakan masih terdengar, namun Mayang tidak menghiraukan sama sekali. Wajahnya kembali datar dan kaku.
"Yang ...." Ferdi masih terengah ketika sampai di kamarnya.
Mayang tersenyum, "aku memang tidak percaya sama omongan Lea, apalagi foto ini, Mas?" Mayang meraih ponsel dan menunjukkan beberapa pose ketika Ferdi dan Lea sedang bercinta ke hadapan suaminya itu.
Ferdi terperangah, "kamu dapat itu dari mana?"
Mayang sejenak menatap ponselnya, lalu masih dengan senyum yang sama dia menghadapi Ferdi. Mayang tampak sabar dan kuat seolah apa yang dilihatnya tak bisa membuatnya marah. Ataupun cemburu.
Memang Mayang tak lagi cemburu apalagi marah. Semuanya habis di waktu-waktu lalu kala pertama kali ia melihat perzinaan mereka di depan mata. Air mata saja rasanya sayang jika ditumpahkan pada pria seperti Ferdi.
__ADS_1
"Lea yang mengirimkannya padaku tadi siang, katanya ini kenang-kenangan jika aku sudah pisah sama kamu," jawab Mayang datar.
Ferdi belum pernah jumpalitan sampai seperti ini menghadapi Mayang. Belum tahu membodohi wanita polos seperti Mayang rasanya akan seperti ini. Bergegas Ferdi bersimpuh, menggenggam tangan Mayang. Antara ingin mengaku dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi, atau tetap mengkambinghitamkan Lea lagi seperti kemarin-kemarin.
"Sementara aku akan memberimu waktu berpikir, Mas ... aku akan menepi dari hubungan kalian yang sepertinya belum tuntas. Aku bukan kalah, tetapi wanita yang baik adalah wanita yang mau mengerti keadaan pasangannya. Aku tahu kamu dalam posisi sulit, jadi berpikirlah dengan jernih, ambillah keputusan terbaikmu. Kita bertemu saat semua sudah bisa mengendalikan diri."
Mayang melepaskan tangannya, mengambil tas dan meninggalkan rumah dengan satu putusan yang bulat. Bercerai.
"Terimakasih, Lea ... kamu sudah memudahkan langkahku untuk meninggalkan rumah ini dan suamiku," batin Mayang ketika melihat kembali rumah yang meninggalkan sejarah tersendiri baginya.
*
*
*
*
*
__ADS_1
Astoge, direcokin bocah jadinya lama ngetik🤦‍♀️