Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Cintamu Membunuhku


__ADS_3

"Lepaskan tanganku!"


"Aku ndak mau kemana-mana!"


Marini memberontak ketika di ajak pulang. Dia memukul Ferdi dan mendorong suami Nungki.


Lea menangis melihat itu. Hatinya sakit melihat pandangan penuh kebencian dari seorang Marini.


Ferdi mengusap keringat di keningnya, otaknya berpikir keras mencari cara agar ibunya mau diajak pulang. Dia sudah tidak punya muka di sini, apalagi Nungki jelas mengusirnya.


"Buk ... Mbak Mayang udah nunggu di rumah."


Seketika suara teriakan Marini lenyap. Berganti tatapan tak percaya menghinggapi Lea.


Lea perlahan mendekat ke arah Marini. Sekuat tenaga memberanikan diri tersenyum.


"Mbak Mayang nunggu Ibuk pulang."


"Kenapa ndak bilang dari tadi?" Marini langsung tegak, melemaskan dirinya lalu berjalan pelan keluar kamar.


"Ayo pulang! Mantuku udah kelamaan nunggu aku."


Melihat itu, baik suami Nungki maupun Ferdi hanya bisa ternganga. Kekuatan Mayang sungguh luar biasa.


"Ayo Mas." Lea menarik Ferdi, tetapi sebelum itu dia menyalami suami Nungki dan mengucapkan terima kasih.


"Tapi Paklik minta sama kalian satu hal." Suami Nungki memberi tatapan serius penuh peringatan pada Lea dan Ferdi. "Kalian membujuk Mbakyu dengan kebohongan, jadi kalian akan terus begitu sampai Mbakyu sadar Mayang bukan lagi menantunya."


Ferdi dan Lea saling pandang. Mereka sudah tahu, tapi sepertinya hanya ini yang bisa mereka lakukan.


"Paklik sudah melihat keadaan Mayang sekarang, jadi Paklik ingatkan agar kalian tidak merepotkan Mayang." Suami Nungki melanjutkan.


"Njih Paklik. Aku sudah paham." Ferdi mengangguk. "Kami pamit Paklik, mohon maaf sudah bikin keluarga Paklik repot karena kami."


Suami Nungki menepuk bahu Ferdi. "Ndak usah bilang begitu. Bagaimanapun kalian juga sering kami repot kan. Itung-itung balas budi kebaikan almarhum bapak mu sama kebaikan Mayang pada kami juga."


Jelas semua karena Mayang, Lea semakin sakit mendengar ini. Bahkan ketika Mayang tidak lagi menjadi bagian keluarga ini. Semua tetap dilakukan demi Mayang.

__ADS_1


Sementara, Lea berdiri di sini, membuat masalah reda, tetapi tidak berarti apa-apa. Jadi kebaikan hati dan kemurnian jiwa, juga ketulusan ikhlas akan membawa seseorang pada puncak kejayaan?


Mayang jadi seperti yang sekarang karena dia adalah wanita baik yang tulus. Sekalipun dia disakiti, tetapi tidak ada niatan untuk membalas.


Lea tahu benar sekarang. Matanya membedakan dengan jelas. Kenapa dirinya begini dan Mayang begitu? Semua karena sikap dan perilaku yang berbeda.


"Aku terlalu busuk." Lea menggigit bibir dan menunduk.


Dia menahan diri untuk tidak menangis.


Suami Nungki mengantar mereka keluar sampai di tepi jalan. Meminta tetangga untuk mengantarkan Marini sampai ke rumah karena kalau menunggu taksi atau angkutan akan lama sekali.


"Mas ... aku temenin Ibuk, ya. Kamu bawa pulang motornya." Lea menyentuh lengan Ferdi saat dia hendak masuk ke mobil dan meninggalkan motor di sini. Lea belum bisa membawa motor sendiri, dan dia juga khawatir kalau Marini akan mengamuk di mobil.


Ferdi menimbang sejenak perkataan Lea sebelum mengangguk dan pamit pada Marini.


"Kamu yang hati-hati, ya." Ferdi tersenyum seraya membantu Lea masuk mobil.


Lea tersenyum lalu melambaikan tangannya. "Kamu juga ya, Mas."


"Kok kamu itu genit sama suami orang to? Kamu itu cuma pembantunya Mayang. Kok berani sekali kamu godain anakku?" Marini kembali sinis saat melihat interaksi Lea dan Ferdi.


Marini mendelik dan menjaga jarak. Jijik dnegan Lea yang menurutnya jelek.


"Ibuk duduk yang tenang, ya ... aku nggak bakal macem-macem kok sama anak Ibuk. Kalau emang aku yang bikin kalian sengsara, aku bakal ninggalin kalian berdua. Asal kalian bahagia, aku juga bahagia." Lea mengatakan itu karena berpikir Marini ini lupa diri, tapi tak tahunya, masih ada kewarasan yang tersisa.


"Kamu udah janji loh, awas kalau ndak ditepati!" kembali Marini menebar kecaman, kali ini sampai menunjuk ke wajah Lea.


Lea tersenyum kecil seraya merasa terenyuh dalam hati. Dia akan bercerai jika memang itu maunya Marini. Tak ada yang lebih membuatnya bahagia, kecuali orang yang dicintainya bahagia.


Mobil melaju pelan saat melintasi jalanan kota. Baik Lea maupun Marini saling tenggelam dalam pikiran masing-masing. Tetapi Marini sering juga bersenandung kecil. Bahkan senyum-senyum sendiri.


Setibanya di rumah, Marini langsung memanggil Mayang berulang-ulang. Berjalan cepat sampai ke seluruh penjuru rumah untuk mencari Mayang. Tetapi tidak ada siapapun di sana.


"Kamu bohong kan? Kamu nipu aku kan?" Marini berteriak seraya menuding Lea.


Lea yang masih belum pulih tenaganya pasca sakit yang dideritanya sembuh, hanya bisa menjaga jarak sambil menunggu Ferdi sampai.

__ADS_1


"Mbak Mayang bilang mau beli sabun mandi sama makan malam, Buk ... takut Ibuk lapar katanya." Lea berujar riang seraya mengambil ponsel di dalam tas."Baru saja Mbak Mayang telepon."


Marini berhenti histeris, lalu menatap Lea begitu lama. "Kalau kamu bohong, bakal tak cekeķ kamu, ya!"


Lea tersenyum meyakinkan. "Iya, Buk. Sekarang Ibuk ke kamar, biar aku buatkan teh anget."


Lea menuntun Marini takut-takut menuju kamar, lalu membantu wanita itu merebah. Setelahnya Lea ke dapur untuk membuat teh.


"Ibuk mana, Le?" tanya Ferdi saat tidak melihat Ibunya dimana-mana.


"Tidur, Mas." Lea berbalik saat menunggu air panas yang di tuangnya berubah warna.


Dipandanginya Ferdi lekat-lekat. "Kita harus meminta maaf sama Mbak Mayang, Mas. Kita harus sujud di kakinya. Dosaku sangat besar sama Mbak Mayang, bahkan tak termaafkan."


Ferdi menghela napas. "Kita tunggu waktu yang tepat. Aku juga berpikir demikian."


Jika bukan karena Mayang, Lea bahkan tidak akan berdiri di sini bersamanya.


Karena bantuan Gian, pengobatan Lea sudah kandas berbulan-bulan lalu. Ferdi tak punya biaya untuk mengoperasi Lea. Hanya kebaikan hati Gian saja yang mampu menyelamatkannya.


Meski mungkin Mayang tidak tahu apa-apa soal bantuan Gian tersebut.


Yah, benar ... Mayang baru tahu hari ini saat ada pegawai Gian yang datang untuk melaporkan beberapa hal. Kebetulan Gian masih mandi. Pegawai tersebut menjelaskan berapa banyak Gian membantu Ferdi dan Lea.


Ketika Gian sudah tiba di ruang tengah, Mayang seolah-olah tidak melihat atau mendengar apa-apa. Bahkan dia meminta Gian memakai kantornya agar bisa bicara dengan tenang.


Malam telah menjelang saat pegawai itu pulang, Gian keluar dengan wajah lelahnya.


"Jadi kalau aku hanya kasihan sama mantan ibu mertua saja ndak boleh, lalu kalau Mas bantuin rivalku boleh begitu?" Mayang berekspresi kesal saat Gian duduk disebelahnya.


Gian tertekan dan tegang dengan kata-kata Mayang barusan. "Apaan sih, May ... beda konsep kali, ya ... aku nggak bantu Lea secara pribadi ya, tapi karena emang ada program di klinik aku. Kaya semacam promosi biar banyak yang dateng ke klinik gitu."


"Dia sendiri jutek sama orang yang iba sama orang lain, dia juga yang rasa simpatinya kelewat besar." Mayang mencebikkan bibirnya. Gian sudah pasrah jika ekspresi Mayang begitu. Dia pasrah bahkan jika harus tidur di pos ronda.


"Oh, Mayang ... kamu kenapa begitu kejam? Dan kenapa pula kamu yang aku cinta, May," ratap Gian dalam hati.


"Suamiku ini emang ndak ada duanya kalau siap kebaikan." Mayang mencium bibir Gian dengan lembut. "I love you, Hubby."

__ADS_1


Gubrak ...!


Gian pingsan dengan hidung berdarah-darah.


__ADS_2