Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Bukan Karma


__ADS_3

Rully berlari ke mobil, ketika dia sadar bahwa dia dan Djarot terlibat sebuah perjanjian konyol. Entah mengapa Rully merasa bersalah saat melihat Djarot barusan. Tatapan marah pria itu tak bisa ia abaikan begitu saja. Rully tampak sengaja sedang mempersulit Djarot dengan kehadirannya di sini. Astaga, kenapa bisa si botak itu berada di sini?


"Mbak, kita ke rumah Ibuk dulu, nggak apa-apa, kan?" Mayang menyentuh lamunan Rully, membuat wanita itu mengangguk tanpa berpikir lagi. Lantas dia segera masuk agar baik Gian dan Mayang tidak terlalu memperhatikannya.


"Kenapa dia?" tanya Gian yang heran melihat Rully kembali murung. "Kehabisan ulat hongkong?"


Mayang menampar keras lengan Gian, karena menyamakan kakaknya dengan burung kicau yang aktraktif. "Durhaka kamu sama Mbakku, Mas ... biar bagaimana dia itu sodaraku. Wajib kamu hormati karena dia pengganti orang tuaku!"


Gian meringis. "Abisnya, dia aneh kalau diem begitu, Mai. Kebiasaan suka ngoceh, trus mendadak jadi patung perempatan."


"Mas!" Mayang mendelik ke arah Gian, yang langsung mencium bibir istrinya itu sebagai ganti kata maaf.


"Tadi belum sempat." Gian tertawa girang. Lantas ia membukakan pintu mobil untuk Mayang. "Silakan Mamanya Twin duduk dengan nyaman." Gian menyilakan istrinya dengan tubuh membungkuk.


"Lebay," kata Mayang dengan senyumnya yang sangat manis. Dalam hati Mayang merasa tersanjung. Dia harus melakukan sesuatu untuk penghargaan yang Gian berikan padanya.


Gian memutari mobil dan segera melaju setelah menyapa Rully. Tujuan mereka adalah rumah Marini yang tidak terlalu jauh dari gym Axton ini.


Mayang merasa harus memberitahu Marini, agar tidak ada lagi sesuatu yang mengganjal pada pernikahannya dengan Gian ke depan.


Rumah yang Mayang tinggalkan beberapa waktu lalu itu tak banyak berubah. Hanya semakin sepi dan suram.


Geliat tak terlihat dari dalam rumah saat Mayang mengetuk pintu. Sejenak Mayang merasa kalau rumah ini kosong, ternyata dia salah. Dari arah samping, terseok langkah Marini yang langsung syok melihat Mayang kembali menginjakkan kaki di sini. Pikiran wanita itu cerah.


"Kamu pulang, Nduk?" Marini mendekati Mayang dengan tatapannya yang horor, wajah tuanya keriput dan tak lagi setajam dulu. Hanya selewat beberapa waktu dan Marini sudah berubah sangat drastis.


"Suamimu mana?" tanya Marini saat ia mencekal lengan Mayang. Tatapan itu penuh rindu.


Mayang tercekat. Ia agak bingung melihat respons Marini. "Dia masih di mobil, Buk. Ibuk apa kabar?"


"Kamu ini ndagel, ya?" Marini langsung merengut. "baru pisah sehari masa nanya kabar?"


Mata Mayang mengerjab, situasi ini agak aneh. Apa Marini menderita suatu penyakit?

__ADS_1


"Wes cepat dibuka makanannya, Ibuk sudah laper. Makanan yang diantar Lea ke sini ndak enak semua. Tumben-tumbenan sih, Nduk, masakan rumah makan kamu ndak enak?" Mata Marini terpaku pada bungkusan di tangan Mayang.


Sialnya, Mayang hanya membawa buah dan kue saja tadi. Dia mana berpikir kalau keadaan akan seperti ini di sini.


Melihat Mayang tampak kesulitan, Gian yang masih bertelepon segera mematikan sambungan telponnya. Dia yang semula terhalang mobil dan pagar, kini bisa dilihat jelas oleh Marini.


"Lho, iku sopo, toh, Nduk?" Marini menatap Gian heran.


"Dia—"


"Sopirmu, toh?" Marini berkata sangat polos dan tanpa beban. Ia mendekati Gian yang langsung ngeri sendiri mendengar dirinya dipanggil sopir.


Jika ada kesempatan tertawa, Mayang pasti akan tertawa paling keras. Sayangnya, Marini dalam kondisi memprihatinkan.


"Ibuk—Ibuk mau makan, kan?" Mayang meminta pemakluman Gian yang sedianya hendak menjawab Marini.


Marini mengangguk tanpa mengalihkan tatapan kosongnya dari Gian.


Mayang meraih lengan Marini dan membawanya ke teras. "Biar Mayang telpon orang Tiga Dara dulu, ya, Buk ... sementara kita makan kue ini sambil nunggu."


Rully sendiri yang awalnya enggan turun, karena ia masih kesal pada mantan mertua Mayang itu, akhirnya turun dan bersedekap memandangi Marini.


"Dia pikun, May?" tuduh Rully sinis.


"Mbak!" Mayang menggeleng. Sudah cukup Marini seperti ini. Meski dulu dia sangat galak, tetapi sekarang dia bisa apa? Lea saja masih Mayang biarkan hidup kok, apalagi Marini yang sudah renta ini. Pasti tak lama lagi usianya akan purna. Biarlah hidup yang memberikan hukuman pada Marini.


"Kenyataannya kan?" Rully mencebik dan duduk di belakang Mayang, di lengan kursi kayu yang ada di teras Marini.


"Wanita galak ini, sopo toh, Nduk?" Marini memandang Rully sengit.


"Dia Mbakku, Buk ... Ibuk ndak ingat Mbak Rully?" Mayang menjelaskan, menahan Rully yang sudah bangkit dan siap menonjok Marini. Astaga.


"Walah, moso kamu punya Mbak yang modelan begini? Pasti dia istri sopir kamu itu!" Marini masih menilai Rully dari atas ke bawah. "Ayu-ayu kok judes minta ampun."

__ADS_1


Mayang buru-buru mengangsurkan potongan kue untuk Marini agar mantan mertuanya itu diam.


"Kamu jangan deket-deket sama sopir kamu itu, Nduk ...," kata Marini dengan tatapan berubah sendu saat mengunyah kue. "Ibuk dan Ferdi pasti jadi kere kalau kamu sampai cerai atau balas selingkuhi Ferdi."


"Buk—"


"Ibuk tau, Ferdi itu selingkuh sama Lea. Tapi sekeras apa Ibuk melarang, Ferdi ndak bisa pisah sama Lea. Pantes kamu ninggalin rumah dan Lea yang tinggal di sini sama Ferdi, pasti kamu ndak tahan lihat semua itu. Tapi Ibuk mohon, jangan pisah sama Ferdi, Nduk. Ibuk banyak melakukan usaha agar Ibumu yakin menerima kami."


Mayang tercekat, "usaha apa maksud Ibuk?"


"Ya, Ibuk waktu itu tiap hari meyakinkan Ibukmu, menyuruh Ferdi putus dari Lea, dan pokoknya guna-guna si Ferdi agar lupa sama Lea. Tapi, ndak tau gimana ceritanya, setelah orang pinternya meninggal. Wong buktinya kini Lea sekamar sama Ferdi." Marini bercerita dengan tatapan terpaku pada lantai keramik putih di teras ini. Kosong dan seperti bicara pada diri sendiri. Ia menyuapkan lagi kue di tangannya, tampak hanya seperti gerakan ringan tanpa makna. Sebenarnya Marini sedang tidak ingin makan.


"Lea setiap hari nangis karena perutnya sakit. Kemarin dia bulanan ndak sembuh-sembuh. Katanya sambangen(PMS) sampai ndak bisa turun dari kasur. Yo, Ibuk yang kasih dia makan dan minum. Kasihan si Lea itu, Ibuk ndak tega." Marini menatap Mayang.


"Tapi Ibuk juga ndak tega kamu diduakan, Nduk. Ibuk kudu pie? Ibuk sampe ndak bisa tidur setelah Lea tinggal di sini, Nduk. Mikirin nasib kamu. Maaf, yo, Nduk. Maafkan Ferdi."


Tangis Marini pecah, lantas ia bersimpuh di depan Mayang, meraih tangan Mayang dan menciuminya. "Tolong diampuni Ibukmu ini, Nduk. Ibuk banyak salah sama kamu, Nduk."


Suara tangisan Marini yang mengiba dan penuh luka itu terdengar sampai ke rumah tetangga, sehingga mereka datang untuk melihat apa yang terjadi.


"Loh, Mayang toh ...," sapa tetangga Marini yang rumahnya terletak persis di sebelah Marini.


"Iya, Bu Lastri ... ini Ibuk kenapa, ya?" Mayang tak bisa bergerak dengan Marini terus memegangi dan mencengkeram tangannya.


"Walah, Buk Mar ini sejak masalah kamu sama Ferdi terungkap, dia sering ngelamun. Parah lagi, setelah adik-adiknya datang dan sering bergosip tentang kamu dan suami baru kamu. Buk Mar jadi stress. Ya, walau Lea sekarang di sini, tapi itu juga ndak bisa mengubah apa-apa. Buk Mar kadung owah(geser, menjadi pikun)." Lastri berkata dengan lugas seperti biasa.


Mayang tertegun, menatap rambut putih di depannya. Dia beristigfar dalam hati. Memohonkan ampun atas doa-doa yang tanpa sadar ia batin saat disakiti Marini dulu.


*


*


Untuk ini saya terpaksa harus menulisnya, ya. Karena diawal saya revisi Marini jadi lebih jahat(belum semua sih😄) jadi diakhir harus ada balasan. Yah, walau sebenarnya masih dalam tahap kurang savage😄

__ADS_1


Sekali lagi, Maaf atas kurang nyamannya part ini. Next lebih santailah, masih ada pr Mas Djarot🤭


*


__ADS_2