Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Uang Seperti Air Sungai Yang Mengalir Ke Laut


__ADS_3

Sepeninggalan Mayang, Lea meremas ujung bajunya. Dia kesal dan tak terima, direndahkan seolah dia tak bisa mengelola usaha, atau melihat peluang usaha yang sedang digandrungi masyarakat, khususnya kaum muda yang menurutnya mudah sekali terpengaruh dan menyebarkan sebuah berita. Lea bisa mengatur promosi melalui media sosial, untuk menunjang usahanya.


Beda dengan Mayang yang hanya mengandalkan nama besar orang tuanya. Tanpa itu, Mayang bukanlah siapa-siapa. Hanya wanita manja yang tidak tahu apa-apa dan mudah dibodohi.


"Le, gimana dong? Mayang nggak mau tuh gabung sama kita?" Salma berbisik, dia merasa resah karena sudah terlanjur menyetorkan dana awal. Salma yang orangnya tidak enakan, pasti sungkan meminta uangnya kembali. Apalagi, dia juga anak orang kaya raya. Uang seratus juta itu kecil. Yah, sebenarnya, tidak kaya-kaya banget, jauhlah dari Mayang. Salma juga sebenarnya agak berat melepas uang itu, tapi demi gensi, mau gimana lagi.


Lea menatap lurus dan tajam ke arah depan, ia mengepalkan tangannya. "Itu bisa kita atur lah, pokoknya pastikan usaha kita ini berdiri dulu, kita tunjukkan pada si sombong itu kalau kita juga bisa membangun sebuah usaha tanpa bantuan dia."


"Wajar, sih, dia nggak mau gabung sama kita, orang dia sudah kaya. Lagian untungnya nggak seberapa kalau kita, beda sama dia, yang udah untungnya banyak." Arista bergumam.


"Kalau dipikir, gambaran untung kita juga banyak, loh ... memang berapa untungnya si Mayang itu? Rumah makan yang isinya masakan kampung kaya gitu, siapa peminatnya coba?" Rena mencibir.


Keempat orang itu terdiam, memikirkan keuntungan Mayang.


"Dan siapa pria tadi?" Salma yang paling kudet dan kurang gaul menyeletuk.

__ADS_1


"Itu Dokter Gian!" seru Rena menjawab, tangannya menampik Salma dengan perasaan gemas. Temannya itu sungguh menyebalkan.


"Siapa?" beo Salma.


"Salma, astaga!" jengah Arista. Matanya melotot, menahan geram. "Kamu ini wanita, masa nggak pernah ke Klinik Griya Sehat?"


Salma menggeleng polos.


Rena dan Arista menggelengkan kepala saking kesal sama Salma. "Ya, sudah! Kamu hamil lagi aja, nanti ke sana, biar ketemu Dokter Gian!" bentak Arista gemas. Tak lupa ia mengimbuhi 'Igh' diakhir kalimatnya seolah Salma siap digencet sampai penyet.


Salma merepet, "kenapa kalian selalu gitu, sih, kalau aku nanya-nanya. Namanya juga nggak tahu," jawabnya merembeng. Salma memilih condong pada Lea yang sedari tadi hanya diam saja.


"Aku kan nggak denger, Ren ... aku sibuk nenangin Lea," cicit Salma sambil menggaet lengan Lea, seakan minta perlindungan.


Namun, sahabat dekat Salma itu hanya menghirup napas dalam, lalu membuangnya dengan pelan sebagai tanggapan. Lea sibuk berpikir, bagaimana membuat Mayang keluar uang, dia masih tak terima soal pengambilan uangnya secara tidak bermoral. Tidak terima di buang begitu saja usai banyak menyumbang jasa untuk memajukan usaha Mayang. Lea membantu Selera hingga berjaya, lalu apa salahnya kalau dia menganggap Selera adalah miliknya? Pun dengan keuntungan yang diperoleh, dia juga punya hak untuk menikmati bukan?"

__ADS_1


Astaga, Lea rindu pada nominal angka di laporan penjualan dari hari ke hari di sana. Belum lagi sarang walet yang waktu itu sudah memenuhi langit-langit lantai bawah yang sedianya akan dijadikan gudang. Beruntung sekali Mayang ini, seolah uang tak pernah habis mengelilinginya.


"... Gian sukanya sama janda, nggak ngeh sama cewek kayak kita."


Ucapan Rena menghampiri ruang dengar Lea, membuyarkan pikirannya yang terhanyut dalam lamunan. Wanita itu menoleh, ikut memperhatikan obrolan temannya. Dia baru ingat, barusan Mayang menerima ungkapan perasaan dari seorang pria tampan.


Astaga, Mayang, kenapa kamu ini sangat beruntung sih? batin Lea meringis. Mengenaskan sekali nasibnya yang kini bersuamikan pria kere.


*


*


*


*

__ADS_1


*


Ha, udah 3 bab ya ... bentar inyonge mau ngedem dulu, nanti kalau ada waktu sambung lagi, ya ... hepi wiken semuanya, my dear🤗😘😘😘


__ADS_2