
Dari sekian banyak orang, yang paling tidak tahu soal pernikahan Gian adalah Saira dan Anggi. Entah apa jadinya kalau mereka tahu Gian sudah menikah. Yang jelas keduanya akan mengsedih.
Berdasarkan pemikiran itu—banyaknya orang yang belum tahu, Gian memutuskan untuk mengadakan resepsi pernikahan dalam waktu dekat, agar tak ada lagi yang mengganggu hubungan mereka. Gian mengutarakan niatan tersebut saat mereka baru saja merampungkan satu ronde penuh cinta di mess siang ini. Panas udara tak menghalangi niat mereka untuk kembali mengulang rasa indah nan nikmat itu.
"Pak Dokter tadi mikirin mantan saat kita bercinta?" Mayang menarik selimut, mereka benar-benar baru selesai. Jantung dan panas di tubuh Mayang saja belum normal sepenuhnya. Ia merebah, menarik napas yang barusan direnggut paksa oleh Gian lewat beberapa hisapan mematikan di berbagai tempat.
"Tidak ...." Gian menggeleng, takut Mayang salah paham. "Baru kepikiran setelah keluar tadi." Gian menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang, matanya intens mengawasi Mayang yang memejamkan mata. Tangannya sibuk menyibak rambut Mayang yang memenuhi wajah.
"Maksudnya?" Mata sayu itu membuka, mendongak dan menatap Gian penuh tanya.
"Maksudku," ucap Gian bingung sendiri. Tatapan Mayang itu terlalu tidak bisa dideskripsikan oleh Gian. Ia takut kalau Mayang salah paham padanya. Aduh jangan sampai deh, Mayang salah paham. Ia takut sumber kebahagiannya ini hilang.
"Itu ... aku setelah itu keluar, kan pikiranku kaya jadi jernih gitu, Mai. Bukan ingat saat keluar bersama mantan dulu, bukan itu."
"Iya, maksud saya kita akan mengadakan resepsi dan mengundang mantan Pak Gian?" Mayang kembali memejamkan mata dengan santainya.
Astaga ...! Gian sampai menahan napas menunggu reaksi Mayang, tapi dengan santainya, Mayang memelesetkan setiap perkataannya. Sengaja, ya, bikin saya buka isi pikiran saya? batin Gian. Dan bodohnya, Gian sekarang mudah terbawa arus ucapan Mayang. Ah, Mayang ... untung enak. Eh, maksudnya, untung sayang.
"Ya, begitulah, Mai ... kalau kamu nggak keberatan, sih ...," kata Gian lirih.
"Boleh. Undang saja, Pak ... tujuan Bapak pasti ndak mau keganggu sama mantan-mantan Bapak itu. Ya, ndak, sih?" Mayang terdengar berat ucapannya, dia tampak berpikir meski matanya memejam.
"Bener, Mai ... aku nggak mau mereka mengganggu kita. Mantan itu masa lalu, kita udahan, kita udah lewat. Kalau menyesal—Anggia—saya udah kasih waktu dia banyak sekali, Mai ... satu tahun penuh dan tiga tahun kesendirian, saya coba nantikan dalam sabar. Jadi alasan Anggi kaya nggak masuk akal."
"Kalau Mbak Saira?" sela Mayang.
"Dia hanya terobsesi pada saya, kalau boleh saya sombong." Gian mengawangkan pandangannya. "Dia datang tiba-tiba, menyatakan saya adalah kekasihnya. Lalu mencium saya tanpa izin—"
__ADS_1
"Kalau izin dulu, Bapak mau?" Mayang kembali menyela.
"Yah ...."
"Wah, Mbak Saira salah langkah tuh, coba aja dia minta izin buat nyium, pasti Pak Gian mau."
"Apaan, sih ...." Gian mencubit pipi Mayang dengan gemas. "Belum juga selesai ngomong."
"Kan Bapak udah bilang iya, tadi." Mayang merengut seraya memindahkan tangan Gian dari pipinya, lalu menempatkan telapak tangan Gian di depan hidung dan mulutnya. Mayang mengecupnya, diantara kesadarannya yang sisa setengah. Gian benar-benar membuatnya lelah.
"Itu membuang napas, Mai ... melepaskan beban dihati, bukan mengiyakan. Nanti aku gigit bibir kamu, tau rasa kamu, ya!" Sebelah tangan Gian menangkup pipi Mayang hingga bibir yang merah itu mengucup. Haish!
"Kalau mau resepsi, kita bilang Paklik Sigit dulu, biar beliau cari hari yang bagus, bair ndak kaya kemarin, Paklik ngomel-ngomel hanya karena hari dan tanggal itu adalah hari apesku." Mayang mengubah posisi tidurnya menjadi telentang, tetapi masih tetap memejamkan mata. Gian mulai nakal dengan menurukan tangannya dan menelusup ke dada.
Mayang ingin menahan, tetapi Gian lebih sigap dengan mencekal tangan Mayang dan menariknya ke atas kepala. Helaan napas pasrah terdengar. "Iyalah. Hari itu adalah hariku yang paling apes, soalnya dilamar dan dinikahi secara mendadak, kurang apes dari mananya coba? Untung ganteng dan memuaskan, kalau cuma bikin lengket dan belepotan doang, bakal saya buang."
"Kamu dulu sama mantan kamu suka ngomong kaya gini, nggak, pas berduaan?" tanya Gian penasaran.
"Ya, tapi biasanya ndak ada respons, atau kalau saya minta lagi, kan itu kaya ndak ikhlas ngasih saya, Pak, itu dijawab dengan suara dengkuran. Yang baru aku pikir sekarang karena dia kecapekan atau pura-pura ngorok biar saya cepat tidur dan ndak banyak bicara, lalu setelah itu dia bebas nyelinap keluar." Mayang membuka matanya sejenak.
"Sumpah, Pak ... dulu saya pikir pria yang bekerja keras itu ndak butuh belaian. Dia butuh istri untuk nyiapin semua kebutuhan dia dan juga nemenin pas kondangan."
"Pria juga sama, kok dengan wanita. Mereka butuh dicintai, salah satunya dengan dihargai kerja kerasnya, ditemani di saat susahnya." Gian menghadiahi kening Mayang dengan kecupan lembut, "Kalau punya istri cuma nyiapin kebutuhan suami, sama aja dia anggap istrinya itu pembantu. Pembantu berlogo halal."
"Tapi emang saya ini pembantunya, Pak ... saya yang tiap hari sibuk masak, nyapu, nyuci, ngepel." Mayang memeluk Gian, seolah dia sedang mengadu dan butuh sandaran. "Saya juga dijadikan tulang punggung yang tersamarkan dengan apik, Pak. Saya bayar cicilan mobil, urus kebutuhan rumah tangga, ah, semuanya lah pokoknya."
Gian membelai punggung Mayang penuh kasih. Ia masih terdiam dan bersimpati. Gian baru tahu kalau Mayang diperlakukan seperti itu selain diselingkuhi.
__ADS_1
"Jadi setelah dia ketahuan selingkuh, kok saya baru sadar, betapa bodohnya saya selama ini, ya ...."
"Kamu bukan bodoh, Mai ... itu hanya tersesat. Kalau bodoh, tentu kamu nggak bakal nuntut cerai, ambil uang kamu kembali, dan mengurus usahamu sendiri. Kamu hebat, Mai ... kamu itu wanita kuat."
"Pak Gian gombal." Mayang menelusup makin dalam, seolah di sana adalah tempat yang paling nyaman.
"Tapi kamu suka, kan, sama gombalan saya?" Gian kini menepuk-nepuk pantat Mayang, seperti sedang berusaha menidurkan Mayang.
"Sementara suka, tapi entah besok kalau saya sudah bebas dari kecanduan Bapak."
Astaga! Gian sampai tak bisa berkata-kata, dia hanya meremas apa yang dipegangnya kuat-kuat.
"Sakit, Pak!"
Ya, Tuhan! Gian meraup wajahnya kasar. Please Mai ... jangan bicara di nada itu, saya bisa salah paham, batin Gian.
*
*
*
*
*
3 Bab done ... happy reading
__ADS_1