Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Itu Bukan Tugas Sopir


__ADS_3

Djarot yang kesal, sepulang dari Gym terus saja marah-marah tidak jelas. Otaknya berdesakan penuh beban, mulai dari mempersiapkan tanggal baru pernikahannya dengan Rully, lalu memikirkan bagaimana membuat Rully takluk padanya.


Di depan cermin, Djarot berpose dengan dada telanjang. Menampilkan otot-otot perut dan dadanya yang sangat kuat dan liat. "Masa kaya begini kurang sixpack, Rul? Kamu mau aku kaya Ade Rai? Bisa penyet kamu tak tindih nanti!"


Tak ada ekspresi yang keluar dari mata Djarot saat menggumamkan itu. Tangannya meraba perut dan dadanya yang berbulu tipis dengan frustrasi. "Rambut sialan! Disini aja numbuhnya masih item dan subur. Kenapa dikepala malah putih dan gersang?"


"Kemana lagi aku harus cari cara buat numbuhin rambut?" Djarot sejenak berpikir. Waktunya akan molor lagi satu minggu. Dan rambutnya yang masih jarang-jarang itu akan panjang dalam dua bulan.


"Apa aku harus memperpanjang sampai dua bulan saja, ya?" Djarot berhenti. Dia menghempaskan tubuh indahnya ke sofa yang ada tepat di belakangnya.


Djarot meraup wajahnya kasar, bibirnya mengeluarkan erangan yang keras. "Wanita judes itu sudah membuatku rindu, padahal aku baru libur dengar kemarahannya seminggu. Aku harus gimana? Mana bisa aku tahan dua bulan tanpa dengar suara dia!"


"Nyerah aja, Pak."


Djarot terkejut bukan main saat mendengar Roni menyeletuk di belakangnya. Sopir sialan itu kapan masuknya?


"Berapa banyak yang kamu dengar?" Mata Djarot kembali dingin dan tajam.


Roni cengengesan. Banyak sekali dia dengar, tetapi dia tentu tak akan mengatakan itu. "Dikit."


Pria itu berpindah ke depan Djarot dengan bungkusan di tangannya. "Sudahlah Pak, ndak usah memaksakan diri. Bapak itu meski jomblo tapi berkualitas. Ndak apa-apa jomblo asal tetap berkarya. Tenang saja, saya yang gantengnya sebelas dua belas sama Anaknya Vena Melinda, akan setia menemani kejombloan Bapak."

__ADS_1


Pletak!


Sebuah pulpen mendarat di kepala Roni, "Aduh! Bapak ...! Kejam sekali andah!" Roni meringis sambil mengusap bagian yang terkena lemparan pulpen Djarot.


"Ucapan kamu lebih menyakitkan daripada itu ... tau!" Mata Djarot melebar dengan garis-garis merah tampak di bola mata pria itu.


"Saya hanya mengatakan kenyataan yang ada, Pak ... dan memang dari mak erot belum tercipta, kenyataan itu selalu menyakitkan. Bapak saja yang kurang paham." Roni membantah.


"Jarum dan benang kasur aku punya loh, kalau hanya buat jahit mulut kamu itu, bisa bolak balik tujuh kali." Tangan Djarot meraba laci di sebelah sofa, "apalagi kalau kamu nggak punya berita baik, bisa-bisa semua lubang di tubuh kamu saya jahit semua!"


"Ih, Si Bapak!" Roni berjengit horor. Si botak kalau ngancam memang selalu membuat bulu kuduk berdiri. "Nih!" katanya cepat-cepat seraya menyerahkan bungkusan hitam yang dari tadi dipegangnya.


"Itu serum penumbuh rambut dari merk kenamaan, Pak. Kalau itu ndak berhasil, fiks ... Bapak bakal saingan sama Pak Ogah."


"Adaw!" Roni memekik kesakitan. Kali ini sakitnya beneran.


"Sekali lagi kamu bicara ngawur ... aku pastikan besok kamu nggak bisa bicara untuk selamanya!" Djarot berdiri dan mengambil bungkus paket yang tergeletak di lantai. "Sana pergi!"


Roni masih meringis, "kejam amat sama anak buah. Kan saya maksudnya bercanda, biar ndak spaneng si Bapak."


Djarot mengabaikan ucapan Roni, dia sibuk membuka bungkusan berat itu. Dikeluarkannya satu-satu produk perawatan rambut dan kulit kepala yang dikeluarkan oleh merk perawatan tubuh ternama. Ia mencermati satu-satu cara pemakaian botol-botol di tangannya ini.

__ADS_1


Ponsel Djarot berdenting pelan dan singkat, menandakan sebuah pesan masuk. Bergegas Djarot mengambil ponselnya. Ia takut itu adalah kliennya. Namun, ia terkejut melihat notifikasi yang mengambang di sana. Nomor baru dengan pemberitahuan siapa orang yang mengirim pesan tersebut. Rully.


"Bukan bermaksud mematahkan semangat Bapak, tapi seharusnya Bapak menyerah saja." Begitu bunyi pesan itu. Djarot mencibir. Tidak secepat ini, Rully. Djarot sudah menjatuhkan pilihan pada Rully sejak pertama kali melihatnya. Rully berbeda. Galak tetapi dia baik dan memiliki jiwa melindungi yang keluar secara naluriah.


"Karena saya yakin, Bapak gagal. Jadi pertemuan tadi tidak menghanguskan perjanjian kita. Bapak punya wakti tiga minggu lagi. Tanggal 12 bulan depan, kita bertemu untuk ucapkan selamat tinggal," tulis Rully di pesan chat whatsapp itu.


Djarot seperti tersengat ribuan lebah dan belut listrik sekaligus membaca pesan Rully. Kemarahannya meluap-luap hingga dia begitu gusar ketika hendak membalas Rully.


"Saya orangnya konsisten. Janji tetaplah janji, jadi saya akan memulai lagi dari awal. Empat minggu dari sekarang, kita bertemu. Silakan Dek Rully muncul di hadapan saya semau Dek Rully, begitupun dengan saya yang tak akan menyerah mengulangi setiap kali kita berpapasan. Saya tetap akan berjuang untukmu, Dek. Saya terlanjur jatuh cinta sama kamu."


Djarot memainkan ponselnya. "Sialan kau wanita! Aku bersumpah, Rully ... hari ke hari, kamu hanya akan tersiksa oleh perasaan ingin bertemu denganku!" tekad Djarot.


"Roni!" teriak Djarot. Pria yang dipanggil muncul begitu saja dari balik pintu. Senyumnya nyengir lebar. "Nguping kamu?"


"Mana ada nguping orang chattingan, Pak!" jawab Roni malas. "Ada apa manggil saya?" Tapi Roni sudah punya dugaan meski tak bertanya.


"Cari media sosial Rully. Facebook saja kalau bisa. Trus nanti tugas kamu adalah merekam dan mengedit video saya pas olahraga, pas buka baju, kalau perlu pas mandi dan tidur. Posting di Wall pribadiku, pastikan Rully melihat postingan-postinganku!"


Roni menganga tak percaya. Itu apa tugas seorang sopir seperti dia?


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2