Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Oma Bucin


__ADS_3

Ajeng dan Yunda berdebat sengit soal sikap Yunda barusan yang membuat Rully terlihat tidak nyaman.


"Kamu harusnya jangan bilang begitu, Dek ... kan Mbak Rully-nya malu." Ajeng mengomel saat tiba di kamar Yunda. Anak Yunda yang sedang tidur jadi terbangun karena omelan Ajeng barusan.


"Kan kenyataannya begitu, Mbak! Mbak Rully itu bucin banget sama Mas Lingga sampai sebegitunya. Kita harusnya seneng, dan nggak perlu khawatir kalau Mbak Rully bakal macem-macem. Bagus dong, kalau Mbak Rully punya sisi yang seperti itu. Lagian aku ngomongnya lebih meninggikan style dia yang menurutku keren dan anti mainstream, kok ... nggak ada maksud lain." Yunda mempertahankan pendapatnya. Baginya, ucapan tadi sangat wajar dan ia yakin, Rully bukan orang yang pendek pikiran. Atau dia tidak akan mungkin berada di sini setelah kelakuan ibu mereka.


"Ya, tapi jangan kentara banget lah, Dek. Aku tadi hanya cari topik obrolan saja biar nggak garing dan canggung setelah aku menyadari antara Ibuk dan Mbak Rully hubungannya belum sinkron." Ajeng menjatuhkan tubuhnya di kasur saat Yunda sudah memangku anak keduanya yang masih berusia lima bulan.


"Ibuk udah nerima Mbak Rully, Mbak ...." Yunda menyakinkan, tapi Ajeng masih terlihat khawatir.


"Tapi Mbak Rully belum memaafkan, kayaknya. Lihat aja dia lempeng begitu ... nggak ada reaksi apa-apa." Ajeng khawatir.


"Itu bukan urusan kita, kan? Wajar kalau Mbak Rully marah. Bayangkan berapa banyak uang yang dia keluarkan untuk bayar bookingan hotel!" Yunda segera menyusui bayi lelakinya agar segera tidur kembali. "Kalau cuma satu aku yakin nggak seberapa, ini tiga loh, Mbak! Tiga dan berbintang semua."


Ajeng menghela napas, dia barusan ingin menyahut, tetapi suara dari luar membuat mereka jumpalitan.


"Dia nggak akan miskin hanya karena bayar biaya hotel." Djarot muncul diambang pintu, membuat dua kakak beradik itu terkejut. Sebenarnya Djarot ingin mengetuk terlebih dahulu, tetapi karena mendengar kedua adiknya membicarakan Rully, dia nyelonong begitu saja.


"Seberapa kaya, sih, dia Mas?" Yunda yang memang mahir mengatasi keterkejutan segera menyambar sekenanya. Dia sudah tahu semuanya.


Djarot mencemooh kekepoan adik bungsunya, mengabaikan tatapan penasaran dua wanita yang begitu dia sayangi itu. Tangannya segera memenuhi saku, lantas berjalan santai menuju depan Yunda dan mengusap kapala licin keponakannya tersebut.


"Mas ...," rengek Yunda dan Ajeng bersamaan.


"Cari tau saja sendiri, toh, suamimu punya akses untuk melihat saldo kakak iparmu." Djarot mencibir ke arah Yunda yang kemudian berdecak kesal.


"Dia itu pegawai yang taat pada institusi dan lembaga yang menggaji dia. Urusan kantor yang bersifat rahasia, dia nggak pernah bilang walau seuprit!" Yunda setengah mengeluh. Betapa tidak tahunya seorang pria akan kebutuhan bahan omongan yang up to date saat berkumpul dengan kawan-kawannya. Atau dia akan di olok-olok sebagai emak-emak kudet.


"Rayu dong, masa gitu aja nggak bisa?" Djarot berdiri, setelah mengejek adiknya sekali lagi.


"Mas emang keterlaluan!" Ajeng yang sedari tadi diam saja untuk berpikir, ternyata memendam dendam jauh lebih besar ketimbang Yunda. "Pelit banget sih, bagi info! Toh kita nggak akan ngerampok Mbak Rully kok! Protektif banget sih!"

__ADS_1


Djarot menaikkan alisnya dengan santai, tidak peduli pada tatapan Ajeng yang begitu marah padanya. "Tanya aja sama orangnya langsung. Kan malah lebih jelas. Info dariku bisa saja menyesatkan. Lagian aku sama suami Yunda satu tipe, urusan kantor yang rahasia nggak bakal aku spill keluar walau seuprit."


"Mas!" teriak Ajeng dan Yunda bersamaan. Bayi Yunda menangis keras saking terkejutnya, sementara Djarot hanya terkekeh.


Ajeng segera berdiri dan berbicara rendah di depan sang kakak, ketika Yunda menenangkan bayinya. "Sejak kapan Mbak Rully jadi urusan kantor, sih? Mas bakal disuruh tidur diluar kalau Mbak Rully dengar omongan Mas barusan."


"Ya emang dia bosku sekarang ... mau gimana lagi?" Djarot menaikkan bahunya tak acuh. Ajeng melotot kesal. Dia lupa, kalau firma hukum milik kakaknya telah dimiliki Rully.


"Dasar bucin gila!" Tidak punya bahan pendebat lain, Ajeng menghentakkan kakikinya usai memberengut sebal pada Djarot.


Pria itu tertawa saja menanggapi, "Biarin!"


Djarot masih mengemas senyum yang akhir-akhir ini sering hinggap di bibirnya saat membuka pintu kamar Yunda. Tetapi senyumnya itu seketika pudar, ketika melihat seseorang yang berdiri kikuk di depan pintu.


"Ibuk!"


"Tadi mau ajak Ajeng dan Yunda makan." Rustina agak grogi saat berkata, dan pengacara sehebat Djarot pasti langsung tahu kalau Ibunya sedang berbohong.


"Ibuk masih penasaran seberapa kaya dan berpengaruhnya menantumu itu di sana?" Djarot bertanya sangat kalem dan sabar. Seperti bukan Djarot saja.


Rustina mengangguk. "Ndak juga, kok ...!"


Djarot menaikkan alisnya dengan respons bertolak belakang itu.


"Maksud Ibuk, Ibuk udah tau," ralat Rustina cepat-cepat. Ya ampun, baru kali ini dia begitu gugup dan tegang dihadapan anak yang dilahirkannya ini.


"Ibuk nyuruh istrinya Yunus mematai-matai kan?"


"Apa?!" Rustina membeliak kaget. Ya ampun, kenapa Djarot serba tahu sih?


"Dia hanya sedang liburan, dan Ibuk coba rekomendasikan salon dan spa yang bisa membantu mengurangi masalah pada kulit istri Yunus yang kena sinar matahari itu." Rustina mengarang.

__ADS_1


Djarot terkekeh. "Maksud Ibuk, rambut istri Yunus yang kena sinar UV berlebihan?"


Rustina berdecak seraya menahan malu. "Sudahlah, Ibuk mau ke bawah lagi. Males ngomong sama kamu! Kalau ndak mau kasih tahu ya udah, bilang aja langsung, jangan mojokkan Ibuk terus!"


Rustina kesal sekali, sehingga Djarot langsung berkata keras-keras. "Yang pasti dia makin kaya setelah jadi pemilik firma hukumku, Buk!"


Rustina menggigit bibir. Anaknya benar-benar jatuh pada pesona Rully. Dan dia telah menyerahkan segala-galanya pada istrinya tersebut. Jadi jika Djarot suatu saat nanti tua dan jatuh miskin, atau tidak berumur panjang, Rully masih tetap terjamin kehidupannya. Rustina mendadak trenyuh memikirkan itu.


"Ya Tuhan, Ngger ... jika nyawamu itu milik kamu sendiri, pasti juga kamu berikan pada dia." Rustina menghela napas dengan air mata bercucuran.


Rustina jatuh terduduk pada anak tangga, dan bersandar. Kepalanya menengadah, "Semoga pernikahan anakku ini langgeng, bahagia, berkecukupan lahir dan batin, sehingga ndak ada kata pisah di antara mereka sampai maut memisahkan. Bukan takut Lingga kembali dalam keadaan tak punya apa-apa, Gusti ... tapi, mungkin anak lelakiku itu akan mati tanpa Rully."


Apapun demi kebaikan dan kebahagiaan Djarot, Rustina akan merelakan. Dia hanya harus mengubah penilaian dan perasaannya pada Rully. Dan semua akan baik-baik saja. Yah, dia akan berusaha mencintai wanita itu, seperti dia mencintai Ajeng dan Yunda.


"Yah ... anggap saja aku baru mengangkat satu anak perempuan lagi!" Rustina berdiri dan melangkah tenang ke ruang tengah yang masih ramai.


Rupanya para kerabat Rustina dan Murdyo sedang memuja gaun yang akan dikenakan Rully esok hari.


"Eh, itu jangan dipegang-pegang!" Rustina langsung menghalau tangan kerabatnya yang menyentuh ujung lengan gaun bertabur mutiara dan payet. "Ini jahitan tangan dan dipesan khusus buat mantuku, jadi jangan ada yang nyentuh sebelum dia sendiri yang megang."


Perkataan Rustina itu membuat kerabatnya langsung mencibir kesal. Mereka menggerutu, tapi Rustina tidak peduli dan berkata pada pengantar gaun itu penuh senyum.


"Tolong ya, Sis ... di bawa ke tirai yang paling gede itu, dan tutup rapat lagi, ya ... ini kejutan buat mantuku yang paling cantik."


Si pengantar yang memakai setelah hitam itu langsung mengambil alih gaun beserta manekin tanpa kepala dari tangan Rustina dan menuruti apa katanya.


Sayangnya, semua kerabat Rustina langsung menyerbu Rustina dengan teriakan 'hu' yang menggema.


Murdyo yang melihat itu hanya tertawa saja. Ya ampun, ternyata bucin akut itu diwariskan istrinya pada Djarot. Sebegitu takutnya Rustina jika diduakan, sampai dia mau menuruti apapun maunya.


"Dasar nenek-nenek bucin!" Murdyo menggeleng senang.

__ADS_1


__ADS_2