Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Angkat Kaki


__ADS_3

Bisik-bisik kemudian menggema, Ferdi malu sendiri dibuatnya.


"Bahkan ada video mesumnya juga." Entah siapa itu yang berbicara. Ferdi menoleh tetapi saking banyaknya yang bergumam, ia tak tahu mulut ember siapa yang mengatakannya.


"Ini bukan tontonan, sebaiknya kalian bubar!" Ferdi yang tak mampu menguasai keadaan, akhirnya mengusir orang-orang itu dengan mendorong kasar.


"Idih, galaknya! Maling kalau ketahuan pasti gitu!" Itu adalah suara satu orang yang rumahnya paling dekat dengam Ferdi.


"Kita nggak bakal kemari kalau istri kamu yang cantik itu nggak bikin pentas kuda lumping!" sahut tetangga lain. Mereka datang setelah melihat mobil polisi datang, sebelumnya, mereka hanya melapor pada RT karena khawatir Marini dan Lea saling melukai mengingat suara pecahan barang terus terdengar.


"Untung kita tanggap, Fer, kalau enggak Ibu kamu pasti udah meninggal, akibat ulah istrimu itu!"


Ferdi mencoba tuli. "Pokoknya kalian pergi dari sini! Bikin gaduh aja!"


"Ih, dasar nggak tahu terimakasih, kamu ini!"


"Udah dibantuin juga!"


"Dasar! Udah miskin, sombong, tukang selingkuh pula!"


Makian itu membuat Ferdi makin marah. "Jaga bicara kalian! Mulut ngomong cuma asal nyablak aja!" maki Ferdi dengan amarah sampai ubun-ubun.


Masih dengan menggunjing, mereka meninggalkan halaman rumah Ferdi. Sayup terdengar gumaman mereka di telinga Ferdi.


"Eh, bagi videonya donk ... lumayan buat olok-olok mereka itu kalau nanti masih suka sok!"


Sialan! Ferdi mengepalkan tangannya. Ini gara-gara Lea sialan itu! batin Ferdi. Ia memutar tubuhnya, lalu masuk ke rumah untuk membubarkan aparat desa yang masih mencocokkan data milik Marini dengan teliti.


"Sabar, toh, Mas ... ini kan kami diundang sama Ibu sampean, harusnya sampean berterimakasih, bukan mengusir begini." Polisi yang sedari tadi mengawasi jalannya debat, menahan dada Ferdi kala ia berusaha merebut sertifikat di tangan kepala desa.

__ADS_1


"Sudah cukup, Pak ... memang ini rumah ibu saya. Nggak perlu sampai sejauh ini kalian mengusiknya. Memangnya apa untungnya buat kalian?" Ferdi merasa terdesak dan menanggung malu terlalu banyak akibat ulah Lea dan Ibunya. "Bikin malu saja!"


Mata Ferdi pertama kali melirik ibunya, lalu jatuh ke Lea. Seketika Marini bangkit, ia merasa tersinggung karena ucapan Ferdi.


"Oh!" Marini berkata keras sekali sampai orang-orang yang ada di ruangan ini mendongak ke arah Marini. "Jadi kamu anggap Ibu ini yang membuat kamu malu, Fer? Ibuk hanya mempertahankan apa yang menjadi milik Ibuk. Sudah bagus Ibuk gantiin uang Lea yang kamu hilangkan, sekarang kamu masih menganggap ibumu aib?"


Semua orang saling pandang, merasa masalah di sini cukup pelik.


"Baik, Bapak-Bapak, tolong jadi saksi untuk apa yang saya ucapkan." Marini menghela napas dalam-dalam. "Karena saya pemilik sah rumah ini dan saya tidak ada sangkut pautnya soal tanah Lea, mulai saat ini, saya tidak bertanggung jawab atas keuangan maupun rumah tangga anak saya. Saya mau mereka berdua meninggalkan rumah saya malam ini juga. Saya pemilik rumah berhak mendapatkan kedamaian di rumah saya sendiri, dan saya mewajibkan Lea mengganti rugi semua kerugian saya. Jika tidak saya melaporkan Lea atas pengrusakan barang milik orang lain!" tegas Marini.


"Buk!" Ferdi menyentak keberatan. Ia melangkah ke depan ibunya.


"Jangan bicara apa-apa, Fer ... jika kamu ingin tetap sama Ibuk, kamu ceraikan Lea, tapi jika kamu masih memberatkan Lea, silakan angkat kaki dari rumah ini!" teriak Marini lantang.


"Nggak bisa gitu, dong, Bu ... nanti siapa yang akan ngurusin Ibuk kalau aku pergi?" Ferdi berkata lirih dan dalam nada yang sangat rendah. Berharap Marini akan luluh dan mengizinkannya tetap tinggal. Tangan Ferdi perlahan terulur untuk mencium tangan Marini, tetapi langsung di tarik paksa oleh Marini.


"Pilihan ada di tangan kamu, Fer ... Ibuk terserah padamu!" Marini membuang muka. Biarlah ia mati sendiri, itu lebih baik ketimbang serumah dengan Lea yang membuat kepalanya ruwet setiap hari. Ia ingin damai meski sendiri. Jalan hidup yang ditata sedemikian apik bersama Mayang dulu buyar dengan cara yang menyakitkan.


"Baik, Bu Marini." Pak Lurah berdiri, lalu memutuskan sesuai apa kata Marini. Dan memang benar, terlepas dari sifat kejam dan tega Marini, Marini sudah mengambil jalan keluar yang paling baik.


"Mas Ferdi dan Mbak Lea sebaiknya pergi dari sini dulu untuk sementara, sampai kalian berdua menyelesaikan masalah diantara kalian. Saya yakin Bu Marini tidak setega itu mengusir anak yang di sini bisa saya katakan memutus hubungan antara ibu dan anak. Nanti kalian berdua kembalilah dan rawat Bu Marini, tapi untuk sekarang, kalian tinggalah ditempat lain." Pak Lurah menyarankan, agar masalah ini cepat selesai.


Lea bersedekap angkuh, lalu berdiri dengan gerakan menyentak, mengabaikan perutnya yang sakit—terus menerus sakit. "Saya nggak sudi balik lagi ke rumah laknat ini. Lebih baik saya menggelandang di bawah jembatan saja dari pada mengemis pada wanita miskin ini."


Marini berusaha tidak menanggapi, tetapi ia memegang ucapan Lea barusan. Lihat saja nanti, Lea! batin Marini.


Ferdi pun merasakan amarah yang sama dengan Lea. Belum cukup kalau marah saja, tapi juga sakit hati dan terhina. Dibuang ibu kandung sendiri? Astaga, ibu kandung Ferdi terdengar sangat kejam.


"Aku nggak menyangka Ibuk akan setega itu sama aku!" gumam Ferdi seraya berbalik. Tak lupa ia menyapukan pandagan pada orang-orang yang dianggapnya berkomplot dengan ibunya. Awas kalian!

__ADS_1


Dengung dendam membuat Lea tak henti bergumam dan ngedumel penuh cacian. Sembari mengemasi pakaiannya, Lea meremas perutnya yang nyeri. "Hei bayi sialan, kalau kau hanya merepotkan, keluar saja dari perutku sekarang! Dasar menyusahkan, tidak berguna, sialan, anak haram sialan!"


Tinju kecil Lea memukul bagian pusar yang sedikit menggembung. Diulangi sampai berkali-kali hingga ia merasa kebas. Bibir wanita itu terus bergumam penuh makian.


Sialan, sialan, sialan.


Bahkan tak berhenti saat suara Ferdi menginterupsi.


"Itu karena kebodohanmu sendiri, Lea ... itu karena kamu serakah dan tidak sabar," cemooh Ferdi terang-terangan.


Lea menoleh dengan cepat. Wajahnya pias memutih. "Apa katamu, Mas?" Telunjuknya menuding diri sendiri. "Salahku? Kebodohanku? Keserakahanku? Aku tidak sabar?"


Bibir Lea menyunggingkan tawa miris. "Bukankah kau yang bodoh, serakah dan ceroboh? Kau yang tidak sabar, Mas ... kau terlalu berambisi pada pesesan kosong yang disodorkan Mayang. Kau yang hilang akal dan gila!" sembur Lea dengan mata melotot dan gestur tubuh penuh emosi.


"Terus saja kamu salahkkan aku dan bilang kalau aku hilang akal, padahal kau jauh lebih gila dan nggak waras!" Ferdi tak takut membalas Lea, toh semua sudah tak berarti lagi sekarang. "Kau juga dengan bodoh merekam kita dan akhirnya tersebar, apa itu kau anggap masih punya akal?"


"Bagus kalau itu tersebar, biar semua tahu, kalau bukan hanya aku yang kurang ajar, tetapi kamu juga tergila-gila padaku!"


Ruangan mendadak sunyi senyap, hanya dua pasang mata saling adu pandangan yang melebar penuh amarah. Seolah siap saling menghunuskan pedang, hingga akhirnya, Lea meringis dan terhuyung mundur.


"Auw!" pekiknya nyaring dan langsung terkulai lemas, tak sadarkan diri.


*


*


*


*

__ADS_1


*


Duaaa ... 😄😄😄😄


__ADS_2