Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Karma Dibayar Lunas


__ADS_3

Pertengkaran Lea dan Ferdi di depan toko Mayang menjadi tontonan banyak orang, sehingga membuat Ferdi memilih hengkang dan kembali ke kantor. Ia tahu hari ini hari terakhirnya bekerja di kantor ini.


Ancaman dipecat memang sudah membayangi Ferdi sejak kinerjanya menurun. Sejak ia berpisah dengan Mayang. Butuh waktu lama untuknya move on dari rasa kehilangan itu. Dan ketika ia diberi kesempatan, kesempatan itu dibuang Lea begitu saja.


"Mas ... aku nggak bisa bantu kamu lebih banyak. Ini keputusan kantor." Saira berdiri di belakang Ferdi, di tangannya ada amplop berisi pesangon, "Surat keputusan kamu masih besok di keluarkan. Aku turut sedih, Mas ...," kata Saira pelan.


Ferdi masih membelakangi Saira, membuang jauh-jauh semua rasa marah yang tersisa. Berapa banyak waktu yang ia habiskan di meja ini, seakan tidak berarti hanya karena kebodohan Lea. Ah, juga karena kebodohannya. Andai dia mencari muka dengan prestasi, tentu dia sekarang tidak perlu merasa diabaikan dan dicap sebagai penipu.


"Nggak apa-apa, Sa ... ini emang kesalahanku." Ferdi memutar tubuhnya, menghadapi Saira yang memutar amplop putih di tangannya. "Maaf, membuatmu dapat masalah karena berusaha mempertahankan aku."


"Mas Ferdi udah kuanggap seperti kakakku sendiri, yang mau dengar keluh kesahku. Yang bantuin aku di sini dari awal sampai sekarang. Pasti aku pertahankan kamu, lagian Mas sedang banyak masalah, makanya kerjanya nggak fokus." Saira tersenyum.


"Makasih ya, Sa ... padahal aku bukan orang yang baik." Ferdi menunduk. Ya, dia bukan orang yang baik. Dia seorang penjahat. Ferdi beristigfar dalam hati. Benar, dia sudah menjelma menjadi iblis.


"Mas Ferdi orang baik ... saya harap Mas dapet kerjaan yang lebih baik setelah ini." Saira mengulurkan amplop di tangannya. "Saya harap kita tetap temenan meski nggak satu kerjaan lagi."


"Tentu, Sa ... jangan malu sapa aku jika ketemu, ya." Ferdi menyalami Saira, lalu mengambil tasnya, "Aku pulang dulu, sampai jumpa."


Saira mengantar Ferdi sampai ke depan kantor, rasanya dia kehilangan sekali dengan dipecatnya Ferdi. Tapi dia bisa apa, semua diputuskan oleh kantor pusat. Saira hanya menjalankan.

__ADS_1


Jika Saira merasa sedih dan kehilangan, Lea justru sedang berdebar-debar ketika ia menyelinap di toko Mayang. Dengan memakai masker dan kerudung, Lea masuk bersama dengan pengunjung lain yang sore ini cukup ramai.


Lea berniat memotong kabel freezer agar besok ketika makanan beku ini rusak. Semalam penuh pasti cukup untuk membuat Mayang merugi.


Lea perlahan bergerak ke freezer display paling pinggir, lalu menuju tengah dan ujung yang menurut Lea jauh dari jangkauan karyawan Mayang yang begitu sibuk melayani pembeli.


Susah payah Lea meraih kabel yang belum dilindungi itu, biasanya gerai seperti ini akan menyatukan kabel lalu dilakban ke lantai. Sepertinya Mayang menganggap di taruh di bawah freezer saja sudah aman.


"Mbak sedang apa?"


Lea berjengit, ia belum selesai mengerat satu kabel freezer ini, tetapi tampaknya dia sudah ketahuan.


"Itu tadi uang saya jatuh." Lea menunduk, karena tak jauh dari karyawan itu ada Mayang yang mengawasinya. "Kapan Mayang pulang?" batin Lea.


"Biar saya geser freezernya, Mbak ...," tawar karyawan Mayang yang langsung bergerak menggeser freezer besar itu.


"Oh, nggak usah, Mbak ... nggak apa-apa, cuma sepuluh ribu saja—akh!" Lea tak mampu menyelesaikan ucapannya, karena kerudungnya di tarik dari belakang. Rambutnya yang tidak diikat pun ikut tertarik.


"Lea!" Mayang memindai dengan curiga. " Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Mayang menelisik ke bawah di mana Lea tadi sibuk melakukan sesuatu.

__ADS_1


Jantung Lea berdetak kencang, keringatnya bercucuran. Dia sangat takut sekarang, sehingga ketika Mayang lengah, Lea memutar badannya ke arah pintu keluar.


"Lea, jangan lari!" teriak Mayang. Namun Lea abai dan terus berlari, sayangnya, di saat yang sama ada seseorang yang masuk dan menabrak Lea.


Gian yang mendengar suara Mayang dari arah belakang, bergegas menghampiri Mayang.


"Mas bantu aku nangkep wanita itu!" teriak Mayang kala Lea berusaha bangkit.


Gian bergegas mendatangi Lea dan mencekal tangan wanita itu.


"Mau lari kemana kamu?!" gertak Gian dengan tatapan tajamnya yang mengerikan.


*


*


*


Pake auto text, jadi banyak typo🤧 maafkan, ya🙏

__ADS_1


__ADS_2