
Ambulance keluar dari pelataran klinik Gian untuk mengantarkan Lea ke rumah sakit besar di kota sebelah. Gian barusan menghubungi dokter Yoga untuk mempersiapkan semuanya. Diperkirakan Lea akan sampai sekitar tiga jam perjalanan.
Gian menaikkan tangannya untuk menengok jam berapa sekarang, selain berhitung waktu sampai, Gian juga merasa hampa. Jam-jam seperti ini biasanya Gian akan bergelung dengan Mayang di kasur. Bercerita, melepas penat, atau melepas celana. Apa saja, asal mereka tetap terhubung.
"Gian!" teriakan pilu muncul, membelah suasana hening dalam kepala Gian yang penuh dengan romansa. Kepala pak Dokter Ganteng itu menoleh, terlambat menduga siapa yang memanggilnya.
"Mas ...," ulang wanita berwajah pucat dengan piyama bergaris beberapa langkah berjarak dari Gian. Tubuh tingginya yang agak berantakan membuat Gian mengernyit. Ceceran darah menetes di lantai klinik yang bersih.
"Tahan dia sebentar, Pak Dokter!" perawat di belakangnya memburu, Martian tak kalah kencang berlari. Namun Anggi sudah menempel di dada Gian dengan pelukan yang erat. Rambut panjang yang menyisakan wangi khas salon mahal itu memenuhi dada Gian.
Gian sontak mengangkat tangannya ke atas seperti sedang tertangkap basah sebagai pencuri. Wajahnya mendadak polos dan menggemaskan.
"Mas ... aku hanya mau kamu, bukan dia, Mas! Aku ingin sama kamu lagi ... bertiga dengan Qila!" Anggi terisak dan dada Gian seketika panas.
Apa-apaan ini?
"Anggi, tenang lah." Gian akhirnya mencoba bersikap lembut agar tidak terlalu runyam dan kacau. Anggi tak akan bisa dihadapi dengan kekerasan. Tapi kalau disesatkan pasti bisa. Kemampuan bersilat lidah Gian kini sangat dibutuhkan.
"Mas!" seru Anggi seraya mendongak. Wajah sembab itu membuat Gian ingin muntah. Alis Anggi nyaris menyisakan setengah saja. Lalu karena efek make up sudah luntur kini tampaklah lingkaran hitam dan wajah Anggi yang kusam.
"Tolong jangan begini, ya," ucap Gian penuh perjuangan. Baik untuk meleraikan pelukan maupun berkata-kata halus. Sejujurnya, Gian ingin memaki.
"Kita belum menikah lagi, jadi kita bukan muhrim sekarang." Gian beralasan yang paling masuk akal. Bodohnya, Anggi menurut. Linangan air matanya perlahan berhenti.
__ADS_1
"Anggi, kamu tahu kan, kalau hidup itu harus realistis. Kamu yang bilang malah." Gian mulai memainkan perannya sebagai pria yang dinilai Anggi dulu. Anggi mengangguk dan meletakkan tangannya di kemeja Gian.
Tatapan Gian sejenak gusar. "Kalau sakit itu ya, harus berobat, begitu kan?" Anggi mengangguk lagi.
"Kamu suka uang yang banyak?" lanjut Gian. Sekali lagi Anggi mengangguk. "Pak Mardian itu gudangnya uang. Sementara Gian hanya punya sedikit saja, itupun harus dipakai buat bayar utang bank dan juga bayar karyawan."
Anggi merengut tak setuju. "Aku tidak butuh uang, Mas ... Aku butuh kamu."
"Itu nggak sesuai sama kebiasaan kamu, Nggi. Kamu itu cantik, butuh perawatan mahal. Aku nggak bisa nyukupi itu semua. Pak Martian yang bisa. Beliau punya semuanya dan kamu nggak bakal kekurangan. Qila juga senang kalau bisa hidup bareng sama Ayahnya kan? Bukannya Qila itu anak Pak Mardian?"
Bibir Anggi mengerut kecut. "Kapan aku bilang? Dia anak—"
"Jangan menyangkal, Anggi. Semua orang sudah tahu. Kamu itu seorang ibu, jadi berpikirlah yang jernih untuk anakmu. Jangan terus menyangkal demi kebahagiaan kamu. Qila bergantung sama kamu, Anggi. Kamu jangan egois!" Suara Gian naik setingkat lebih tinggi dan tegas. Dia sudah lelah. Dan tak bisa membendung lagi perasaanya yang marah.
"Mas ...," rengek Anggi bingung. Dia lupa beberapa hal pernah ia ungkapkan. Tapi Gian belum dia beritahu. Apa Mardian brengsek itu yang memberitahu? Agar aku tidak bisa bersama Gian lagi? batin Anggi.
"Apa yang kalian lakukan?" Anggi menoleh ke kanan dan kiri, meronta agar bisa lepas dari cekalan para perawat di sekelilingnya.
"Bawa dia ke mobil," perintah Gian tegas dan tidak peduli. Sama sekali dia tidak menatap Anggi saat berkata.
"Aku mau dibawa kemana?" Anggi masih berontak meski amat lemah, "lepaskan aku. Mas ... tolongin aku!" rajuk Anggi dengan suaranya yang kian kecil.
"Anggi memang tidak bisa dikasari, jadi Pak Mardian harus sabar." Gian berkata demikian agar Mardian tidak terus-terusan menyusahkan orang lain, terutama dirinya. Pasti Anggi tidak mudah dibujuk tadi sehingga Mardian bertindak kasar atau membentaknya. Itu terlihat dari wajah Anggi yang takut ketika berhadapan dengan Mardian.
__ADS_1
"Saya bukan orang yang sabar seperti Pak Dokter!" ucap Mardian sinis. Seolah dia sedang menunjukkan betapa dia sangat pemarah dan kasar. Tidak peduli bagaimana Anggi, toh mereka sudah menikah. Suami lah yang berkuasa jika istri tidak patuh dan terus membangkang.
Mardian sedang kalut saat ini sebab Riska mulai memisahkan harta mereka. Kebetulan, sebelum menikah memang kekayaan Riska tak pernah diotak-atik. Dan hanya beberapa usaha yang tak seberapa di bawah nama Mardian, tanah, dan juga rumah. Kesemua itu akan tidak berarti sebab anak-anak Mardian yang masih lajang harus mendapatkan nafkah darinya tiap bulan. Kurang lebih begitu tuntutan yang diajukan Riska.
Dan bukti pernikahan juga Qila menjadi sesuatu yang memberatkan Mardian. Riska bisa mempercepat semuanya sebab Mardian telah berselingkuh. Juga kekuasaan wanita itu tak bisa diremehkan begitu saja.
Mardian memasuki mobilnya kala Anggi sudah duduk dengan aman di sana. Mereka menempuh tujuh jam perjalanan dan Anggi akan di beri obat penenang rencananya. Perawat terlihat sedang mengusahakannya.
Gian menaikkan bahunya saat Mardian begitu angkuh duduk di kursi depan. "Ini bukan salahku, kan, Pak Dewan? Aku hanya melakukan apa yang menurutku benar. Nggak lucu aku nyakitin Mayang demi wanita gila semacam Anggi?"
Gian menggelengkan kepala seraya memasukkan tangan ke saku.
"Dih, dalam hati kamu seneng kan?" Rully tiba-tiba datang dengan satu tas di tangannya. Mata Gian jatuh di sana, ketika menoleh.
"Beneran aku diusir?" tanya Gian tanpa terkejut sama sekali. Dia hanya enggan berdebat dengan Rully. Wanita bermulut cerewet itu pasti tidak akan mudah menyerah dengan ejekannya.
Rully memindai Gian dengan curiga. Lekat sampai rasanya ingin menelan wajah itu bulat-bulat. Mencerna apa yang ada di otak pria itu agar sekelip saja tak ada pikiran untuk menyakiti Mayang. Rully masih khawatir dan protektif soal itu.
"Nih, nikmati malam pengantinmu sama penghuni mess!" Kasar, Rully menyorongkan tas yang entah apa isinya pada dada Gian sampai pria itu terhuyung.
"Aku bisa laporan dengan benar kalau Anggi sudah pergi dari sini! Tadi Mayang sempat khawatir kamu mikirin mantan—"
"Kamu cerita sama dia, Mbak?" sela Gian dengan mata melebar dan perasaan was-was. Mayang tidak boleh berpikir yang tidak-tidak soal dia.
__ADS_1
'"Ya, toh buat apa di tutup-tutupi? Kenyataannya kan demikian?" jawab Rully santai seraya berlalu. Wajah horor Gian sudah cukup lah membuatnya senang mengerjai pria itu.
Sebenarnya, Rully hanya melihat adegan pelukan tadi, tanpa tahu kalau Anggi ada di sini, juga tidak berkata apa-apa selain semua tugas sudah dilakukannya dengan benar. Beruntung sekali ia mencegah Mayang datang sendiri kemari. Tidak apa Gian berpikir Mayang masih ingin berjauhan, dari pada melihat adegan menjijikkan tadi. Mayang pasti akan stok dengan kondisinya sekarang.