
Menebus kesalahannya, Rully bertekat menemani Mayang hari ini. Kendati pikirannya carut marut tak karuan, Rully sebisa mungkin menahan semuanya tetap terkungkung dalam memori otak Rully. Kejadian semalam membuat dirinya melabrak batas yang ia ciptakan sejak dulu, namun entah pikiran dari mana, Rully merasa semua itu terasa benar. Ia yakin Djarot akan mempertimbangkan dirinya. Namun, siapa sangka pihak sebelah sana sedang memiringkan bibirnya dengan pikiran paling licik menghantui. Roni dengan kuasa penuh dari Djarot akan membuat Rully jatuh tersungkur tak berdaya nanti. Itu sungguh balasan yang setimpal untuk gadis yang sombong.
 Wajah Rully dibuat secerah mungkin agar Mayang sedikit saja mau menerbitkan senyumnya, atau sedikit saja semringah. Sungguh Rully empet melihat wajah muram di depannya ini.
"Apa yang harus Mbak lakukan, May? Bilang dong? Aku belum jadi hantu untuk bisa tau apa mau kamu?" Rully mendengus kesal, ingin sekali tangannya menampar adiknya ini agar segalanya terlampiaskan.
Yang ada dipikiran Mayang sedari tadi hanyalah Gian seorang. Ada rasa bersalah, juga rasa kasihan, tapi rasa muak mendominasi. Mayang ingin muntah menyebut nama suaminya. Tetapi rasa-rasanya, Mayang akan dilanda kecemasan terus menerus jika tidak mengungkapkan. Tatapan Mayang bergerak dari kekosongan ke arah Rully yang sudah kehabisan kata bujukan juga muak melihat kebebalan Mayang.
"Antarkan makanan ke mess, Mbak ... mungkin dia belum makan." Mayang setengah mati menahan gejolak di perutnya yang mengaduk-aduk. "Bawa juga beberapa anak buat bersihin mess, pastikan dia nyaman di sana. Tanyakan juga apa yang perlu dibawa ke mess dan periksa kebutuhannya yang habis."
Rully menoleh dengan mata membeliak, tak percaya jika hal itu yang diinginkan Mayang. "Bilang dong dari tadi, kalau cuma khawatirkan suamimu itu," kata Rully ketus. Ia segera beranjak dan menuju dapur, meminta Mbok Darmi mengepak beberapa menu makanan dan menyuruh beberapa anak lelaki yang biasa bekerja sebagai tenaga kebersihan untuk membawanya ke mobil.
"Mbak ... ini nomer dia, kalau ada apa-apa Mbak yang akan menghubungkan aku dengannya, dan sebaliknya." Mayang mengatakan itu agak salah tingkah dan malu. Ia merepotkan terlalu banyak, dan dia juga tahu bagaimana perasaan Rully ke Gian. Namun, ia percaya akan cinta suaminya dan Rully tidak akan sampai terpikat pada perasaannya yang lalu.
"Kau merepotkan sekali! Jangan lagi hamil, kalau hamilmu menyusahkan dan membuatku pusing begini!" Meski begitu, Rully mengambil ponsel Mayang dan menyalin nomer Gian dengan cepat. Andai dia bisa bersikap tega pada Mayang, tentu ia tak mau melakukan ini, tetapi wajah pucat dan tertekan Mayang membuatnya iba. Mungkin hamil kembar membuat suasana hati Mayang mudah berubah dan labil. Untung sudah ada Mas Djarot menghiasi hatinya, kalau tidak, pasti Rully meleleh dan membelot menikung Gian. Dan Djarot tak kalah menggoda dari Gian, tak kalah susah ditaklukkan dari Gian yang super dingin dan galak itu.
Sepanjang jalan menuju ke klinik Gian, bibir Rully terus saja mendumel, membuat orang-orang yang duduk dibelakang menjadi tegang. Mereka seperti baru melihat sikap wanita cantik yang satu ini ternyata seperti ini.
Bahkan Rully masih muring-muring sesampainya di klinik Gian. Ia menutup pintu dengan hentakan keras, lalu membiarkan pegawai Mayang mengantarkan makanan ke ruang rapat. Loyalitas Mayang pada Gian tak sebatas untuk Gian sendiri, tetapi untuk semua karyawan Gian.
Sementara itu, Rully memeriksa ponselnya, berharap Djarot mengiriminya pesan yang menyoal kejadian semalam. Tapi boro-boro, Djarot hari ini tampak hening di semua lini media sosial miliknya. Hanya ada keterangan sedang sibuk di story Whatsapp-nya.
Rully barusan mengumpat, tetapi Gian membuyarkan momen kekesalan Rully, membuat Gian menaikkan alisnya.
__ADS_1
"Djarot?" tanya Gian santai.
Rully hanya mendengus, lalu mengatakan iyanya dengan ketus.
"Dia sedang mengurus perceraian Bu Riska, kalau Mbak Rully mau nunggu, dia akan datang kemari sejam lagi."
Rully menatap Gian dengan heran. "Kok kamu tau semuanya?" Padahal dengannya, Djarot tak membagi apapun.
"Kita rekanan kerja, kan?" Gian menyandarkan badannya di mobil Rully. "Mayang sedang apa, Mbak?"
Rully seperti diingatkan. "Muntah karena ingat wajah kamu! Susah banget sih, hamil anak kamu! Mayang muntah-muntah ingat wajah kamu, bau keringat kamu! Heran juga sih, emang yang buat bayinya bukan kamu apa?"
Gian terkekeh lalu bersedekap. "Tolong berikan dia jeruk yang banyak, Mbak. Di rumah aku belikan satu kotak penuh. Aku barusan suruh orang buat antar ke rumah. Aku baru tau dari anak-anak yang kerja di rumah. Jaga dia juga."
"Kangen, sih ... tapi aku yakin dia juga tak berdaya dengan keadaannya ini. Paling sebulan juga ilang." Gian membuang napasnya. Ia tampak tak yakin.
"Jangan kamu buat dia hamil lagi lah, kupikir dia hanya caper biar kamu hanya fokus sama dia." Sekali lagi Rully menatap Gian.
"Aku ingin punya banyak anak, Mbak ... jangan begitulah. Aku nggak apa-apa, kok." Gian tertawa aneh, "mau nunggu Djarot di dalam? Atau mau langsung pulang?"
"Aku lihat mess kamu aja, kata tuan putri Mayang suruh pastikan kamu nyaman, mess bersih, dan semua kebutuhanmu terpenuhi. Dia bucin banget sama kamu!" Rully tak tahan untuk tidak mencibir di ujung kalimatnya.
"Benerkan, apa aku bilang? Mayang itu nggak akan biarin aku merana berlebihan." Tangan Gian dengan gerakan samar menaikkan kerah bajunya. Terlihat sekali dia sangat narsis.
__ADS_1
"Tapi kamu nggak boleh hubungi dia, semua harus lewat aku!" Rully dengan senang hati mengatakan itu keras-keras, membiarkan Gian jatuh hingga perasaan narsisnya hancur berkeping-keping. Puas sekali hatinya melihat Gian tampak membuang muka dengan hembusan napas kasar.
Rully berjalan ringan meninggalkan Gian, menuju mess dan segera melakukan apa yang dipinta Mayang.
Djarot yang sudah terlambat datang, bergegas menuju ruang rapat di klinik Gian. Masih ada Harris yang meninjau lokasi pengembangan area klinik yang akan naik status menjadi rumah sakit. Djarot akan membantu segala sesuatu yang berurusan dengan perizinan dan legalitas.
Namun, sebelum ia sampai di area rapat, mata Djarot menangkap sepasang mata yang menatapnya penuh binar.
Tangan itu melambai tanpa tahu malu, lalu mendekat dengan senyumnya yang begitu memikat. Djarot menegakkan kaki dan kepalanya.
"Satu bulan lagi dan jangan membuatnya semakin sulit untukmu, Rully!"
Rully menatap mata bengis yang begitu dingin. Hati Rully tercabik-cabik. "Persetan dengan satu bulan atau satu tahun, Mas ... aku menarik semua perjanjian konyol itu! Apa tidak ada hal yang meringankan aku dari ucapanku waktu itu?"
Dalam hati Djarot bersorak, meski ia tak tega melihat perasaan rendah dimata Rully. "Satu bulan lagi, datanglah ke rumahku. Jangan coba-coba muncul dan membuat semuanya sulit kali ini. Perjanjiannya saya balik. Yang pernah terucap dari mulutmu saat itu, berlaku padamu mulai hari ini."
Djarot melenggang dengan langkah tegak dan terasa ringan. Dia akan tenang saat bekerja jika Rully tak terus mengganggunya. Satu bulan lagi, dia akan mengobrak-abrik wanita itu. Sampai jatuh di kakinya.
*
*
*
__ADS_1
Juni menyapa, bestie, semoga bisa selesaikan Mayang bulan ini, yak ... 🤗