
Gian sedang bermimpi didatangi Mayang malam ini, lama setelah lamunannya jatuh ke alam mimpi. Kepala Gian berat dan matanya terasa panas. Badannya terasa dingin menggigil, tetapi ia tidak mampu bangun. Tubuhnya lemas sekali.
"May ... aku kangen kamu." Gian mengusap pipinya yang terasa hangat oleh kulit Mayang. Gian sungguh sama-samar melihat Mayang duduk di depannya sekarang. Wajahnya penuh senyum yang biasa membuat Gian jatuh dalam pesoan wanita itu. Pujaan hatinya yang begitu ia damba.
"May, jangan usir aku lagi, ya ... bisa mati aku tanpa kamu." Gian meracau, matanya berair. Entah kenapa ia merasa tak berdaya kali ini. Baik hati maupun tubuhnya. Setelahnya, Gian bahkan terlalu sulit untuk membuka matanya. Dia hanya ingin tidur.
"Pak Gian kelelahan, Bu ... hampir tidak tidur selama seminggu ini. Kalau pun tidur, itu hanya sebentar saja." Hani menahan senyum dan juga terbawa suasana saat Gian mengigau tadi. Gian mengalami demam tinggi dan batuk-batuk. Tekanan darahnya juga rendah sekali. Hani dipanggil saat Mayang datang dan menemukan Gian terkulai hampir jatuh dari ranjang. Kondisinya buruk tadi, Mayang sampai panik.
"Seharusnya saya tidak menyuruhnya tidur di sini, Han," Mayang menatap penuh sesal sang suami yang tidur seperti malaikat.
"Loh, kata Pak Dokter, beliau di sini agar mudah saat berkoordinasi soal pembangunan rumah sakit itu, Bu." Hani seketika merasa salah berucap dan memahami situasi. Bagaimana dia bisa begitu lancang bersuara? Ia menunduk seraya menggigit bibir. Minta maaf juga sungkan.
"Dia selalu begitu, kan? Tidak mau kalau saya terlihat jahat di mata orang lain." Mayang merasa dirinya tidak pernah sebaik itu. "Padahal, mengatakan apa adanya juga tidak apa-apa."
"Ah, Ibu itu baik kok ... baik banget malah. Coba saja itu dihitung berapa banyak Ibuk kasih kami makanan selama Pak Gian di sini. Saya yakin itu juga butuh dana yang besar dan hati yang murah." Hani sama sekali tidak bohong. Dua kali sehari, rombongan pegawai Mayang mengantarkan makanan dalam jumlah yang besar. Malah terakhir semua pasien juga mendapatkan jatah.
"Ibuk ndak rugi banyak, tuh?" Hani takut menanyakan, tetapi kantong tipisnya tak pernah menjangkau itu semua. Itu sangat berlebihan.
Mayang tersenyum, ia melepaskan tangannya dari tangan Gian. Pria itu pasti sudah tidur lelap akibat efek obat yang diberikan Hani lewat infus. "Kalau ngasih sesuatu, jangan pikirkan rugi atau tidak, asalkan kalian senang dan membantu suami saya membangun impiannya, semua yang saya keluarkan menjadi sangat tidak ternilai. Itu kecil dan tak seberapa."
__ADS_1
Hani takjub dan merasa tersanjung. Seakan-akan dia adalah bagian dari kesuksesan yang Gian capai. "Ndak sebesar itu juga, Bu Mayang. Kami hanya lulusan tanpa pengalaman yang diajari Pak Dokter sampai mahir dan seperti sekarang. Saya bisa beli motor, bantu sekolah adik saya yang lain, dan ibu saya tidak perlu lagi ngoyo buruh cuci."
"Kamu pantas mendapatkan itu semua, Han ... kamu gadis baik. Nanti kalau cari suami, pilih pria yang baik, yang bisa hargai usaha kamu yang begitu keras ini."
Hani mengangguk. Bagaimanapun, Hani senang bekerja dengan Gian. Walaupun keras dan suka marah-marah, tetapi Gian begitu profesional dan tidak pelit ilmu. Setiap ada masalah dalam persalinan, Gian akan menjelaskan dengan detil. Bahkan setiap ada kasus, ia akan mengadakan evaluasi menyeluruh dan mempersilakan semua orang yang berkaitan dengan kasus itu. Gian akan memberikan arahan tentang beberapa hal yang harus dan jangan dilakukan. Yah, walaupun diawal-awal, mereka harus merelakan kuping mereka mendidih.
Malam itu, mereka berdua menghabiskan banyak waktu untuk bercerita sampai Mayang tak bisa menahan kantuk dan tidur di sebelah Gian dengan bibir mengulum kepuasan menatap wajah Gian yang pulas.
Mayang lah yang paling beruntung, mendapatkan pria sebaik Gian.
Ini benar-benar mimpi. Gian memaksa matanya terbuka lebar-lebar saat lensa matanya menangkap segaris wajah yang biasa ia pikirkan seminggu ini. Tangan Gian mengelus pipi Mayang kemudian ia tersenyum.
"Pagi istriku."
Mayang bangun dengan satu tangan menopang tubuhnya. "Aku siapkan sarapan, ya."
Gian terkekeh. Bagaimana dia bisa lupa kalau ini bukan di rumah, sementara yang rindu ingin pulang adalah dirinya. Bagaimana Mayang yang mendatanginya malah lupa kalau dialah yang datang kemari?
"Nggak usah ... nanti katering akan datang sendiri jam sepuluhan." Gian masih geli tetapi ia menarik Mayang dalam pelukannya lagi. "Pelukan dulu sampai kangenku ilang, May."
__ADS_1
"Mas ... kamu masih sakit. Nanti nular ke aku, loh." Mayang menahan dirinya agar berjarak dengan Gian yang masih bernapas panas. Meski itu bukan demam semalam, tetapi Mayang belum bisa melakukannya. Ia tahu kemana pelukan itu berakhir. Sungguh, ia mengenal modus Gian sampai ke akar-akarnya.
"Janji cuma peluk saja, May ... aku nggak punya tenaga buat ngapa-ngapain kamu." Keseriusan Gian ditunjukkan dengan tangannya yang lunglai beserta selang infus menancap di hadapan Mayang. Dan memang Gian masih setengah terpejam saat ini.
"Aku hanya ingin peluk kamu." Gian mendekap Mayang erat-erat sampai dadanya sendiri engap. Bibirnya begitu murah hati menciumi kening Mayang. Benar-benar menumpahkan semua kerinduan yang ada.
"Perutmu berkembang sangat cepat, ya ... dua jagoan Daddy udah nyundul perut, nih." Gian berkomentar.
"Aku maksa makan sehabis muntah, Mas ... dan berat badanku naik banyak."
"Nggak apa-apa, May ... Bumil harus naik secara stabil berat badannya. Yang penting kamu dan mereka sehat." Gian memejamkan mata. Menikmati kehangatan mereka saat bersama, sebelum ....
"Mas ... aku mau muntah," kata Mayang lemah kemudian menutup mulut.
Gian membuang napas seraya melepaskan pelukannya. Baru juga diomongin ....
*
*
__ADS_1
*
Jangan protes kok hanya Hani saja yang muncul ya, sumpah aku capek cari nama. wkwkwkwkwkwk ... bosen boleh banget buat skip, ya ... jujurly aku gak ada persiapan buat ngetik panjang lebar lagi. Tapi berhubung yang menghasilkan hanya ini aja, cuslah kebut-kebut cantik. wkwkwkkwkkwkwk ....