Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Kita Nggak Ada Hubungan


__ADS_3

Mayang kelelahan hari ini, setelah semalam dia hanya tidur sambil duduk, kini setelah semua beres dibagi ke empat tempat usahanya, Mayang berniat pulang, mumpung masih jam empat sore, setidaknya ada dua jam untuk tidur sebelum gelap.


Langkah kaki Mayang terantuk kedatangan sebuah mobil box yang sedang mundur di tempat parkirnya.


Gelagat ini tak biasa. Ada apa?


"Sore, Bu Mayang." Pria yang kemarin menemui Lea sungguh datang ke rumah makan Mayang sesuai perintah Lea. Di tangannya tergenggam sebuah catatan yang agak berantakan.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" Mayang masih bingung, tetapi dia berusaha tetap ramah. "Ini apa, ya, Pak?"


Pria itu malah merasa aneh sendiri dengan perkataan Mayang. Bukankah dia bosnya? Dia lagi butuh stok makanan olahan beku, kan?


"Ini pesanan tahu tuna, otak-otak, pangsit, bakso, dan olahan tuna lainnya, milik Ibu. Kata Bu Lea suruh anter kemari," kata pria itu polos.


Mayang menjerit dalam hati, matanya melebar sempurna. Gila si Lea itu? Nantangin, rupanya? Oke, Mayang tidak pernah takut sama namanya yang suka main belakang.


"Ini totalnya, Bu ...."


Mayang menerima nota dari pria itu dengan gemetar. Bola mata bening Mayang langsung tertuju pada nominal paling bawah. Bukan masalah apa-apa, masalahnya dia sudah tak punya uang tunai lagi. Ia paham pengusaha ini hanya korban. Mayang juga tak tega untuk menolaknya. Tapi, dari mana dia akan dapat uang tunai sebanyak ini?


Oke, katakanlah, ATM Mayang bisa menarik lima puluh juta per harinya, tapi di sini, kota kecil, untuk menarik sebanyak itu biasanya ke bank langsung.


Bisa saja dia menolak, tapi wajah pria itu sungguh membuat hati Mayang tak kuasa mengatakan tidak. Bagaimana ini?


Mayang punya opsi. "Kalau saya transfer saja bagaimana, Pak? Sa-saya ndak punya uang tunai sebanyak ini, Pak."


"Aduh, saya ndak punya rekening, Bu ... kalau anak saya, punya tapi saya ndak tahu nomernya," jawab pria itu sambil menggaruk sisi kepalanya. "Mana saya ndak bawa hape lagi," sambungnya bergumam.


"Eh, gini aja, Pak ...." Mayang selintas ada ide. "Saya ndak akan pernah bohong kalau saya sudah janji, saya selalu berusaha menepati. Saya akan bayar penuh tap besok, saya beneran ndak punya uang tunai, Pak ... ada sejuta ini, mau?"


Pria itu mendelik, sejuta ini baru seperdua puluh dari total keseluruhan barang yang ia bawa. Kalaupun DP tetap harus seperempatnya. mana bis lah seperti ini. "Wah, jangan dong, Bu ... saya butuh uang secepatnya buat balik modal. Ini tadi saya maksimalkan produksi dan menambah karyawan. Jadi setelah ini, saya harus langsung belanja bahan pokok, kebetulan ada kapal CV. Ratna yang bersandar. Tunanya gede-gede, sayang kalau saya ndak ikut lelang."


Mayang paham, sangat paham. CV. Ratna ini pemilik kapal besar, jadi jelas ikan yang dibawa jumlahnya melebihi batas. Wajar kalau semua orang rela antre berjam-jam nunggu ikan turun.


"Gimana saya jelasinnya, ya, Pak ... tapi sungguh saya ndak main-main. Saya ndak mungkin balikin semua ini, kan?"

__ADS_1


Pria itu mengangguk, membenarkan ucapan Mayang.


"Jadi saya mesti gimana, Pak ... kalau sabar sebentar saja bagaimana? Biar saya cari pinjaman, selagi barang-barang ini Bapak turunkan. Nggak lama, kok!" Mayang berlalu setelah menunjukkan dimana makanan beku itu diletakkan.


Darmi dan Wita menyaksikan semua ini dengan perasaan kesal.


"Nanti kalau ketemu Lea, akan saya bejek-bejek mukanya biar kaya remahan kotoran ayam."


Wita tertawa mendengar umpatan Darmi yang begitu emosional. "Saya nitip satu tamparan saja, Mbok ... ngomong-ngomong, kenapa harus jadi remahan kotoran ayam?"


Wita meliarkan pandangannya kala Darmi menatapnya tak terima. Seolah Wita juga ikut melakukan kesalahan yang sama. "Kenapa nggak kotoran kambing, atau sapi, atau waletnya Bu Mayang? Kan lebih bau itu, Mbok?"


Darmi mendesahkan napas kesalnya ke udara. "Kalau kotoran ayam, langsung jadi debu pas kena angin, masih mending punya walet itu, dijual satu karung lima puluh ribu, jadi pupuk cabe sama sengonnya Simbok, malah makin bagus. Lea itu nggak pantes jadi apa-apa. Sebel aku sama dia ... hih!"


Wita meringis sambil mengusap pundak Darmi perlahn. "Sabar, Mbok ... sabar."


Darmi hanya tidak habis pikir dengan tindakan Lea. Apa sih susahnya minta maaf? Toh, Mayang tidak melakukan apa-apa, kalau seperti ini, Mayang pasti akan makin dendam dan membalas Lea dengan telak. Bener-bener itu anak sedang menjajal seberapa kejam seorang Mayang.


Mayang pun merasa demikian. Selama ini dia masih baik dan masih memikirkan bapaknya Lea, tapi kalau sudah begini ... Mayang tentu tak akan diam begitu saja.


"Ah, Pak Dokter ...." Baru kali ini, Mayang melihat sapaan Gian bak air hujan membasahi tanah yang tandus. Mayang bagai kejatuhan Malaikat penolong yang melegakan hatinya.


"Kok tumben nggak jutek sama saya?" Gian mengerutkan kening melihat reaksi Mayang yang tak seperti biasanya. Tak ada bibir manyun yang rasa-rasanya ingin Gian embat saat itu juga.


"Jadi Pak Dokter maunya saya bagaimana?" kesal Mayang.


Gian sejenak berpikir. "Apa aja asal itu dari Bu Mayang, digantungpun saya senang, Bu."


Tawa Gian membuat Mayang kini merengut dan mendekati Gian. Ia sematkan sebuah cubitan maha kecil di lengan Gian yang agak basah.


"Saya lagi ndak bercanda, Pak ... saya lagi butuh bantuan." Mayang berucap dengan gigi saling beradu mengetat. Cubitan itu ia pelintir perlahan dengan penekanan tertentu di beberapa kesempatan.


"Adududududu, cinta harus sesakit ini, Gusti ...," erang Gian seraya meringis, tetapi sebenarnya, Gian hanya mengejek.


"Pak Dokter Gian harus bantu saya!" Cubitan Mayang masih menempel, meski tangan Gian yang lain menginterupsi. "Kalau ndak mau, saya bakal bikin hidup Pak Gian menderita."

__ADS_1


"Bu Mai ini malak, ya?" Gian kini mulai tak tahan dengan sakit yang dia hadapi sekarang. "Baik ... bantuan apa?"


Mayang mengendur kendati tak lepas mencekal tangan Gian sebagai ganti cubitan. Tatapan Mayang menekan galak. "Pinjami saya dua puluh juta, besok jam sepuluh saya bayar cash!"


Gian mencibir, dengan mudah ia kibaskan tangan Mayang sampai lepas. "Kalau segitu mah, saya kasih cuma-cuma juga nggak masalah." Gian melirik Mayang yang mulai berbinar secerah matahari sore.


Gian jual mahal. "Masalahnya, saya nggak mau minjami apalagi kasih uang itu ke Bu Mai." Itu sungguh kejam. Gian tertawa jahat dalam hati.


"Pak ...!" desah Mayang dengan mata sendu, "masa Bapak tega lihat saya ndak bisa bayar orang?"


"Memangnya kita siapa? Kita kan hanya tetangga," balas Gian cuek. Rasain kamu, Mai, batin Gian terkekeh melihat polah Mayang yang blingsatan.


"Pak, saya mohon ...!" Mayang mendekat. Kepada siapa memangnya dia minta tolong? Rully jelas tidak datang ke rumahnya setelah tahu dia pulang di antar Gian. "Janji deh, saya ndak akan galak sama Bapak!"


Kelingking Mayang mengacung, yang hanya dianggap angin lalu bagi Gian. Digantung saja mau, apalagi cuma digalakin? Masih mainstream tawarannya.


"Saya akan jadi pacar Bapak, kalau gitu!" Mayang akhirnya menyerah. Namun, Gian tidak begitu. Pasti nanti kalau Mayang sudah kembali ke mode normal, dia lupa segala-galanya. Tidak, pacar juga bisa putus.


Mayang membuang napas dalam dan pelan. "Saya akan nuruti apa mau Bapak, deh ... dua puluh juta akan saya balikin besok, kalau jam sepuluh esok, saya ndak datang ... Bapak boleh kasih anakan(bunga pinjaman) pada saya."


Gian masih enggan percaya, "janji?" tantang Gian. Mayang mengangguk. "Kalau kamu sampe ingkar, awas, ya! Ilang nikmat dunia kamu!" kecam Gian sungguh-sungguh.


Mayang mengangguk kuat-kuat.


"Besok jam sepuluh!" tekan Gian seraya menghubungi tim keuangannya untuk datang dengan uang sebanyak yang Mayang minta. Mayang terus menganggukkan kepalanya.


Rencana Gian harus matang dan sukses ... mungkin hanya butuh penyesuaian sedikit.


*


*


*


*

__ADS_1


Maaf, typo yah ... aku tadi sempat kesulitan update ... entah apa sebabnya, katanya gagal dibuat🤧


__ADS_2