Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Soal Gian Dan Bapaknya Juga Hubungan Yang Dia Jalani


__ADS_3

Menolakpun percuma, Gian hanya bisa pasrah. Langkah yang dia ayunkan cepat, nyatanya tak mampu menyembunyikan kekacauan di dalam kamar yang ditempatinya.


Mayang ingin berdiam diri, tetapi ia merasa kasihan melihat wajah frustrasi Gian. Dia sebenarnya tidak enak hati ketika Hadyan mengajaknya mampir ke sini. Tadi saja pria ini membuatnya malu setengah mati. Harusnya Mayang biarkan saja Gian menahan malu dan sibuk sendirian sekarang.


Hadyan duduk tenang di sofa, menyisihkan beberapa buku milik Gian yang berserak. Dia hanya berdehem melihat Gian memerah wajahnya menahan malu.


"Saira kalau nginep di sini ndak bersih-bersih memangnya?" Hadyan bertanya. Gian membeliak. Apa-apaan Pak Tua ini? Pertanyaannya itu apa tidak bisa dikondisikan? Ini—?


Ah, Gian paham. Jadi ini tujuannya kemari? Menjatuhkan harga dirinya di depan wanita yang mereka sukai. Gian melirik Mayang dengan cemas sekilas. Wanita itu tampak tak terganggu dan terus mengumpulkan barang Gian—sebagian besar hanya buku-buku tebal.


Gian mendatangi Mayang. "Kamu duduk saja, tidak usah membantu, saya bisa rapikan sendiri."


Mayang menegakkan tubuhnya. "Apa kencan ala orang-orang pinter itu ngacak-acak buku begini?" Ya, Mayang masih punya dendam tersendiri pada Saira. Meski itu bukan Saira sendiri yang melakukan, tetapi Marini yang menyebabkan. Saira ini belum pernah bersinggungan langsung dengannya kecuali waktu itu di Selera, dan dia mengabaikan Mayang. "Dia tampaknya wanita yang sangat baik dan setia," sambung Mayang.

__ADS_1


Gian terkejut. Mungkin ada hal yang diketahui Mayang soal Saira yang Gian tidak tahu. Atau mungkin, Mayang tahu dugaan affair Saira dengan Ferdi? Gian sudah menduga sejak lama, tetapi Saira bukan siapa-siapanya, hanya wanita nekat yang sedikit gila.


"Saya bukan ember bocor kayak Pak Dokter, jadi Bapak tenang saja. Saya bukan pakar menjatuhkan nama baik orang seperti Pak Dokter, yang seenaknya menghujat orang di depan publik. Untung saya terima, kalau ndak, Bapak sudah saya laporkan ke polisi." Mayang merujuk pada kejadian di tempat parkir dimana Saira dan Gian kepergok berciuman olehnya.


Gian makin tersudut. Ucapan Hadyan diperkuat oleh apa yang dilihat Mayang waktu itu. Runtuh sudah harga diri Gian sekarang. Dia benar-benar kalah. Gian tamat sudah.


"Bicaralah sama Bapak." Gian melirik bapaknya yang tenang, seolah percakapan Gian dan Mayang tidak mampir di telinganya. Hati Gian sudah pasrah, jika memang Mayang dan dia hanya akan dekat sebagai ibu dan anak tiri. Gian yakin, Mayang sudah ilfil sama dia. Semuanya sudah jelas. Meski Saira tak pernah ia izinkan selangkahpun masuk ke dalam rumahnya. Namun, membela pun percuma, Mayang sudah pernah melihat Saira brutal mencuri kecupan di bibirnya. Yah, itu memang tidak seperti yang Mayang lihat, tapi tidak ada gunanya Gian menjelaskan.


Mata Gian menatap Mayang sendu. "Aku buatkan teh ...," katanya sopan.


"Saya ndak minum teh, Pak Dokter. Sebaiknya ndak usah repot-repot. Saya juga ndak punya niat mampir ke sini, kalau Pak Hadyan ndak memaksa. Jadi Bapak tidak perlu sok baik begini sama saya di depan Pak Hadyan. Hanya tolong, jangan memperlakukan orang yang Pak Dokter ndak kenal baik seperti tadi. Kalau Pak Dokter ndak suka sama saya, bilang saja ke saya secara pribadi. Saya dengan senang hati menerimanya, Pak ...."


Mayang melewati Gian yang menatapnya dengan tatapan datar yang Mayang tidak mengerti apa maksudnya. Lantas ia mencuci gelas juga piring yang mungkin belum sempat Gian cuci. "Di sini, meski Bapak bisa bebas, tetapi alangkah baiknya kalau Bapak di rumah menemani Pak Hadyan. Setidaknya di sana, pemandangan seperti ini tidak akan terlihat."

__ADS_1


"Orang tua tinggal satu, mbok ya, di sayangi. Nanti kalau beliau pergi, Bapak ndak menyesal karena sudah menemani beliau di akhir usianya."


Mayang menyalakan keran wastafel, membilas mug dan piring yang baru saja ia sabun. Mayang tahu betul, Hadyan begitu kesepian di rumah, sampai-sampai sering mengajak tetangga kiri kanan makan di rumahnya. Hadyan sudah cerita banyak soal hidupnya pada Mayang.


Juga betapa jauhnya Gian dengan bapaknya sekarang.


*


*


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2