
Djarot menyesap kuat-kuat aroma rokoknya setelah melepaskan diri dari belitan mengerikan Rully yang masih cengar-cengir tak karuan di kepala ranjang. Itu membuat Djarot frustrasi, sehingga pria itu kembali rusak mood nya.
Djarot memang pendendam.
"Kenapa mukanya malah ditekuk begitu?" tanya Rully dengan bingung. Apa ada yang salah?
"Apa aku kurang memuaskanmu?"
Menikahi wanita dewasa yang terbuka, membuat obrolan mereka tidak perlu lagi ditutup-tutupi atau harus menggunakan kode rumit. Atau memang dasarnya, Rully tidak tahu malu.
Djarot menoleh sedikit, "itu tadi terlalu sebentar."
What? Jadi yang salah siapa?
"Setengah jam itu sebentar, ya? Maksudku, sepuluh menit itu cukup lah buat bibirku lecet, apalagi ukuran kamu agak mengerikan."
Djarot kini memutar kepalanya. "Benarkah?"
Pria itu hanya terpaku pada kata lecet, kalau soal besar dan delapan belas senti—kira-kira, sebab dia belum pernah mengukurnya, dia sudah tahu.
"Biar kulihat." Djarot meraih kaki Rully yang masih bergelung dengan selimut. Rokok terselip di sudut bibirnya.
Rully membeliak, "jangan, ih ... masih berantakan." Ia menahan kakinya rapat. Dih, apaan, sih, dia!
Djarot menatap Rully kesal. Ia mengambil rokok yanh masih setengah itu dan melemparnya ke asbak. "Mau lihat yang lecet, takutnya bikin kamu nggak nyaman."
"Nggak usah, Mas ... biar aja lecet! Kan emang harus lecet, tanda segel baru dirusak. Baru besok-besok kek jalan tol, meluncur mulus."
Rully memang nakal.
"Tapi jangan nunggu besok lah, Mas ... temenku banyak yang bisa dua kali, apa Mas tidak bisa?"
Gusti ... gadis dari negeri Konoha ini, kenapa bisa vulgar sekali bicaranya?
"Yakin? Nggak takut sakit itu? Masih kuat memangnya?" Ini selang sepuluh menit, dan Djarot sudah bisa kembali prima hanya dengan sebatang rokok. Dan perawan bermulut cabe di depannya.
"Dih, memangnya dia mampu?" Rully mengerling ke arah lipatan kaki Djarot yang penuh. Rully tertawa jahat.
"Lihat saja sendiri!" Djarot berdiri dan melangkah ke kamar mandi dengan celana pendek ketatnya sebagai penutup tubuh. Sengaja dia tidak menunjukkan diri di hadapan Rully, yang memang belum diperkenankan menyentuh dan melihatnya. Eh, bukan ... tapi memang tadi dia tidak sempat melihat, Djarot terlalu menggebu-gebu.
__ADS_1
Rully mendesis karena mulai merinding. Bayangannya sih, terlalu besar, sebab sekali tusukan dia langsung mati rasa. Duh, lengannya saja sebesar itu. Menimbang sejenak keadaan dirinya, dia beranjak bangun.
Hanya himpunan kakinya tidak bisa lagi rapat, sedikit tidak nyaman, dan berjalan mirip orang yang punya kelainan. "Wow ...," ungkapnya takjub.
Rully mengendap saat melihat Djarot membelakanginya di kamar mandi. Punggungnya melengkung indah, tulang belikatnya menonjol kuat dan penuh dengan daging-daging berurat yang liat. Kakinya panjang dan kokoh. Penampakan yang cukup seksi, dan kasar. Benarkah tidak ada yang mau dengan pria semacam itu, selama 17 tahun usia dewasanya? Setidaknya, dibawah usia dua puluh, Djarot mungkin masih mau main-main dengan pacaran gak jelas. Tapi setelah usia dua puluhan ke atas, apa dia tidak menyukai wanita manapun? Bokis banget kalau 17 tahun lamanya menjomlo, kan?
"Mas ... Aku masuk." Rully mendorong pintu yang memang tidak tertutup, Djarot menoleh, lantas melongo. Polos dan bersih. Tidak ada benang yang menghiasi tubuh mungil Rully.
"Yakin kamu nggak apa-apa?" Pria itu terlihat khawatir, lalu membopong Rully ke arah shower dan menyalakan air. "Biar Mas bersihkan, Sayang."
Rully merasa anu sekarang. Astaga, pembersihan model apa ini? Mirip dengan pemeriksaan penyakit.
Tapi Rully bertahan. Tidak protes walau kakinya menumpang nyaman di pundak kekar sang suami. Pantulan Rully tampak jelas di kaca seberang. Terlihat kalau dia mulai panas kembali.
Bekas merah gelap tampak di beberapa tempat. Dan lehernya, ada dua tanda yang membuatnya harus mengikuti jejak kawan-kawan yang sudah lebih dulu ternoda. Astaga, kini dia paham bagaimana kalang kabutnya menutupi bekas percintaan panas itu.
Djarot menjatuhkan kakinya, lalu berdiri di depan Rully, mengungkung tubuh Rully yang menyandar di tembok. Wajah pria itu menunduk. Lekat menyusuri wajah istrinya yang membuat Djarot meraung gemas. Rasanya pengen meremas dan memakannya bulat-bulat. Aih, kesayanganku.
"Kenapa lihatinnya begitu? Aku cantik ya?"
Djarot mencubit dagu itu lembut. "Kamu unik dan bermulut kotor."
"Benarkah?" Djarot mencium kening Rully. Dia tidak tahan lagi. Tapi ingin memastikan, apa Rully mau lagi.
"Iya ... tadi kerasa, kan?" Wajahnya menengadah. Menyambut sapuan Djarot yang membuatnya mabuk.
"Maafkan orang tuaku, ya? Aku tidak memaksamu menghormati mereka, karena mereka tidak menghargai kamu. Tapi jangan dendam, ya, Sayang ...."
Senyuman Rully berkembang. "Aku memiliki anak mereka, jadi sebagai gantinya aku akan menyiksamu."
Tangan Djarot masih menumpu dinding. Suara Rully yang lembut begitu membuat Djarot senang. "Ya, siksa aku sampai kamu puas, Sayang."
Matanya memejam dan bibirnya bergerak turun. Menyapu bibir lembut dan hangat milik Rully. Gadis ini mahir berciuman. Gila, siapa yang ngajarin?
Rully mendesah pelan. Tangannya mulai nakal menekan gundukan di antara kaki pria itu. Tanpa sadar ia menggeram.
Djarot melepas ciumannya. "Kamu punya yang istimewa, Sayang ...." Senyuman itu lembut sekaligus nakal. Alisnya naik dan mengundang.
"Kamu harus memainkan aku sekarang!"
__ADS_1
Rully merinding sebadan-badan. Matanya masih lekat menatap Djarot. Ya, itu dia tahu, tapi ... Hanya teori. Prakteknya zonk.
"Teach me! Aku amatir!"
"Just do it! Kamu akan terbiasa!"
Tangan Rully menelusur sampai ke kaki seraya dia berlutut. Matanya kembali naik ke mata Djarot yang sudah meleleh penuh gelora. Yang seperti itu, Rully sungguh baru mengerti.
Dia segera bertugas, dengan dua belah telapak tangannya, sepenuh hati dia membelai tubuh sang kekasih yang membuatnya ingin berteriak. Barang milik Rully selalu grade A.
Dia mengukur diam-diam. Ini diatas rata-rata. Pantas bila tidak bisa masuk semua.
Djarot benar-benar tidak percaya, ini sungguh luar biasa. Rully cukup mampu mengimbanginya. Bahkan untuk pertama kali, ini agak mengejutkan. Dia bahkan menggeram dan menggurat tembok untuk meredam ledakan di sana.
Sekali lagi, Djarot bukan orang yang sabar. Dia membawa kekasihnya ke atas ranjang. Untuk sekarang, kamar mandi belum capable. Rully masih terlalu rapat dan susah ditembus.
Kedua kali, Rully jauh lebih ekspresif. Tanpa beban dan rileks. Djarot kembali kasar dan brutal setelah percobaannya berhasil menenggelamkan dirinya secara keseluruhan.
Tangan besar itu merengkuh bahu Rully dan meremukkannya. Buku jari yang tebal itu mulai tidak terkendali, dan Djarot sendiri hilang kendali.
"Kamu luar biasa, Sayang." Baginya, Rully begitu elastis dan lentur. Kenyal dan lembut. Manis dan menggemaskan. Mungkin begini rasanya bercinta dengan marsmelo.
Djarot bergerak bagai pegas. Dia begitu aktif sampai setiap kali Rully mengerang, jejak merah mendarat di lapisan luar kulit putih Rully.
Dia tidak memberi jeda pada gadis ini selama sepuluh menit penuh setelah erangan pertama. Djarot bertahan dari semua himpitan yang menyerangnya berkali-kali. Ini bukan salah staminanya, tapi salah wanita ini yang sialnya benar-banar rapat dan menghimpit.
Siang ini terlalu panas.
"Ehm ... Mas!" Rambut putih Djarot yang mengkilap itu jadi sasaran Rully selanjutnya. Dia benar-benar takut jatuh. Astaga. Pria ini!
"Tahan sebentar, Cintaku." Djarot menempatkan diri dengan benar, lantas mencium ganas bibir Rully saat dia sudah selesai.
"Ouh, kamu nikmat sekali." Setelahnya Djarot mengumpat. Mulutnya menjadi sangat kotor. Astaga.
Dia butuh rokok setelah ini.
*
*
__ADS_1
*