
"... saya memang berminat, Pak, tetapi harganya terlalu tinggi. Saya tidak punya cukup tabungan untuk membelinya." Mayang memunggungi pintu, menghadap jendela kamar yang terbuka lebar. Angin sore yang beritup menerbangkan aroma yang tidak biasa, yang begitu wangi mendarat di hidung Ferdi.
"Tumben dia wangi seperti ini," gumam Ferdi seraya mendekati Mayang. Senyumnya mengembang, lantas melingkarkan tangannya di pinggang Mayang.
"Sore istrinya Mas yang cantik," bisiknya di ceruk leher Mayang. Wangi dan mulus. Mayang itu andai sedikit saja turun berat badannya, pasti sangat menyenangkan. Jujur saja, Ferdi suka sekali dengan sikap malu-malu Mayang yang menggemaskan. Mayang juga cukup baik melayaninya, meski kurang berinisiatif dan kurang bebas dalam mengeksplor masing-masing gaya kesukaan.
Mayang berjengit, tetapi ia berusaha menahan segenap rasa di dadanya. Dia harus kuat dan memenangkan pertempuran ini. Tangan Mayang dengan lembut membelai leher Ferdi. Ia mengerling, mengisyaratkan agar menunggunya sebentar.
"Akan saya pikirkan lagi tawaran Bapak yang begitu menggoda ini, Pak ... em, mungkin saya memang harus mencari dana tambahan," kata Mayang pada orang yang di seberang sana seraya tertawa kecil.
Ferdi mengerut penasaran. Serius sekali mereka bicara sampai enggan di interupsi. Cemburu sih, tidak ... hanya jika bicara soal uang dan tawaran, pikiran Ferdi mengerucut pada satu yaitu Arumndalu.
Hingga ketika Mayang menyudahi panggilannya, ia buru-buru menarik Mayang kr tepi ranjang.
"Yang ... kamu ada masalah?"
Bokong Mayang belum sempat menyentuh ranjang, tetapi pertanyaan suaminya, membuat kening Mayang mengerutkan tanya. "Masalah?"
"Iya ...." Ferdi mengubah sikap duduknya hingga berhadapan dengan Mayang, tangannya menggenggam tangan Mayang erat-erat. "Coba cerita sama Mas ada apa? Kamu uring-uringan, menghindari Mas, ngga perhatian lagi sama Mas ... itu coba kenapa masalahnya? Apa karena kamu lagi ingin sesuatu, tapi kamu ngga bisa beli?"
"Oh, itu ...," kata Mayang menghadirkan sejuta ragu. "Ya ... memang ada sih, tapi sudahlah, Mas. Rasanya dalam mimpi juga ndak bakal kesampean."
Mayang hendak beranjak, tetapi Ferdi menahannya. "Apa itu Arumndalu?"
Mayang sejenak mematung, lalu tersenyum nyengir setelahnya. "Kok tahu? Nguping ya?"
"Ya ... ngga sengaja dengar, sih ... emang kenapa kok kamu ngga langsung beli Arumndalu? Uang bisa diusahakan, Yang ... kamu jangan ragu untuk cerita sama Mas ... Mas kan suami kamu!" Ferdi memasang penuh topeng kepalsuannya.
__ADS_1
Mayang berakting seolah masalahnya sangat berat, tetapi ragu untuk membaginya dengan Ferdi.
"Yang ... katakan semua sama Mas kalau kamu ada masalah, siapa tahu Mas bisa bantu?" Sekali lagi Ferdi menyakinkan.
Mayang menarik napas panjang, lalu menautkan jari jemarinya ke tangan Ferdi. Selintas ide gilanya muncul kala bertatap muka kembali dengan Hadyan, bahkan tadi mereka terlibat obrolan yang menarik.
"Mas ... dua rumah makanku, penghasilannya turun. Laporan dari Lea hari ke hari menunjukkan kemerosotan yang signifikan. Aku berniat mau beli Arumndalu, karena Pak Hadyan tidak memiliki keturunan yang mau meneruskan usahanya. Sayangnya, ya itu ... usahaku seret dan uangku ndak cukup. Niatku, mau aku kasih ke Ibuk soal pengurusannya dan kamu yang miliki resto itu, Mas ...."
Mayang menatap dalam suaminya, tatapannya sendu. Mayang kini berada dalam persimpangan yang sangat membingungkan. "Aku hanya ndak mau, Mas capek-capek cari nasabah, tapi masih dimarahi Saira, padahal Mas kan ndak bisa nentuin mana yang jadi pinjam, mana yang cancel." Tangan Mayang mengusap pipi Ferdi dengan lembut. Air matanya juga ikut menggenang. Sungguh akting yang luar biasa.
Ferdi sungguh terharu—dan bersorak senang. Mayang memikirkannya, Mayang peduli padanya. Ferdi bersyukur akan hal itu. Akhirnya hari baik itu tiba ke pangkuannya.
"Mayang ... kamu ndak perlu repot-repot kaya begitu sama Mas. Mas kan suamimu, jadi Mas itu wajib cari nafkah buat kamu. Mulai sekarang, cerita sama Mas apa kesulitanmu, siapa tau Mas bisa bantu. Kaya masalah ini, Mas bisa bantu kamu mewujudkan keinginanmu. Lagipula semua untuk kebahagiaan kita di masa depan, kan?"
Mayang mengangguk. "Tapi ini ndak jadi surprise lagi dong, kalau Mas ikut patungan beli? Kan aku niatnya, mau kasih kejutan gitu." Mayang menunduk, terlihat kecewa. "Tapi, yah ... sekarang udah gagal."
"Mas bisa aja, aku jadi malu ...." Mayang menuruti rengkuhan Ferdi, membiarkan suaminya menikmati pelukan terakhir mereka.
"Kalau gitu, Mas ndak keberatan dong, bantu aku beli Arumndalu?" Mayang membuai.
"Iya, nanti Mas akan usahakan, tapi kamu sabar, ya ... cari uang kan susah. Tapi Mas akan usaha terus sampai dapat."
Mayang melepas pelukannya, lalu menatap bola mata Ferdi.
"Mas ... Arumndalu akan ditawarkan ke orang lain dalam dua hari, jadi kalau memang berminat, ya ... besok aku harus ketemu Pak Hadyan. Setidaknya ... bayar dp seperempatnya," papar Mayang.
"Begitukah? Secepat itu?" Ferdi meragu. Curiga dengan Mayang. Apa mungkin secepat itu?
__ADS_1
"Yah ... aku cuma dikasih waktu dua hari untuk memikirkan tawaran Pak Hadyan. Dan memang aku mikir dulu, karena butuh waktu buat cari uang yang M itu."
"Dp 250?" tanya Ferdi. Pikirnya satu milyar sesuai selentingan yang ia dengar.
Mayang mengacungkan sebelah tangannya, "Lima ratus, Mas ... karena dua milyar sama kebun di belakangnya. Kalau bayar satu setengah, kita bisa langsung ambil alih katanya. Aku ada satu milyar, sisanya mau ngutang bank, tapi ya, itu lama cairnya."
Ferdi termenung. Uang itu dia punya, tapi dalihnya apa ketika memberikan uang itu pada Mayang? Gajinya kan dikasih ke Mayang semua. Tapi sayang jika sampai dilewatkan kesempatan ini.
"Mas yang kasih kamu lima ratus juta itu, Yang ... besok kita temui Pak Hadyan."
*
*
*
*
Ehem, apa kabar semuanya? Sehat ya? Maaf, aku belum nyapa, atau bales2 komen😭 pengen aku ikut kesel sama kalian, tapi aku lagi ada sedikit kesibukan. Biasalah kalau mau puasa, ya ... di desa mah selalu sibuk dengan adat istiadat yang berlaku.☺️ Tapi ngga apa-apa ... yang penting tetap bisa update meski sehari satu bab ...
Besok kalau ada kereta update, aku minta vote nya dikasih ke aku, ya ... semuanya😄 (Aku maruk kek Lea☺️) Ini udah aku majukan lagi beberapa bab😄 ada yang minta karma buat Ferdi. Jadi anggap saja Mayang sukses dietnya, karena proses itu aku skip😄🤣🤣
Jangan lupa, vote, komen, like, fave, tip, doa, follow akun author juga, follow di FB, di IG, di dalam hati, di manapun anda semua berada. Sebut nama Misshel tiga kali, doakan dan semogakan🤣🤣🤣🤣
Wes aku mirip Lea😄
Misshel yang cantik❤
__ADS_1