
"Bagaimana? Tawaranku nggak akan berlaku dua kali!" Lea sedang menemui seseorang yang Lea bisa membantunya membalas Mayang.
"Saya takut, Bu ... Bu Mayang kan teliti banget kalau soal bahan-bahan pangan di rumah makannya." Tukang kirim daging yang bernama Budi itu terlihat cemas. Membanyangkan ekspresi tegas di wajah Mayang saja, dia sudah gemetar. Belum lagi caranya menginterogasi bila terjadi kesalahan.
"Saya tambahin deh, upahnya." Lea akhirnya menaikkan tawaran.
Budi menggeleng, "saya cari slamet, Buk ... cari orang lain saja."
Lea membeliak, giginya menggeretak saking kesalnya melihat Budi mundur dan melajukan mobil pick up pengangkut daging yang akan diantarkan ke dua rumah makan Mayang.
"Dasar orang miskin nggak tahu diuntung kamu, ya, Bud!" kesal Lea.
Lea merapatkan jaket yang digunakannya, ini masih subuh, bahkan jamaah sholat subuh di mushola belum bubar. Dia merelakan tubuhnya diterpa angin dingin, menahan perutnya yang sakit karena semalam ia memaksa Ferdi memuaskannya. Ah, entahlah, jika kesal sama Mayang, Ferdilah yang menjadi sasarannya. Pria itu tunduk begitu saja pada Lea, setelah Lea mengancam tidak akan mau membantunya melunasi cicilan bulanan.
"Sial sekali anak ini! Kupikir dengan adanya dia, aku bisa jadi nyonya dan Marini bakal tunduk sama aku!" Lea mendesah jengah. "Rupanya wanita tua itu nggak bisa tunduk pada uang yang aku punya."
Lea bergegas melajukan motor yang dipinjamnya dari Arista untuk menghadang Budi. Ia segera pulang ke rumah, sepertinya tidur akan membuat sakit perutnya reda.
Dilain tempat, Mayang sudah melakukan jogging di jogging track yang tersedia di sepanjang tepian pantai. Suasana masih remang-remang, tetapi kawasan ini sudah ramai pengunjung. Mayang sengaja melakukan joging pagi-pagi buta, selain bisa menikmati suasana damai di tepi pantai, juga menghindari tatapan berlebihan orang-orang. Mayang tidak suka dilihat dengan pandangan yang membuat Mayang sungkan.
"Seksinya ...," celetuk seseorang yang langsung membuat Mayang berhenti untuk menata hati dan membuang napasnya. Dia lagi-dia lagi.
Gian terkekeh, sengaja bersembunyi di dekat patung jerapah, untuk mengejutkan Mayang. Gian baru saja pulang usai membantu persalinan. Lelahnya terganti ketika melihat Mayang memakai pakaian untuk berolahraga, seketika timbul niat untuk mengikuti wanita pujaannya tersebut.
"Sendirian aja, Bu Mai?" tanya Gian yang sejak kemarin senang menyebut Mayang dengan panggilan Mai yang begitu kental dan berbeda. Orang-orang kebanyakan memanggil Mayang dengan sebutan May atau Yang, sementara Gian, mengukir nama Mayang di benaknya adalah Mai yang dilafalkan apa adanya.
Pria berperawakan tinggi besar itu menyandarkan tubuhnya di patung jerapah dan bersedekap sembari terus mengawasi Mayang yang sudah siap melanjutkan joging.
__ADS_1
"Kelihatannya?" sahut Mayang judes.
Gian tertawa kegelian melihat ekspresi Mayang yang galak. "Aku temenin, ya, takut diculik orang nanti."
Mayang berlalu begitu saja usai memberikan Gian lirikan tajam.
Gian menyejajarkan langkahnya di sisi Mayang. "Nanti kalau kamu diculik orang, aku gimana? Aku bisa patah hati, loh."
"Bodo amat!" gumam Mayang ngedumel. Peduli apa dia sama perasaan Gian, mau patah, mau remuk, mau hancur sekalipun, Mayang tidak punya urusan.
"Bagus aku diculik sama orang, ketimbang di sini sama dia," sambung Mayang masih dalam gumaman.
"Kalau yang nyulik jin penunggu sini, gimana? Kamu dibawa ke dunia lain dan nggak bisa balik-balik?" Gian menakut-nakuti. Dia terus berusaha menyamakan langkah dengan Mayang. Gian diam-diam menelan ludah melihat Mayang berlari dengan pakaian pas di badan. She is so sexy.
Sesuatu di sana bereaksi, melihat dada Mayang yang ikut berlari. Gian perlahan mengerjap sambil terus membasahi tenggorokannya. "Biasa kan kalau pagi dia bangun?" batin Gian mencoba mengatakan pada dirinya, kalau itu adalah hal normal dan wajar. Bukan karena terangsang melihat lekuk tubuh Mayang yang menukik bak kurva.
Dada Gian harus dia tekan kuat-kuat, debarannya sungguh menggila.
"Jin di sini insecure sama Bapak. Soalnya Pak Dokter udah melebihi jin sikap dan kelakuannya." Mayang memutar badannya untuk kembali berlari menuju jalan pulang. Suasana paginya yang biasa damai terusik oleh tindakan Gian yang menyebalkan.
Gian mengerjap agar kesadarannya kembali datang. Dia tersenyum. Wanita yang susah ditaklukkan baginya lebih menarik, daripada yang diobral bak barang murahan.
Gian kembali berlari menyusul Mayang. "Apa tingkahku seburuk itu?"
"Menurut anda?" Mayang kembali melesat meninggalkan Gian.
Gian tak mau kalah, dia juga berlari menyusul Mayang. "Aku nggak merasa tuh? Aku merasa hanya berlebihan karena cinta, cinta sama kamu, Mai."
__ADS_1
Mayang seketika berhenti, masih dengan ketus menatap Gian. "Pak Dokter, tolong dengarkan saya!"
Gian memutar badannya menghadap Mayang. "Dengan senang hati, Bu Mai ... apa yang harus saya lakukan agar Bu Mai mau membalas perasaan saya?"
"Bapak hanya perlu jauh-jauh dari saya! Saya ini sudah dewasa, bukan abg yang suka dikejar-kejar. Lagian saya masih mau menikmati waktu untuk saya sendiri, tanpa seorang pria yang bisanya hanya menyakiti." Mayang berkata keras dan tegas.
"Tapi saya suka memperjuangkan dan menunjukkan apa yang saya rasakan, Bu Mai ... dan hanya Bu Mai yang bisa membuat saya jadi begini. Biasanya saya nggak pernah mengejar, bahkan belum pernah menyukai wanita melebihi perasaan saya kepada Bu Mai." Gian membalas Mayang tak kalah serius.
"Pak, wanita dewasa nggak butuh dikejar, cukup perjuangkan lewat akad dan tunjukkan kasih sayang dalam sebuah ikatan—"
"Saya takut Bu Mai masih trauma pada pernikahan dan pria. Jadi saya pilih begini saja, setidaknya agar Bu Mai tau saya ndak pernah main-main. Dengan nembak Bu Mai kayak kemarin, bukan hanya Bu Mai yang namanya di pertaruhkan, saya juga, Bu ... saya punya tanggungan berat menyelamatkan nama Bu Mai di sebuah buku nikah dan resepsi pernikahan. Tolong bantuannya, ya, Bu Mai ... saya nggak bisa melakukan pernikahan sendirian."
Mayang tercengang. Ia lupa bahwa kemarin Gian bersama rekan kerja dan beberapa orang penting dalam karir Gian. Jadi Gian memikirkan sejauh apa traumanya? Teman-temannya jadi saksi kalau Gian ingin memiliki Mayang, tetapi masih takut kalau Mayang belum siap?
Gian melangkah mendekat. "Sebenarnya tidak apa-apa juga kalau Bu Mai masih ingin berdamai dengan perasaan Bu Mai, tapi saya mau, jika nanti Bu Mai siap, tolong cari saya saja, Bu ... saya memang nggak bisa janji apa-apa, selain mencintai Bu Mai sepenuh hati. Tapi saya mohon, pilih saya saja."
Mayang mengerjap, sesuatu dalam hatinya menggelitik untuk menerbitkan senyum malu-malu. Entah kenapa dia menjadi sangat senang dan berbunga-bunga.
"Bu Mai, mau kan?"
*
*
*
*
__ADS_1
*