
Acara malam itu benar-benar spesial. Memang anak-anak kota terlihat aneh bagi Mayang. Gaya mereka agak bar-bar dengan wine di gelas-gelas mereka. Gian juga ikut bergabung untuk menghargai temannya meski ia hanya meminum segelas saja. Namun mereka tetap terkendali, terlihat sekali mereka terbiasa dengan kebiasaan itu.
"Kayak gini juga kalau Mas menghadiri pesta nikahan mereka?" Mayang menatap Gian cemberut. Bayangan Gian yang lajang, mabuk, dan tampan, pasti wanita berlomba-lomba memapah Gian bahkan mengantarkan lalu menemani tidur di hotel.
Apa kejadian seperti ini baru dilihat Mayang setelah memijak bumi hampir tiga puluh tahun lamanya? Di kampung juga banyak yang mabuk-mabukan saat acara nikah meski bukan wine, minumnya. Banyak oknum nakal yang menjual sembunyi-sembunyi maupun terang-tenragan menjual. Gian menggaruk pelipisnya sambil menyengir ngeri. Bingung mau bagaimana menjelaskannya kembali.
"Bener, kan, Mas?" Mayang mencecar. Mereka kini tak lagi jadi pusat perhatian, panggung dan biduan menjadi fokus teman Gian dan Mayang yang tak kurang dari seratusan orang.
"Bener apanya?" Benar mabok sih, pernah ... tapi kalau tidur sama perempuan di luar ikatan pernikahan, alhamdulillah tidak pernah. Gian, entah bagaimana caranya terhindar dari itu semua. Mungkin karena prinsip kuatnya dalam hati, untuk tidak melakukan perbuatan haram itu, jadinya dia selalu tertolong.
"Mas bobok bareng cewek dulu?" Mayang menatap tajam mata Gian.
Bukan Gian namanya kalau tidak membuat Mayang makin terpelintir hatinya. "Pernah lah. Sama janda juga pernah." Gian berkata dengan cueknya. "Sama janda malah lebih berpengalaman. Jandanya menawarkan diri duluan, loh."
"Mas!" Bukan itu yang Mayang ingin dengar di hari istimewa ini, kan? Berbohong juga boleh kalau memang kenyataannya menyakitkan.
"Jujur ini, Mas?" cecar Mayang yang hampir menangis. Ia tak lagi mendengus marah dan cemberut tetapi memelas menatap Gian. "Tega bener ngomongnya."
"Mending diomongin jujur kan, Mai?" Gian menoleh dengan senyum jahilnya yang masih melekat. "Aku tega ngomong begini, karena satu-satunya gadis yang tidur denganku adalah Anggia. Dan janda yang mendatangiku di malam pertama adalah kamu."
Mayang yang sudah berpikir yang tidak-tidak, membayangkan Gian menggauli janda dalam kondisi mabuk, seketika terdiam. Matanya tajam menatap Gian. Kesal bercampur malu. "Bohong."
__ADS_1
"Kenapa mesti bohong?" Gian meraih dagu Mayang dan menghadapkannya pada mata Gian. "Dunia sebelah mana yang ingin kamu mintai kesaksian perkataanku tadi, Mai? Akan aku datangi, aku tidak takut! Gian pantang membohongi istrinya untuk hal perasaan. Tanya sama Anggia kalau tidak percaya."
"Mas nyesel cerai sama Mbak Anggi?"
"Dulu iya ... aku cinta sama Anggi, Mai. Tapi cinta itu kan tidak berarti bodoh. Setelah cerai, dia datang dan bilang hamil. Kecuali aku ini bukan orang yang berhubungan dengan hamil hingga melahirkan, bolehlah aku balikan tanpa berpikir lagi. Kita pisah ranjang hampir lima bulan, bahkan tiga bulan sebelum itu, Anggi pulang ke rumahnya. Lalu bisa hamil anakku dari mana? Benihnya disemaikan dulu, begitu? Baru ditanem di rahim?"
Mayang tertawa geli. "Kaya mau nanem cabe aja, Mas. Pakai di semaikan segala."
Gian menoel hidung Mayang. "Itulah sebabnya sekarang banyak yang jadi cabe-cabean. Bibitnya disemai beberapa orang."
Mayang tertawa lepas. "Kalau jadinya cowok jadi terong-terongan."
"Jadi Maminya Twin nggak marah lagi, kan?" Mayang menggeleng dengan bibir masih tertawa. "Maminya Twin harus banyak-banyak tertawa, harus bahagia, hamil kembar itu nggak mudah, Mam. Kalau ada yang mengganjal, kamu katakan saja. Jangan sampai Maminya Twin kepikiran dan stress." Gian mengusap perut Mayang pelan.
"Mungkin aku agak terganggu lihat gaya mereka di sana, Mas ... meski sama pasangan kan, ada juga yang baru tunangan. Meski hanya joget-joget aja, tapi kan mereka dempet-dempetan gitu. Aku baru lihat yang vulgar begitu itu sekarang, Mas." Mayang mengoceh.
"Di kota besar biasa clubbing, Mai, lebih parah dari itu. Lagian mereka nggak akan teler hanya dengan beberapa gelas anggur itu. Aku membatasi kok." ujar Gian.
"Mas menyediakan itu juga?" Mayang melebarkan mata.
"Mereka yang beli, aku yang menentukan jumlahnya. Lupa kalau kesini mereka hanya tangan kosong? Modal baju doang?" Gian berkilah. Bisa marah tuh kalau Mayang tau berapa uang yang ia keluarkan untuk anggaran Wine.
__ADS_1
"Loh, Mas ... kok malah minta, sih? Kan konsepnya kita nggak nerima sumbangan dalam bentuk apapun? Kok itu masih dibeliin mereka?" Mayang membuang napas kesal.
Gian menaikkan alis sebagai tanggapan. Ini sebenarnya bagaimana sih? Jadi benar, wanita itu selalu benar? Juga sulit dimengerti!
"Kita pulang saja, Mai. Aku kangen sama kamu." Gian berdiri dan mengulurkan tangannya ke arah Mayang yang masih menunggu jawaban Gian.
"Tapi Mas—"
"Kamu mau aku melakukannya di sini?" Gian berpura-pura sudah tidak tahan untuk bercinta, tangannya menarik dasi kupu-kupu yang membelit kerah tuxedonya. Membuka kacing kemeja atasnya hingga dada Gian dengan bulu dadanya terlihat mengintip. "Udah nggak tahan lagi aku, Mai."
Gian menyodorkan bibirnya ke muka Mayang, yang langsung ditepis pelan oleh tangan berbalut hena merah tua itu. "Mas jangan ngaco. Kita ke hotel saja."
Mayang bermuka merah saat meninggalkan Gian. Tolong ingatkan selalu, kalau Mayang punya suami yang tak tahu malu.
"Kapok kamu, Mai. Salah sendiri jadi wanita suka bikin pria serba salah." Gian membuang dasinya ke kursi pelaminan. Dia kesal sekali. Sayang dia tidak boleh kasar pada Mayang dengan adanya twin di sana. Oh, My ... kenapa Mayang itu menyebalkan!
*
*
*
__ADS_1