Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Babysitter Untuk Si Kembar


__ADS_3

"May ...!"


Gian baru saja hendak menusuk Mayang, ketika panggilan dari Rully samar terdengar. Mayang menoleh, dan sepertinya semuanya buyar. Ambyar ... dan gagal. Gagal lagi ke sekian kali.


"May! Kamu dimana?"


Mayang berdiri tanpa aba-aba, dan itu membuat Gian keberatan. Tangan pria itu menahan Mayang untuk sesaat.


"Mai ... Sayang," panggil Gian sendu. "Kita lanjut aja, nanggung nih."


"Mas ... Mbak Rully ndak bisa diabaikan gitu aja. Dia bisa menjelajah rumah sampai aku ditemukan." Mayang memakai kembali pakaiannya lalu menuju ke kamar mandi. "Nanti aja lanjut lagi, Mas ...."


Gian menjatuhkan diri dengan mood yang hancur berkeping-keping. Pikirannya mendadak ruwet dan pening.


"Temui Mbak Rully," pinta Mayang seraya mengulurkan baju Gian, dan membuat Gian menaikkan wajahnya.


"Aku janji bakal kasih yang lebih," imbuhnya seraya tersenyum.


Gian membuang napas kasar lalu menerima pakaiannya. Lebihpun, Gian tidak bisa bermain sebebas dulu, kan? Jadi dia hanya akan bermain normal. Tapi, tidak masalah. Gian akan minta yang lain saja.


"Janji, ya, Sayang?" Gian setengah merengek.


Ya Tuhan, Gian imut sekali dengan rengekan yang seperti itu. Apa penting sekali seorang pria melepaskan hasratnya, sampai merengek menggelikan seperti ini?


Mayang mengangguk dan tertawa pelan. "Iya bayi besarku yang suka merajuk."


Gian kemudian berdiri dengan alat tempurnya yang masih tegang, tetapi perlahan mulai lemas. "Cium dulu."


Mayang mengecup bibir Gian lembut dan penuh perasaan. Sekilas saja, atau Gian bisa nekat. "Sudah, ya ... bilang aja aku lagi tidur, Mas. Biar Mbak Rully ndak banyak protes."


"Beres Bos." Gian memakai pakaian, lalu segera keluar kamar setelah Mayang ke kamar mandi.


"Kamu disini, Gian? Mayang mana? Kok kamu keluar dari sini? Kalian marahan, ya?" Rully yang baru saja turun dari lantai atas, menghampiri Gian dengan perasaan was-was.


"Curigaan mulu jadi orang." Gian melipir begitu saja melewati Rully. Dia menjauhkan dirinya agar Rully yang jeli itu tidak melihat apa yang dilakukannya barusan.

__ADS_1


Rully mengejar Gian yang terlihat masam. "Terus kenapa monyot aja tuh bibir kalau nggak berantem? Kamu ngalah lah sama bumil. Bumil kembar pula. Itu kan kamu juga yang bikin."


Suara berisik Rully membuat Gian makin kesal. "Ngapain datang kemari siang bolong begini? Bukannya lagi bulan madu ya?"


"Dih, namanya bulan ya, malam-malam lah, kalau siang namanya Matahari madu, gak asyik kalau siang mah." Rully menyejajari Gian.


"Gian, Mayang beneran kembar anak 3?" tanya Rully mendesak. Dia mengikuti Gian yang tampaknya ingin ke ruang kerja. Mungkin akan berangkat ke klinik.


"Empat malah."


"Apa?" Mata Rully melotot dengan tangan refleks menepuk pipi. Satu sodokan, jadi empat sekaligus. Amazing memang.


Rully ... jika saja tidak punya tandingan sehebat Djarot, pasti sekarang dia patah hati mendengar kehebatan Gian.


"Iya, empat!" Gian sampai di depan ruang kerjanya yang menjadi satu dengan punya Mayang, saat membuka empat jarinya. Menunjukkan kepada Rully bahwa dia serius dengan ucapannya.


"Kamu udah pasti? Kapan kamu periksanya? Katanya kamu nggak mau periksa sendiri dan kasih tau Mayang, Yan?" Rully ikutan masuk saat Gian membuka pintu dan menutupnya juga.


Gian membelalak saat ini. Ngapain dia ikutan masuk? Mana ditutup pula, kalau Mayang cemburu gimana?


"Jadi Gian ... aku berencana mau bantu urus bayi kamu setelah lahir nanti, dan memutuskan untuk nggak hamil sampai bayi Mayang gede." Rully duduk sofa depan meja Gian.


Gian mencibir, bereaksi malas. "Kamu pasti udah hamil sekarang, Mbak! Jangan ngadi-ngadi deh!"


Tentu saja. Djarot dan Rully sama-sama sehat, Gian bisa memastikan kalau dalam waktu dekat mereka akan mendapat kabar baik. Dan, melihat mereka begitu menggebu bahkan saat tamu undangan masih berdatangan, Gian yakin, Rully sedang ngidam sekarang.


"Aku bisa sewa pengasuh, jadi jangan bilang aneh-aneh. Terkabulkan kamu baru tau rasa!" Gian menakut-nakuti.


"Pengasuh sama keluarga sendiri akan beda perlakuannya sama bayi, Gian! Udah deh ... sekalipun kamu menyumpah aku nggak bisa hamil, aku tetap pada pendirianku!"


Gian mendengus seraya tertawa. "Kamu aneh, Mbak ...! Tapi terserah sih, asal suamimu tidak keberatan, aku tidak masalah."


Pada akhirnya Gian memilih mengalah. Rully bukan wanita yang mau mengalah saat berdebat. Waktu yang akan menjawab seberapa kuat dia menggenggam prinsipnya.


Rully berbinar kesenangan. "Jadi kira-kira metode apa yang tepat selain pake karet agar aku tidak hamil setidaknya sampai Mayang melahirkan?"

__ADS_1


Gian mengernyit. Sekali lagi dia tertawa mengejek. Jadi selama ini dia pakai metode apa? Cabut ubi? Atau pengaman membuatnya kurang puas?


"Jadi pertama kali diperawani karet?" goda Gian sambil terus tertawa. Dia sibuk memasukkan beberapa berkas ke dalam tas rangselnya.


Rully membeliak kesal. "Enak saja! Ya enggak lah."


"Konsultasi seputar itu hanya di terima pada jam kerja, bayarnya murah, nggak akan bikin kamu bangkrut," jawab Gian. Pria itu terkekeh.


Rully mendengus, "perhitungan banget sama yang punya niat baik nolongin!"


Gian membuang napas. "Kalau selama ini nggak pake pengaman, kamu nggak bisa pake metode pencegah kehamilan apapun sampai kamu menstruasi."


Secara sederhana, Gian menjelaskan, meski sebenarnya, dia bisa mendeteksi kehamilan di dua minggu pertama. Tapi, Gian tidak mau memberitahu Rully soal itu. Dia tidak berniat menghalang-halangi mereka punya bayi.


Rully merengut.


"Udahlah, Mbak ... nggak usah berlebihan sama kami. Aku bisa kok gaji orang buat jaga anakku nanti. Kamu fokus sama kebahagiaan pernikahan kamu aja. Jangan mikirin Mayang terus, udah ada aku yang gantiin posisi kamu sekarang." Gian tersenyum menyakinkan.


"Yah ...!" Rully agak kecewa sebenarnya.


"Udah deh!" Gian mulai kesal dengan ekspresi Rully yang kecewa seperti itu. "Jangan mikir macam-macam, aku akan panggil Mbak kalau kami butuh sekali bantuanmu. Jangan kaya gitulah, bikin aku nggak enak hati jadi suami Mayang. Kaya aku ini udah rebut posisi kamu sebagai kakaknya. Kamu kaya cemburu sama aku."


"Ih, nggak juga kali! Hanya aku merasa Mayang beneran akan kesulitan tanpa aku." Rully menghela napas.


Gian mendekati Rully dan menepuk pundak kakak iparnya. "Ada aku yang lebih jago dari kamu," ucap Gian pelan.


Rully masih pada posisinya, malah sekarang bersedekap.


Gian menghela napas melihatnya. "Biarkan Mayang mandiri, biar dia melindungi dirinya sendiri. Nggak terus ketergantungan sama Mbak nya. Aku akan selalu ada untuk Mayang setelah kamu nikah, Mbak. Sekarang, kamu udah punya tanggung jawab lain yang jauh lebih besar. Jadilah istri yang baik untuk suamimu, bahagiakan dia, jangan buat Djarot kecewa dengan pilihanmu."


Rully mengernyit. "Mas Djarot ngerti kok. Kami udah diskusi. Dia nggak keberatan."


"Pria akan selalu menjaga perasaan wanitanya. Tidak mau terlihat egois bila sudah cinta mati pada wanitanya. Keinginanmu yang utama, sementara keinginan dirinya sendiri dikesampingkan. Kamu yang harusnya mengerti soal itu. Lagian usia Djarot sudah hampir kepala 4, apa nggak kasihan kalau kamu mau menunda lebih lama lagi untuk punya anak?" Gian menjelaskan.


Rully termangu, memikirkan ucapan Gian. Apa ini benar? Kalau memang begitu keadaannya, disini dialah yang egois.

__ADS_1


"Aku berangkat dulu." Gian menepuk pundak Rully, seraya tersenyum. "Mayang mungkin sudah bangun kalau mau ngrumpi sama dia."


Rully mengangguk, membiarkan Gian berangkat ke klinik. Setelahnya, dia kembali memikirkan kata-kata Gian.


__ADS_2