Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Berat Ke Sisi Djarot


__ADS_3

Cara Djarot dengan memposting foto dan video dirinya dengan hastag maupun caption unik, nyatanya berhasil membuat Rully kelimpungan beberapa minggu setelahnya.


Akun yang di buat atas nama Roni itu memang seliweran di beranda Rully. Sungguh ia tak menyangka dengan mengkonfirmasi akun yang banyak berteman dengan circle Rully itu adalah akun milik sopir pengacara kondang tersebut.


Jika beberapa orang teman Rully sibuk mengomentari dan mengulas ulang apapun yang mereka lihat di halaman Roni, Rully malah makin mirip penguntit gila yang diam-diam melihat postingan itu.


"Bangsat memang pria itu!" Rully melempar ponselnya sampai hancur tak berbentuk usai melihat Djarot yang bertelanjang dada saat sarapan. Postingan yang menuai banyak komentar dan suka itu membuat Rully makin panas. Dia tidak bisa ikut komentar. Kata Djarot melalui pesan; jika ada jejak Rully di postingan itu, dianggap sebagai bertemu, dan mereka akan mengulang lagi dari awal.


Yang artinya memperpanjang masa jeda perjumpaan mereka.


Satu yang kadang membuat Rully bingung sendiri; ketika bertemu nanti, dia akan bicara apa. Mengatakan rindu? Mengucapkan selamat telah melewati masa yang sungguh konyol? Atau berlari dan memeluk dada yang pelukable itu? Atau apa? Rully masih belum memutuskan.


Rully mendadak menyadari, dia merasa cemburu dengan komentar genit yang selalu memenuhi kolom komentar. "Awas saja nanti, akan kuhapus semua postingan sinting itu kalau sudah ketemu sama dia!"


"Aku dengar loh, Mbak!" Mayang baru saja selesai dengan perawatan sebelum resepsi yang akan di adakan besok.


Rully menoleh, dan merasa percuma menyembunyikan perasaan marahnya.


"Marah sama siapa, sih? Pacar?" tanya Mayang yang perutnya agak menggembung meski baru tambah beberapa minggu saja usia kehamilannya.


"Djarot!" jawab Rully sambil duduk di kursi salonnya yang ia tutup untuk dua hari ke depan. Selain karena persiapan resepsi Mayang, Rully hampir gila karena ulah Djarot. Ia banyak melakukan kesalahan dan ia tak mau itu mengganggu kinerjanya yang sudah tercatat baik dan memiliki standart sendiri.


"Oh ... dia masih rese?" Mayang langsung bergumam amit-amit jabang bayi, seraya mengusap perutnya. Ia ngeri kalau ingat sifat Djarot yang kata Rully agak nekat.

__ADS_1


"Parah!" jawab Rully singkat, malas, dan ketus.


"Ya, udah, sih ... abaikan saja! Blokir, atau unfriend saja."


Ucapan Mayang yang santai itu membuat Rully menaikkan alisnya. Bisa-bisanya Mayang menyarankan hal itu. Hatinya sudah terbakar, susahlah itu dipadamkan, kecuali mendamprat Djarot.


"Nggak semudah itu, May ...," jawab Rully. Lagian, dia tidak diizinkan menutup akses komunikasi apapun dari Djarot. Sungguh penyiksaan yang membuat Rully sesak. Anehnya, dia tidak merasa ini adalah bentuk penekanan. Juga bentuk balasan yang Djarot lakukan untuk Rully.


"Mulai suka sama dia?" Mayang duduk dengan santai di sebelah Rully. Malam ini Rully dan Mayang akan tidur di rumah, sementara Gian di mess. Ini ide Rully agar resepsi mereka tetap berkesan. Mayang sudah sangat wangi sisa mengurus rambut saja.


"Nggak lah ... biasa saja." Rully menjatuhkan kepalanya di sandaran kursi. Matanya memejam.


Mayang mencibir, tidak mungkin Rully berkata seenteng dan semalas itu atas tuduhan serius seperti itu. Ini adalah sesuatu yang meruntuhkan harga diri Rully.


"Suka juga boleh, Mbak ... sah-sah saja. Pak Djarot single, mapan, baik, cocok sama Mbak yang butuh pria matang macam dia. Lagian kalian itu selevel, setidaknya Mbak nggak akan merasakan disakiti dan diporoti kayak aku. Kalian tinggal hanimun berkali-kali agar bisa saling cocok." Mayang menasehati. Dia tidak banyak tau soal hubungan kakaknya ini dengan Djarot. Pikirnya malah sudah selesai karena kini tak ada lagi gerutuan tak jelas soal Djarot keluar dari bibir Rully.


"Bulan madu itu kalau buatku sih, bukan soal intensitas bercintanya saja, tetapi lebih ke fase saling mengenal. Mengambil waktu untuk kamu dan pasanganmu saling menjajaki, tanpa intervensi orang lain. Kalaupun berakhir di ranjang, itu hal wajar, kan kalian udah halal." Mayang melirik kakaknya yang tampak memikirkan ucapannya.


Rully menoleh, "kamu dan Gian begitu, dulu?" Mata Rully jatuh ke perut Mayang. Dengan adanya dua bayi di perut Mayang, Rully yakin kata-kata barusan berasal dari pengalamannya sendiri.


"Aku udah kenal Mas Gian lebih dulu, Mbak ... jadi pas nikah, kita sat set, was wes, ke tujuan kita nikah." Mayang menjawab.


"Bohong ... kata Paklik, sebeluk akad kalian sempat berdebat dan hampir gagal nikah." Rully menyipit.

__ADS_1


"Itu karena aku belum siap dan yakin akan mampu menjalani rumah tangga lagi. Mbak tau kan, traumaku sama Mas Ferdi saja belum pulih. Tapi Mas Gian menawarkan pelukan, dan yang pasti Bapak mertuaku sayang sama aku—"


"Nggak kaya mantan bumer kamu dulu?"


"Hehehe ...," jawab Mayang dengan bibir nyengir. "Pokoknya, pertimbangkan Pak Djarot, Mbak ... kalian cocok. Soal rambut bisalah Mbak bantu cari solusi nanti."


Rully tertegun, berpikir kenapa semua orang mengatakan hal yang nyaris sama. Apa Rully harus mendengar saran mereka?


"Besok Pak Djarot dateng, Mbak bisa ngomong sama Pak Djarot sebelum Pak Djarot berubah pikiran dan menganggap Mbak Rully menutup hati pada beliau."


Pertimbangan Rully makin berat ke sisi Djarot.


"Lupakan gengsi, akui saja. Nggak apa-apa perempuan dulu yang membuka jalan, toh itu semua akan menentukan gimana pria akan bertindak. Asal cara kita tetap elegan, jangan terkesan murahan."


Rully membuang napas. Ya, lihat saja besok.


*


*


*


Dua bab saja ya, gengs😄 besok lagi😄

__ADS_1


Tapi sebelum itu, aku ada rekom nopel bagus lain. Masih anget sih, masih gress bin bersegel😄 tata bahasanya aku suka. Nilai sendiri aja deh, pokoknya ... aku sreg aja sama dia😄



__ADS_2