
Dari posisinya, Rully mendengar semua ocehan Agung, dalam hati Rully mengutuk mulut Agung yang kelewat kurang ajar. Tetapi ia menahan semua itu meski rasanya ingin merobek mulut Agung, Rully memilih meninggalkan tempat itu. Bersembunyi, sebaik mungkin tidak sampai terlihat oleh Djarot. Dari rumah Gian, bisa langsung terhubung dengan kamar perawatan. Rully mengendap di sana sebelum melesat pergi ketika Djarot dan rombongannya masuk ke rumah Gian.
Sesampainya di parkiran, Rully menimbang sejenak seraya menggigiti bibirnya. Ia mendesah keras-keras, "Nyesel aku keluar duluan sebelum mereka datang. Kan bisa aku obati kangenku dengan lihat muka Djarot, ya. Walau hanya sekilas aja."
Rully hendak masuk ke mobilnya, tetapi entah dorongan dari mana, ia malah urung masuk dan berlari ke mess Gian lagi. Demi apa coba dia melakukan itu, kalau bukan cinta.
Napas Rully satu dua dan ngos-ngosan saat tiba di seberang mess Gian. Kemudian mengambil posisi mengendap dan ketika mencapai dinding depan mess Gian. Kepala Rully melongok ke pintu, tetapi tidak terlalu jelas Rully melihat ke dalam sehingga ia merangsek semakin dalam. Jantungnya mulai berdebar tak karuan, "kaya pencuri saja aku ini."
Namun dia juga tidak berhenti, malah makin berani mendorong pintu hingga pintu itu terbuka lebar. Tetapi saking ramainya suasana di dalam, sampai tak ada yang memperhatikan pintu.
Jauh sebelum itu, ketika melihat Djarot datang, Mayang teramat terkejut melihat siapa yang datang bersama Djarot. Tamu Gian adalah wanita dan pria yang tempo hari makan di rumah makan miliknya. Jadi Mayang agak gugup ketika mengingat apa yang batinnya ucapkan waktu itu.
"Hai, Mbak Mayang. Istrinya Pak Dokter, kan?" Wanita berpostur tinggi, cantik, dan ramping itu mendekati Mayang. Menyalami Mayang yang berdiri kaku karena keramahan dan sikap rendah hati wanita itu. Jarang orang kaya yang mau menyapa lebih dulu kalau di sini, malah terkesan ingin di sanjung-sanjung padahal kayanya juga masih nanggung.
"Ya, Bu, eh ...," gagap Mayang bingung sendiri harus memanggi wanita ini bagaimana. Jelas kalau Mbak itu agak kurang pantas, ingin memanggil Bu, tetapi mungkin baru sekitar beberapa tahun di atasnya. Dia sangat butuh Gian saat ini. Baru pertama kali ia ikut bergabung dalam pertemuan seperti ini, apalagi dengan orang dari kota besar yang terlihat begitu luar biasa.
"Panggil Mbak juga boleh, kok ... Mbak Mayang." Pria yang sangat mempesona itu menjawab kebingungan Mayang. "Dia sudah tua sebenarnya, hanya make up saja yang membuatnya tampak muda. Kami sudah mempunyai cucu."
"Astaga, eh, maksud saya, beneran? Tapi saya pikir Mbak ini sekitar empat puluhan tahun." Mayang takjub. Uang memang tak bisa bohong, ya ... duh, insecure Mayang jadinya. Mayang diam-diam bertekat, untuk melakukan perawatan. Ia meniru pasangan ini, yang begitu menyayangi meski usia mereka tak muda lagi. Secara tak kasat mata, istri tetap terlihat awet muda dan enak dipandang, juga rahasia agar suami tetap lengket, sekalipun suami berkata 'aku menerima kamu apa adanya'.
__ADS_1
"Saya Kira, Mbak Mayang ... saya baru tahu kalau rumah makan itu milik Mbak Mayang, istri dari rekan kerja suami saya. Kami berdebat ingin makan di mana saat pulang kemari, sementara saya ingin makan di rumah makan Mbak, suami saya ingin makan di Arumndalu. Tidak tahunya, kedua-duanya besanan."
Mayang masih belum bisa percaya dengan apa yang didengarnya, tetapi ia mengulurkan tangan dengan bibir yang terus tersenyum. "Senang bertemu dengan Mbak Kira."
Seakan baru tersadar saat melihat ke empat tamunya masih berdiri, Mayang gelagapan.
"Bu Mayang nggak ada niat buat nyuruh kita duduk?" Agung memang paling peka dengan sikap tidak sopan seseorang, meski Mayang tidak bermaksud sebenarnya, tetapi menggoda orang lain adalah passion lain pria yang sebenarnya seusia Mayang. Namun karena Mayang adalah istri bosnya, Agung memilih memanggil Mayang dengan sebutan itu. Lagipula, dia tidak mau kalau Gian akan memelototinya bagai tatapan Suzzana, ketika sok akrab dengan Mayang. Beuh, Agung kelewat malas.
"Maaf-maaf, saya tidak bermaksud tidak sopan, tapi yah ... monggo silakan duduk." Mayang bingung sendiri dan mempersilakan tamunya duduk.
"Minumnya ndak sekalian, Bu?" celetuk Agung selanjutnya. Gayanya sok tidak merasa dan mata Agung malah memandangi langit-langit, saat semua orang menatapnya dan salah tingkah karena ucapan Agung. Kurang asem memang anak itu!
Tepat saat itu, Mayang melihat gerakan di pintu yang membuka pelan. "Mbak Rully sudah kembali?"
Rully melompat mundur seraya memejamkan matanya kuat-kuat, "Aku nggak lihat apa-apa, sumpah aku nggak lihat siapa-siapa."
Ucapan keras Rully membuat Gian yang masuk dengan senampan kopi dan teh menjadi terkejut. Ia menatap satu-satu orang yang ada diruangannya. Mereka juga terlihat bingung, sampai Mayang melangkah ke depan pintu. Ia mengajak Rully yang menahan napas menjauh dari muka pintu.
"Kenapa?" Mayang melongok ke belakang, tampaknya Gian sudah mencairkan suasana.
__ADS_1
"Itu ... aku, aku lupa kamu pesan apa tadi, kan kamu bilangnya cepet dan panjang jadi aku belum sempat mencatatnya." Rully akhirnya menemukan jawabannya, setelah sempat buntu dan otaknya berubah menjadi seonggok sterofoam. Ia melirik Mayang dengan senyumnya yang aneh. "Iya ... itu."
"Kirain kenapa." Mayang sendiri lupa dia bilang apa, jadi dia memutuskan untuk tidak pilih-pilih makanan. Nanti saja dia memilahnya kalau sudah sampai. "Pecel sama klepon, lopis dan cenil. Udah itu saja."
"Lah, sebutin yang komplit kaya tadi, yang nggak pake kemangi, telurnya garing diluar, sate jeroan, sate telur puyuh, trus sayuran pecelnya jangan daun singkong, mlandingnya yang banyak," ucap Rully cepat.
"Lah itu ingat."
"Eh!" Rully menutup mulut dan menggeser tubuhnya menjauh, "Aku cabut dulu kalau begitu." Rully melesat bagai kilat menjauhi mess Gian. Mukanya merah menahan malu. Yang lebih parah, ketika ketahuan, dia langsung merem, tanpa sempat melihat Djarot tersayangnya.
"Sial-sial-sial!" umpat Rully dengan perasaan getir. Dia merasa sangat buruk karena tidak bisa mengendalikan perasaannya sendiri. Perasaan yang selalu membuatnya kesulitan sendiri. "Mungkin aku harus menyerah sekarang, daripada harus digantung lagi sebulan. Ya Tuhan, buruk nianlah nasibku. Pengen dibelai aja sampai kaya gini."
Sementara diantara keriuahan sambutan Gian yang masih pucat, ada sebuah bibir yang melukiskan senyuman. Ada sepasang telinga yang tegak dan dipasang dengan benar untuk menguping suara di luar. Ada rasa kasihan juga ingin menertawakan. "Gimana Dek Rully ... masih kuat jauhan dariku. Biar botak, lama-lama aku ngangenin kan?" batin Djarot seraya mengusap dagunya yang mulai ditumbuhi kembali oleh bulu bernama jambang.
*
*
*
__ADS_1
Kebut-kebut cantik euy ... wkwkwkkwkwkwk