
Djarot tersenyum melihat betapa pintarnya Rully menyikapi semua serangan yang datang. Memang, yang seperti itu yang Djarot mau. Tahan banting dan tidak mudah diadu domba. Karena ia yakin, setelah mereka bersama, akan banyak yang senang mengganggu mereka.
Tampaknya, alur hidupnya ada yang harus disesuaikan. Ia tak yakin setelah menikah nanti, dirinya tetap menyukai pekerjaan ketimbang hal lain. Sekarang saja, dia seperti enggan untuk kembali ke pekerjaan. Di sini bersama Rully, terasa sangat menyenangkan.
Sejenak Djarot menatap layar ponselnya. Ibu jarinya bergerak-gerak tanpa melakukan apa-apa. Ia menimbang, langkah selanjutnya dengan matang. Namun ketika ia sampai pada jalur yang pas, ia segera memasang pengumuman di situs website nya. Tak lupa, ia menghubungi beberapa orang yang berniat mengajak Djarot bermitra.
Djarot segera menyalakan rokoknya, lalu berjalan ke balkon, menikmati harinya yang cerah, secerah senyumnya yang merekah. Ia tak mau terlihat menguping, dirinya harus terlihat tak tersentuh seperti biasa. Di bawah, suara ribut itu tak terdengar lagi.
"Kalau tidak ada urusan lagi, apa tidak sebaiknya saya pulang saja?"
Djarot melirik sisi kirinya yang kini telah berdiri sosok Rully yang terlihat menahan kekesalan.
"Dan meninggalkan aku di sini sendiri?"
Rully menoleh, menatap Djarot tak mengerti. "Mas, eh, Pak Djarot masih mau disini?"
"Tidak juga, tapi kan kamu bilang lebih baik kamu pulang, artinya kamu akan pulang sendirian ... nggak sama aku!" Djarot mencapit rokoknya di antara jemarinya yang besar. Ia menyipit untuk menikmati aroma nikotin itu. Terlihat cuek atas jawaban yang memelintir itu.
"Ya maksudnya sama-sama, Pak ... lagian untuk keluar dari kompleks ini, kan aku nggak bisa. Nggak hapal jalannya." Rully tersenyum sedikit, lalu nada bicaranya mulai lunak. Tidak seperti tadi, suara manja itu terdengar keras dan penuh beban.
"Itu artinya, kamu disuruh tinggal di sini lebih lama. Biar hafal jalannya," goda Djarot lagi.
"Jadi nanti kalau minggat, nggak susah ya, Pak?" Rully menimpali dengan nada sarkas yang ditelaah Djarot dalam-dalam.
"Jadi nanti kamu berniat kabur kalau sudah menikah?"
Rully mengerem tertawanya mendadak. Pertanyaanya kok agak menyedihkan ya? Ia melihat ada kesedihan di wajah Djarot.
"Tidak juga, sih ...," jawab Rully seraya mengalihkan perhatiannya pada pepohonan rindang rumah sebelah. "Kalau Pak Djarot nggak nyakitin aku, aku nggak bakal kabur, kok."
Djarot terkekeh, "Aku bakal sering nyakitin kamu selama kita bersama, nanti."
__ADS_1
"Loh, kok gitu? Kenapa memangnya? Apa pengacara beneran deket sama banyak wanita? Asistennya banyak, cantik-cantik, seksi-seksi, dan dibawa kemana-mana?" Rully menatap Djarot serius. Sementara pria itu terus terkekeh sampai mendongaklan kepalanya.
Rully benar-benar polos.
"Itu karena kamu kebanyakan nonton acara gosip, makanya mikir nya ke arah sana terus." Djarot tak tahan untuk mengusap rambut Rully. Menahan mati-matian untuk tidak menilai ukuran calon istrinya itu.
"Tapi emang bener kita bakal nikah, Pak? Aku agak tidak yakin." Rully kembali menatap dedaunan yang bergerak terisak angin itu dengan hampa.
"Pasti, dong ... Bapak aja udah nego sama pak penghulu kok. Katanya aku harus nikah secepatnya. Mumpung ada yang mau." Djarot terkesan merendahkan diri. Yang mau kan banyak, dia aja yang pilih-pilih, kan?
"Gadis-gadis semalam emangnya nggak mau sama Bapak? Aku kok menilainya malah Bapak yang nggak mau sama mereka."
Rully melirik Djarot. Berharap pria itu mau memberinya suatu kode atau apalah, agar dia yakin kalau dia tidak terlalu percaya diri. Sejak semalam, Djarot tidak mengatakan apa-apa. Pria itu hanya terus tersenyum.
"Awalnya aku mempertimbangkan, tapi setelah ketemu kamu, aku tidak mau sama mereka."
Jantung Rully rasanya berhenti berdetak, paru-parunya bahkan seperti lupa bagaimana cara bernapas dengan benar.
"Kamu harus selalu seperti ini. Kuat dan tak terkalahkan. Kamu tidak sombong, tapi kamu tegak menghadapi siapa saja yang membuat kamu rendah. Semua yang aku cari semua ada di kamu. Dan aku tidak mau, kamu bilang kalau kita tidak jadi menikah. Kita harus menikah. Aku sudah mentok di kamu, Rully ...." Djarot mengemas tangan Rully dalam genggamannya. Mata pria itu lekat menatap Rully. Rully sampai tak mampu membalasnya.
"Ini pemaksaan namanya." Rully menunduk, pipinya sudah panas. Bahkan sampai ke seluruh tubuhnya.
"Memiliki kamu harus dipaksa, Sayang ... kalau tidak, mungkin Agung bisa mendukungku sewaktu-waktu."
Rully tertawa. Bagaimana bisa pria sehebat dia takut bersaing dengan pria sekelas Agung? Kenapa dia tidak khawatir kalau Rully bisa tetap menjaga perasaannya pada Gian? Oh, iya ... Djarot tidak tahu itu. Dan tidak ada yang boleh tahu. Gian sekalipun.
"Nggak mungkin lah, aku mau sama pria tukang manfaatin cewek kaya Agung." Rully menyudahi tawanya. Lantas menatap Djarot lurus-lurus. "Jadi kapan kita menikah, Pak?"
"Asap!"
Rully mengeryit, Djarot melirik jenaka.
__ADS_1
"As soon as possible," jawab Djarot kemudian.
Rully membuang napas setelah ditahannya beberapa saat. Hampir saja dia mengamuk karena jawaban singkat nan membagongkan itu.
Keduanya tertawa lepas, memenuhi udara pagi jelang siang yang cukup terik ini.
"Jadi awalnya, aku berniat menyelesaikan pekerjaanku bulan ini, lalu awal bulan depan aku melamarmu. Tapi yah, semua kacau, jadi Bapak menyarankan sebaiknya minggu-minggu ini saja. Sabtu ini kata Bapak hari paling baik, menurut perhitungan jawa."
Rully kembali mengerutkan alisnya. "Masih pakai begituan? Mayang kemarin agaknya nggak pakai?"
"Kamu saja yang nggak tahu." Djarot mengisyaratkan agar Rully duduk di kursi kayu belakang mereka.
"Jadi kamu lahirnya hari apa, pasaran apa, trus nanti digabung sama hari lahirku, jadinya ketemu deh hari baik nikahnya kapan?" Djarot menjelaskan.
"Kalau masih tahun depan?" Rully mendebat.
"Kamu palsukan hari lahirmu, biar kita bisa nikah sabtu ini. Makanya mari kita hitung kira-kira bisa nggak kita nikah sabtu ini," kata Djarot seraya mengeluarkan ponselnya untuk membuka primbon.
"Sisa berapa hari kalau sabtu, Pak? Itu kan terlalu mepet, mending bulan depan aja. Duh, aku kan belum siap-siap apapun, Pak. Belum perawatan, nih, masih ku cek begini. Aduh."
Djarot sibuk dengan ponselnya. Primbon yang dimaksud adalah Bapaknya sendiri, yang hari ini sebenarnya sedang ke rumah Sigit untuk melamar Rully secara langsung. Dan mereka sedang membicarakan hari baik pernikahan mereka.
"Jadi kamu lahirnya hari apa?" Djarot menyela keluhan Rully.
"Minggu Wage." Rully menjawab cepat, lalu dia sibuk kembali menghitung berapa lama ia harus menyiapkan diri.
Usai mengirimkan itu pada Bapaknya, Djarot tersenyum geli pada Rully. "Nggak usah perawatan. Kamu masih cantik kok, lagian nanti bakal kucel kalau udah nikah. Lihat ini tanganku aja segede ini, kalau cuma mau bikin kamu berantakan pasti mudah."
Rully menatap lengan yang sering dipertontonkan di live instagram itu. Seketika ia menggigit bibir dan menunduk. Ia tak akan lupa pada komentar kotor yang membanjiri lapak pria ini dulunya. Haish sial! Kenapa juga dia repot-repot skrol komentar sampai tandas.
Djarot terkekeh melihat Rully yang memalingkan wajahnya. Pasti Rully tengah berpikir kemana-mana.
__ADS_1