
"Kalau saja Ibuk ndak ngotot memutuskan berangkat dadakan begini, ini semua tidak akan terjadi!"
Murdyo mengomel. Pria berusia lebih dari enam puluh tahun tetapi masih bugar dan energik itu melepaskan kemarahan, yang sebenarnya jarang sekali ia lakukan terhadap istrinya. Kali ini, ulah Rustina tidak bisa ia diamkan begitu saja.
"Siapa yang bakal ngira besok akan mati, Pak ... Bapak ini kok nyalahin Ibuk terus! Bapak kemana memangnya? Kenapa ndak bangunin Ibuk kalau Bapak juga ndak kebablasan tidurnya?"
Murdyo menatap istrinya dengan kesal. Ia hanya membuang napas karena jengkel tetapi tidak bisa juga terus mendebat Rustina. Ujung-ujungnya, dia yang akan disalahkan. Mendebat wanita memang tidak pernah ada habisnya.
Entah apa yang ada di pikiran Rustina, Murdyo tak habis pikir. Jelas, Djarot telah membooking hotel untuk acara sakralnya. Bahkan berapapun rombongan besan yang dibawa, Djarot siap mengurus akomodasinya. Hanya, Djarot meminta, agar mereka datang lebih awal. Pertama, karena akad berlangsung lebih pagi, kedua, tempatnya harus di dekor ulang untuk acara resepsi malam hari.
Murdyo sedikit mengira-ira, akan ada tamu orang penting mengingat siapa keluarga Rully. Mulai dari wali, adik ipar, dan juga Djarot sendiri.
__ADS_1
"Kalau sampai kita telat dan bikin malu, Bapak ndak akan tinggal diam!" Murdyo gemas sampai rasanya ingin memukul dan meremukan sesuatu. Geram sekali pada keras kepala Rustina. Ada baiknya sebenarnya, tetapi saat ini sungguh Murdyo ingin melemparkan saja sifat keras Rustina ini ke Samudra Hindia.
Murdyo membuang muka ke arah luar jendela mobil keluarga yang begitu nyaman ini. Ia takut kalau terus menatap Rustina, bibirnya tidak akan bisa berhenti mengomel, sementara ia takut kalau sampai tangannya meremas istrinya sampai jadi bubur.
Rustina mendengar itu, tetapi dia tidak peduli. Yang hebat hanya Djarot, sementara Rully pasti hanya hidup dari warisan orang tuanya. Pasti tidak becus apa-apa. Tidak seperti Putri, yang begitu mandiri dan menjadi seperti sekarang karena usahanya sendiri. Rustina mendidik anaknya menjadi anak yang mandiri, kuat, dan elegan. Bukan seperti Rully yang terkesan urakan.
"Lagian di sana ndak akan ketemu siapa-siapa, kenapa harus malu? Kalau terlambat ya, cukup bilang lagi ada masalah atau apa, kan? Gitu aja kok repot! Sampai sewot, ngomel-ngomel ngalahin nenek-nenek. Apa hebatnya si Rully ini sampai bela-belain sebegitunya!" Rustina menyandarkan tangannya pada kaca mobil dan menopang kepalanya. Batinnya tak henti menggumam, bibirnya mengerut, wajahnya masam, sesekali melirik kesal suaminya. Salah sendiri tidak mau mendukung, malah belain wanita ndak jelas begitu, batin Rustina.
Djarot tersenyum kecut melirik jejeran tamu yang akan keluar dari ruangan ini setelah keseluruhan acara telah di lewati.
"Udah lah, Pak ... jangan manyun gitu! Nanti dikira kamu terpaksa nikahin aku, apalagi acara kita dadakan banget." Rully berkata di sudut bibirnya yang terus tersenyum saat bersiap menyalami tamu-tamu yang akan pulang. Sebagian besar dia kenal. Hanya kehadiran pria bertubuh tinggi besar seimbang dengan Djarot, membuat Rully mengening.
__ADS_1
"Tolong jangan memaklumi orang tuaku, Rull ... jelas mereka salah. Momen ini yang paling aku nantikan. Malah kalau nanti malam nggak hadir, aku nggak mempermasalahkannya. Lah, ini ... Lihat ada Pak Danu dan Pak Wabup juga. Gak enak hati aku sama mereka." Djarot benar-benar tidak bisa mengendalikan diri karena rasa jengkelnya. Ini sangat memalukan.
Rully menoleh, lalu tersenyum menatap Djarot. Pria itu tampak lucu.
Mata Djarot jatuh pada wajah yang begitu runcing dan mungil. Ayu dan sedap dipandang berlama-lama. Sesaat, Djarot ingin meraup bibir itu dan menenggelamkannya ke dalam hangatnya pagutan yang Djarot berikan. Tapi dia masih menahan diri dengan mencubit permukaan jemarinya dengan kuku. Dia masih terlalu waras untuk jadi gila.
"Kamu kok biasa saja menghadapi ini? Kamu nggak marah, kesel kaya aku atau gimana gitu?" Djarot beralih ke mata Rully, mengalihkan pikiran kotornya yang menari-nari dengan kurang ajar di benaknya.
"Nggak! Buat apa? Aku rajin mengencangkan kulit wajah, biar nggak punya kerutan, biayanya mahal! Nggak akan kubiarkan hal kecil seperti ini membuat perawatan wajahku sia-sia."
Rully menyenggol lengan kekar Djarot yang begitu keras. "Yang dibutuhkan saat nikah kan pengantin prianya, bukan Ibuk Bapaknya. Kalau Ibuk Bapaknya hadir tapi kamunya enggak, baru aku marah dan panggil dukun buat bikin kamu sengsara."
__ADS_1
Djarot tertawa. "Kamu emang penghiburku, Sayang ... ocehan kamu ini bikin suasana hatiku kembali baik."