Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Wanita Gila


__ADS_3

Tidak ....


Lea tidak boleh lemah hanya karena melihat orang yang merawatnya terluka. Menyaingi Mayang mungkin bukan cara yang tepat, tetapi merugikan Mayang pasti bisa.


Panas matahari siang ini tak diredam oleh angin yang berhembus dingin. Lea duduk sendirian di tokonya yang panas dengan selembar sobekan kardus sebagai pengganti kipas. Tak ada AC seperti di toko Mayang yang tertutup bak minimarket kenamaan, hanya kipas angin yang menggantung di langit-langit sebagai sarana pengurang hawa panas.


"Kenapa nggak ada pembeli yang datang?" gumam Lea. Ia beranjak dari duduknya, lalu melihat ke toko Mayang. "Pake pelet apa sih, dia? Tokonya rame terus, sampe parkirannya penuh, dan pada antre begitu?"


Lea mendesah kesal, setelah di tampar bapaknya, kini dia di tampar kenyataan. Bahwa menyaingi Mayang itu bak siput mbalap Valentine Rossi. Impossible lah bisa melampaui, sejajar saja tidak mungkin.


Deru mobil terdengar memasuki halaman parkir depan toko Lea yang terbuka lebar hanya ditutup rolingdor biasa saja. Hati Lea mendadak lega. "Akhirnya ada yang mampir juga," batin Lea berbunga-bunga. Ia lantas ke depan meja kasir, bersiap menyambut pembeli itu. Senyumnya lebar sampai ke telinga agar terlihat ramah.


Namun, sepuluh orang yang turun dari mobil itu hanya lewat saja di depan toko Lea. Mereka melipir ke toko Mayang.


"Eh-eh!" Senyum Lea pudar, berganti tatapan kesal penuh amarah. "Heh, Bapak Ibu!" panggil Lea pada pengemudi mobil yang hampir sampai di pintu toko Mayang. Mereka menoleh dan saling tatap karena bingung dengan sikap Lea.


"Bapak kalau parkir di tempat saya, belinya di saya, jangan masuk ke situ!" seru Lea seraya berkacak pinggang.

__ADS_1


"Oh, maaf saya nggak tahu, Bu." Wanita yang paling dekat dengan Lea buru-buru menjawab. "Saya pikir ini gudang dari toko yang ini." lanjutnya jujur.


"Enak aja ngapain toko orang kaya gudang. Situ nggak lihat kalau saya punya plang nama sendiri!" bentaknya makin kesal.


"Aduh, maaflah, Bu ... namanya juga pendatang. Kami nggak tau ini toko sama pemiliknya atau beda. Ya udah ... biar suami saya pindahkan saja mobilnya." Wanita itu melambai pada suaminya. Dia enggan ribut dengan Lea.


"Eh, tidak bisa! Tidak boleh pindah, harus beli di saya atau saya denda seratus ribu sebagai uang sewa tempat parkir mobil!"


"Hah?" Wanita itu terdiam dan melongo. Sementara suami si wanita memandang heran pada Lea. Ada-ada saja kelakuan orang jaman sekarang.


"Ibu nggak bisa maksa orang buat beli di toko ibu dong. Kan kami berhak milih mau beli dimana!" bela wanita itu.


"Haih, dasar wanita gila!" batin wanita itu.


Wanita itu akhirnya membeli di toko Lea seharga dua puluh ribu rupiah saja. Pikirnya, dari pada bayar seratus ribu dan tidak dapat apa-apa, lebih baik beli sedikit saja. Asalkan beli. Dasar wanita aneh.


"Masak dari luar kota belinya cuma dua puluh ribu, Bu? Ini mau dikasih makan kucing apa ikan koi?" hina Lea saat memasukkan dua pak tahu tuna ke kresek hitam.

__ADS_1


"Mau saya makan di pinggir pantai nanti, siapa tau ada hiu yang tertarik. Nanti hiunya saya suruh kemari!" balas wanita itu ketus.


Lea mencibir, mengumpat dalam hati. "Tiga puluh ribu!" ketus Lea seraya mengentakkan kesel itu ke depan pembelinya.


"Loh, kan di label cuma sepuluh ribu per paknya, saya cuma beli dua, harusnya dua puluh ribu," protes wanita itu.


"Harganya barusan naik, kata pembuatnya," jawab Lea enteng seraya menarik uang lima puluh ribuan di tangan wanita itu.


"Eh ...." Wanita itu terkejut dengan sikap Lea yang kurang ajar menurutnya. "Mbak nggak bisa gitu dong?"


"Ini kembaliannya, cepat pergi atau saya minta kamu bayar parkir dua ratus ribu!" ancam Lea.


Dasar wong edan! Wanita itu menarik plastik kresek berisi dua pak tahu tuna.


"Bodo amat mau kesel mau marah, juga nggak peduli, yang penting dapet duit." Lea mencibir saat melihat wanita itu diluar sedang membicarakannya. Dianggap gila juga nggak apa-apa, batin Lea.


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2