
Ferdi tepaku di tempat, dia merasakan nyawanya tercabut dari raganya untuk beberapa saat lamanya. Entah karena kepergian Mayang atau mengkhawatirkan uangnya. Mungkin dua-duanya.
Kalau sudah begini, siapa yang mau disalahkan? Dia sudah berhati-hati tapi orang lain ceroboh. Ferdi menggeram marah.
Lea melihat kepergian Mayang dengan senyum sinis. Rasa hatinya sangat puas dan dia berpikir sudah memenangkan pertempuran yang baru dimulainya semalam. Mayang itu wanita lemah, tidak mungkin dia akan mau mempertahankan Ferdi yang jelas-jelas menyelingkuhinya. Dan dia tentu tidak akan pernah mau dikalahkan oleh Mayang yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengannya.
"Kalau mau bersaing denganku, benahi dulu badan dan wajahnmu yang nggak karuhan bentuknya! Dia pikir uang dan rasa benci bisa membuat kamu menang? Heh, kamu harus pintar sepertiku jika ingin menjatuhkanku, Mayang," gumam Lea sinis.
Belum selesai Lea merayakan kemenangannya, langkah Ferdi terdengar di belakang Lea, terdengar tegas dan cepat.
Lea memutar tubuhnya, memasang senyum manis, meski dia dan Ferdi baru saja selesai bertengkar, tetapi kepergian Mayang tentu memudahkan dan menyingkat waktu agar mereka cepat menyatu.
"Mas ... Mayang sudah pergi. Akhirnya dia sadar juga kalau--"
Plak!
"Aw ... Mas!" pekik Lea sambil memegangi pipinya yang terasa panas. Secepat kilat Lea kembali menghadapi Ferdi yang tampak muntab dan wajahnya menegang kaku. "Apa-apaan kamu, Mas?!"
Lea melebarkan matanya selebar-lebarnya karena merasa tak terima atas perlakuan itu. Apa salahnya?
Dada Ferdi naik turun saking rasa marah yang mendidih di sana sudah tak mampu ia kendalikan lagi. "Kamu yang apa-apaan, Lea! Kamu yang mengacaukan semua rencanaku dengan tindakan bodohmu yang kekanak-kanakan! Kamu tau, uangku semua sudah ada di tangan Mayang! Kalau sudah begini, bagaimana kalau uangku tidak kembali dan di bawa Mayang kabur?"
__ADS_1
Lea makin nanar menatap Ferdi, "Kamu udah serahkan uang itu pada Mayang, Mas? Kapan? Kamu bilang masih besok?"
Kepala Lea menggeleng tanpa sadar, hari ini, dia menjual perhiasannya, mengadaikan tanah, dan meminjam uang pada temannya untuk mencukupkan uang tiga ratus juta yang diminta Ferdi. Lea berniat mengambil sedikit dari uang yang mereka hasilkan dadakan hari ini, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tak sempat ia meminta uang itu karena Ferdi terus-terusan dihubungi atasannya, sehingga mereka pulang terburu-buru dan terpisah.
Ferdi mengabaikan Lea, ia mengusap wajah tampannya dengan kasar. Kali ini dia benar-benar takut.
"Mas ... kamu pernah ngga sih mikir, kalau Mayang membohongimu soal Arumndalu?" Pertanyaan Lea membuat Ferdi menoleh dan seakan sebuah batu menghantam kesadaraanya, ia meloloskan napas kecewanya ke perut. Bodoh!
"Kamu main iya-iya saja, tanpa mengawal proses pembelian yang itu, kan?" Lea mendesak seolah tidak mau tersudut sendirian. Ya, memang dia mengirimi Mayang foto-foto bercintanya dengan Ferdi dan video yang ia rekam semalam, karena kesal sekali Mayang memecatnya dengan tidak sopan. Namun, dalam hal ini, Ferdilah yang sangat bodoh begitu percaya pada Mayang yang dianggapnya lugu.
"Akan aku buktikan kalau Arumndalu tidak akan pernah berpindah kepemilikan!" Lea tak mengendurkan tatapan tajamnya kala mengambil ponsel di saku celana jeansnya. Dengan cepat ia mendial nomor temannya yang tahu betul soal Arumndalu.
"Halo, Meira ... aku mau tanya, apa benar Arumndalu mau dijual?" Lea memasang mode loudspeaker agar Ferdi ikut mendengarnya.
"Kata siapa? Pak Hadyan katanya sudah menemukan penerusnya, jadi tidak jadi menjual restorannya. Anaknya sudah dapat pinjaman modal dan tidak lagi membutuhkan bantuan Pak Hadyan. Kamu mengincar Arumndalu diam-diam, ya?" kata wanita di seberang telepon dengan riang.
Lea tersenyum ke arah Ferdi, "Ya, aku emang berminat kalau mau dijual, kalau tidak ya, sudah tidak apa-apa. Makasih infonya ya, Mei."
"Puas kamu sekarang, Mas!" Lea menohok Ferdi yang lansgung terduduk lemas. Semua tabungan hasil rampasannya berjalan dengan suka rela ke asalnya, seolah uang-uang itu tidak betah berlama-lama dengannya.
Marini baru saja tiba dengan uang hasil penjualan sawah yang dibeli adik iparnya jauh lebih tinggi dari harga pasaran. Matanya di buat hampir jatuh dari rongganya, dadanya berdetak cepat sampai ia lemas. Marini ambruk dengan tatapan kosong menyertai. "Sawahku ...," ratapnya seraya memandangi satu tas penuh uang di pangkuannya.
__ADS_1
Maafkan typo ya, gengs ... baru selesai nginem biar besok pas puasa nginemnya rada ringan.
__ADS_1
Selamat membaca :)