
Fase kebakaran jenggot yang dialami Lea tak sampai di situ saja. Efek tokonya makin sepi, Arista keluar setelah modal awalnya kembali. Dan, momen bangsat—seperti umpatan Lea, adalah Arista mengarahkan semua produsen untuk datang pada Mayang dengan membo ,corkan betapa bobroknya sistem keuangan Lea. Rena masih bertahan, dengan alasan menunggu modalnya kembali sepenuhnya, meski dia terlihat istikomah menjalani usaha yang dijalaninya bersama Lea.
Lea tidak bisa melakukan apa-apa untuk mengerjai Mayang lagi. Bisa dikatakan Mayang telah memegang kelemahannya. Dia terdesak di sisi tembok paling ujung, yang tidak bisa lari kemanapun selain ke jurang. Disela kepeningannya, bapak Lea menghubunginya.
"Nak, Bapak di Gudang Rasa."
"Ngapain Bapak di sana?" tanya Lea yang baru bangun pagi itu. Dia terlihat kesal karena tidurnya diganggu. Jangankan bapaknya, Ferdi saja terkena bentakan Lea sejak semalam. Apapun yang Ferdi lakukan rasanya tidak ada yang benar di mata Lea. Bahkan bercinta juga tidak terselesaikan dengan sempurna.
"Loh, Bapak udah lama ndak ketemu kamu. Bapak kangen, Nak."
"Aku nggak punya uang, Pak ... Bapak pulang lagi saja, deh." Lea menenggak teh yang disediakan Ferdi untuknya sampai habis, lalu menjatuhkan tubuhnya di kursi plastik reot di sebelahnya.
"Bapak ndak minta uang, Nduk ... lagian mana mungkin kamu ndak punya uang. Gudang Rasa saja ramai minta ampun, kok. Pasti Mayang gaji kamu lebih banyak sekarang, kamu kan kepercayaan Mayang dan juga ibu dari anak-anaknya Ferdi."
Lea yang semalam buntu, kini mendadak ada ide dengan memanfaatkan bapaknya. Haryadi pasti tidak tahu menahu soal dipecatnya dia dari sana. Pun dengan pernikahan sirinya dulu, Lea mengatakan kalau pernikahan itu atas izin Mayang. Alasannya simpel, karena Mayang mandul dan meminta Lea menjadi istri kedua Ferdi agar Mayang memiliki keturunan. Karena sayangnya Haryadi pada Lea, dia mengangguki apa kata Lea, tanpa bertanya pada Mayang terlebih dahulu.
"Mbak Mayang pecat aku, Pak ... lama-lama dia cemburu juga sama saya karena aku hamil dan Mas Ferdi lebih perhatian sama aku. Mbak Mayang bahkan mencelakaiku sampai aku keguguran." Lea tertawa tanpa suara saat mengatakan itu.
"Masa, sih, Nduk ... Mayang begitu? Bapak tau betul bagaimana Mayang." Haryadi yang kini sedang duduk di dalam Gudang Rasa, mengerutkan kening. Dia masih disambut hangat, disuguhi teh dan juga sarapan oleh Kinanti.
"Bapak tidak percaya sama anak sendiri? Tanyakan sama orang Gudang rasa kalau Bapak tidak percaya. Udah Bapak tunggu di situ nanti saya pesankan ojek agar jemput Bapak."
__ADS_1
Lea mematikan sambungan teleponnya sepihak, membuat Haryadi menghela napas dalam-dalam mengingat kelakuan anaknya. Lea memang kasar dan tidak bisa diatur, karena dari dulu dialah yang ikut aturan Lea. Apa yang Lea mau akan mereka wujudkan sebagai bentuk kasih sayang.
Haryadi mendatangi Kinanti yang duduk di meja kasir, ia bertanya. "Nan ... bener, ya, Lea dipecat sama Mayang?"
"Benar, Pak." Kinanti tetap ramah dan sopan pada orang yang dulu pernah menjadi atasannya di sini. Haryadi dulu adalah orang yang dipercaya oleh Rianti untuk mengelola Gudang Rasa, saat itu Kinanti masih seorang pelayang serabutan.
Haryadi menelan kepahitan, merasa dicampakkan. Dulu ia ikut membesarkan tempat ini dengan susah payah, banyak yang dia korbankan untuk kemajuan restoran ini. Tenaga, ide, dan juga sentuhan sepenuh hati tercuran untuk Gudang Rasa, berharap nanti Lea akan mendapatkan cipratan berkah dari Rianti dan anak-anaknya.
"Padahal, Lea itu sudah banyak berkorban untuk Mayang, kenapa Mayang tega memecat Lea? Apa karena Lea mengandung anak Ferdi dan Mayang cemburu?" Haryadi mencoba menggali.
"Saya nggak tau, Pak ... sejak dipecat, Lea nggak pernah kemari. Saya juga nggak pernah ketemu Lea." Kinan memilih jalan aman, dia tidak mau ikut-ikutan masuk dalam urusan Lea. Takutnya, apa yang keluar dari mulutnya akan membocorkan sinopsis yang dibuat Mayang. Kinan tidak mau itu terjadi.
Beberapa saat kemudian, tukang ojek pesanan Lea datang menjemputnya, lalu Haryadi meminta diantarkan ke Tiga Dara untuk menemui Mayang.
Ketika itu Mayang baru sampai di Tiga Dara, dia mampir untuk memeriksa persediaan, nanti malam jadwal Yudi untuk berbelanja ke kota sebelah. Mayang terlihat lelah pagi ini, semalam ia memastikan siapa saja yang diundang, membicarakan dengan pihak percetakan dan menentukan souvenir. Di kota ini belum ada WO, kebanyakan pernikahan diatur sendiri, dibantu orang atau kenalan yang paham seluk beluk resepsi nikah dan perintilannya.
"Mayang!" panggil Haryadi keras-keras. Entah mengapa ia merasa sangat marah. Mayang di mata Haryadi sangat berbeda. Lebih cantik dan tidak gendut lagi.
Mayang menoleh, lalu tersenyum melihat langkah pria enam puluh tahun yang begitu cepat ke arahnya. "Pak Har ...," sapa Mayang belum tahu apa yang terjadi. "Apa kabar, Pak?"
Mayang berniat menyalami, tetapi Haryadi terlihat tidak sudi. "Kamu pecat Lea setelah semua yang dia korbankan buat kamu?" sembur Haryadi serta merta.
__ADS_1
Mayang terperanjat beberapa saat, lalu mengerti apa yang direncanakan Lea. "Lea juga mencurangi saya setelah semua yang saya berikan padanya."
"Mencurangi apa, Yang?" Haryadi tidak mengerti.
"Banyak Pak ... selain uang, Lea juga hampir menjual Selera, mengkudeta saya dengan membuat saya bangkrut dan menguasai harta saya." Mayang mengatakan garis besarnya saja. "Dia juga selingkuh sama Mas Ferdi, Pak ... bukannya Bapak menikahkan anak Bapak itu?"
Haryadi terperanjat, "Tidak mungkin Lea melakukan itu, Yang ... Bapak tahu Lea tidak akan tega berbuat sekejam itu padamu. Pada orang yang dianggapnya kakak."
Mayang mendesahkan napasnya keras-keras. "Itu juga yang saya herankan, Pak ... kurang apa saya sama anak Bapak itu sampai dia tega melakukan hal itu sama saya. Pak Har kan bapaknya Lea, tentu tahu bahgaimana sikap Lea selama ini."
Haryadi menjadi banyak berpikir, dia juga merasa kalau Lea yang membuat keonaran.
"Saya ndak bermaksud ndak sopan, dan saya tetap menganggap Pak Har bagian dari saya, tetapi saya sibuk, Pak ... kalau Bapak ndak terburu-buru, mari silakan masuk. Kita bahas soal kecurangan anak Bapak di dalam saja."
Haryadi menggeleng dengan cepat, "Ndak usah, Nduk ... tadi saya udah mampir di Gudang Rasa. Bapak pamit dulu."
Langkah Haryadi terayun tak kalah cepat dari pertama datang kemari tadi, bedanya kini Haryadi membawa perasaaan malu.
"Masih mau makan makanan di rumah makanku, kok masih mau musuhin aku." Mayang menyeka keningnya, ia merasa pusing sekarang. Entah karena Haryadi atau persiapan resepsi yang menguras energi ini.
"
__ADS_1