Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Memulai Lagi Dari Awal


__ADS_3

 Uhuk-uhuk-uhuk!


"Hati-hati kenapa, sih, Mbak?" Mayang menepuk punggung Rully yang terbatuk karena tersedak. "Kaya anak kecil aja, minum sampai tersedak-sedak."


Mereka berdua sedang berbelanja barang-barang yang akan digunakan untuk melengkapi pernik resepsi nanti. Karena hamil, Mayang kerap merasa lelah dan ia mudah sekali tergoda pada beberapa menu makanan yang masuk ke penglihatannya.


"Wong edan mana ini yang ngomongin aku di belakang?" gerutu Rully. Tangannya menepuk dada agar napasnya kembali lega.


"Ck ... ndak ada hubungan antara tersedak sama di omongin orang, Mbak!" Mayang mencibir kakaknya yang masih percaya pada mitos seperti itu. "Itu karena Mbak ndak hati-hati minumnya. Kaya simbah-simbah saja pikiran kamu, Mbak ... ndak sesuai sama penampilan yang kelihatan trendy."


Rully melotot saat dirasa sudah mampu menguasai diri. "Mulut kamu jadi tajem setelah gaul sama si judes Gian, ya?!"


"Ih, ini ndak ada hubungannya dengan Mas Gian, ya ... emang kenyataannya Mbak nggak hati-hati minumnya," sangkal Mayang judes.


"Bawa-bawa orang lain, pula." Mayang melanjutkan dalam gumaman yang di dengar jelas oleh Rully.


Rully merengut, lalu meraih tas belanjaan yang berada di letakkan di lantai, dan berlalu pergi meninggalkan Mayang. Kenyataannya, Mayang benar. Dia tidak berhati-hati karena pikirannya sedang tidak fokus.


Beberapa saat lalu, Rully iseng membuka-buka media sosial, lalu ia terpaut pada sebuah postingan kenangan rekan sesama pemilik salon. Kalau matanya tidak salah lihat, Djarot berada diantara mereka dengan rambut putih dan juga tubuh yang jauh lebih berotot. Rully agak oleng melihatnya. Setahun lalu, Djarot belum klimis seperti sekarang, setidaknya dia manusiawi dengan rambut silvernya.


Mungkin akan berbeda penilaian Rully jika Djarot mendekatinya dalam keadaan memiliki rambut. Rully banyak berpikir setelah melihat itu.


"Mbak kita jemput Mas Gian dulu di gym ... katanya mobilnya rewel dan ditinggal dibengkel." Mayang menyusul dengan santai memasuki mobil. Ia agak tidak memperhatikan Rully yang lagi-lagi melamun di samping mobil. Terlalu fokus pada ponsel dengan pesan Gian yang sedang dibacanya.

__ADS_1


Rully menggelengkan kepalanya, mencoba tidak terpengaruh lagi soal Djarot. "Dia sekarang adalah tuyul, bukan manusia. Mana ada manusia botak klimis begitu, sampai lalat saja terpeleset kalau nemplok di sana."


"Mbak!"


"Eh, iya tuyul!"


"Apa?!" bentak Mayang tidak terima dikatai tuyul. Rully terperangah, dan buru-buru menutup mulutnya.


"Gian di gym Axton?" Rully berkilah dengan terbata-bata. "Yuk, jalan ... keburu sore!" Dia langsung melesat ke sisi penumpang di belakang sopir


Mayang menatap heran kakaknya itu. "Kan Mbak Rully yang nyetir!"


"Oh, iya!" Rully menepuk keningnya, "ini mau naruh barang-barang di belakang."


Gym Axton sore ini dipenuhi oleh bapak-bapak berkantong tebal yang merupakan anggota VIP. Axton menjamu mereka secara khusus. Latihan telah usai beberapa saat lalu, kini mereka berbincang satu sama lain. Hanya Gian yang nampak menyendiri dengan tangan sibuk chatting dengan Mayang.


"Mobilnya nggak kelihatan di parkiran, Pak Dokter? Diantar istri?" Djarot menyapa Gian dengan ramah. Bukan alasan karena sedang dekat dengan Rully yang membuat Djarot akrab dengan Gian. Mereka sudah saling menyapa sejak dulu, namun Djarot merasa ia perlu menegur Gian, sebab istri Gian adalah kliennya yang paling royal dan tidak ribet.


"Lagi rewel di bengkel, Pak Bro!" Gian menjawab seraya meletakkan ponselnya di tas yang berisi air mineral dan pakaian ganti. Gian memilih sekalian mandi agar Mayang tidak terganggu dengan bau keringat Gian. Istri Gian itu sedang sensi bahkan dengan bau keringat Gian yang tidak seberapa ini.


"Waduh ... emang sudah waktunya ganti yang baru, sih." Djarot berkomentar, "tapi kayaknya, mobil itu punya nilai history yang kuat ya, Pak Dokter?"


Gian tertawa kecil. "Yang jelas dia menemani saya saat susah dulu, Pak Bro. Nggak terlalu parah, sih, kerusakannya. Andai saya rajin merawatnya, pasti tidak akan terjadi hal seperti ini."

__ADS_1


Djarot mengangguk, "saya mengerti betapa sibuknya dokter kandungan terbaik di sini."


Keduanya tertawa bersama, lalu obrolan mereka makin akrab dan hangat terjalin.


Rully dan Mayang tiba tepat ketika Gian dan Djarot keluar dari ruang latihan menuju ruang ganti. Rully tercekat beberapa saat. Harusnya ia menunggu saja di mobil. Bukan ikut merangsek masuk sampai di sini. Jika Mayang pasti biasa menyaksikan perut rata Gian, sedangkan Rully harus menelan ludah melihatnya. Dan ketika ia melihat ke arah lawan bicara Gian, tubuh Rully menjadi sedikit gerah.


Entah mata Rully yang rabun atau dia hanya fokus pada kepala Djarot saja, sampai dia mengabaikan kebugaran Djarot. Mungkin pakaian Djarot yang longgar menyembunyikan lekukan tubuh pria itu.


"Sudah selesai, Mas?"


Suara Mayang membuat Rully tersentak dan refleks menatap Gian dan Djarot bersamaan. Dan ... di sana Djarot tiba-tiba berekspresi tajam.


Kesialan Djarot bertemu Rully, membuatnya harus mengulang lagi syarat yang Rully ajukan. Dia mengumpat geram, karena harus memulai lagi dari awal.


"Kamu pasti sengaja, Rully!" geram Djarot dalam hati. "Kamu akan membayar ini berkali-kali lipat nanti!"


*


*


*


Sorry agak lama update. Saya harus merevisi cerita ini beberapa bagian. Maaf, ya🙏🥰

__ADS_1


__ADS_2