Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
No Karet-karet Anymore


__ADS_3

Djarot pulang saat Rully sudah tertidur. Melihat posisi Rully yang begitu menggoda, membuat Djarot langsung bereaksi. Dia bergegas membersihkan diri, lalu membuka laci dan mengambil bungkusan karet di sana. Walau sebenarnya enggan sekali memakainya, tapi demi menuruti istrinya, dia terpaksa memakainya.


Benda tersebut dilempar sembarangan di atas kasur, lalu dia merangkak diatas tubuh Rully. Bibirnya mengecup ringan bahu Rully yang terbuka. Lingerie berwarna magenta itu tersingkap, membuat tangan Djarot langsung melayang ke sana.


"Mas ...." Rully menggeliat, saat perutnya diusap pelan. Matanya mengerjab pelan, "sudah pulang?"


Suara parau Rully membuat Djarot tersenyum. "Sudah di sini, pasti sudah pulang lah, Yang. Ini udah minta jatah juga? Mau nggak?"


Rully tertawa pelan, "aku lemes, Mas. Baru melek begini juga."


Mata Rully lamat-lamat melihat jam di dinding, sudah pukul sebelas malam. Rupanya dia sudah tidur cukup lama.


"Aku nunggu kapanpun kamu siap? Setengah jam, satu jam?" Djarot menggigit ujung lingerie itu, wajahnya begitu menggoda.


Astaga!


Rully tertawa lagi, "satu menit ...."


Tangannya segera mendorong tubuh Djarot, lalu segera menuju kamar mandi. Hanya mencuci muka dan gosok gigi saja. Dia tidak mau apapun yang dilakukan nanti diatas ranjang, membuat suaminya tersebut tidak nyaman.


Djarot menumpu badannya diatas ranjang, bibirnya menyunggingkan senyum kepuasan. Rasanya, seluruh lelahnya akan terbayar. Walau setiap hari melakukannya, Djarot merasa tidak akan pernah bosan. Rully seperti sepetak tanah, yang semakin digali, semakin banyak mengeluarkan kejutan.


Djarot meraih bungkus keperakan di atas ranjang, lalu membolak balikkan benda tersebut di depan wajahnya. Aroma khas benda tersebut membuatnya kembali bergairah.


"I'm ready ...." Rully menyilangkan kakinya, menyikukan sebelah tangannya di pinggang, lalu bergerak begitu menggoda.


Djarot menerkam wanita itu dalam satu kali lompatan, dan pemanasan dilakukan seraya berdiri.


Suara mendesah dan decapan memenuhi ruangan kamar yang redup temaram ini.


"Oh, Mas ... aku sudah tidak tahan."


Djarot segera membawa tubuh Rully ke atas kasur, mempersilakan Rully menerima dirinya sekali lagi. Dia membuka plastik pembungkus karet itu dengan kasar, memakai gigi dan dibantu tangannya.


Rully yang berada di bawah Djarot membuka mata, kemudian merengek. "Mas ... kayaknya kita nggak butuh benda itu deh."


What?


Mata Djarot membeliak. Tangannya sampai terpeleset saat mendengar kata-kata Rully. Karet tersebut meluncur dan jatuh entah kemana. Mungkin dia tahu diri sehingga memilih menghilang dari pandangan dua orang itu.


"Gian tidak mau kita menunda kehamilan." Rully menghela napas.

__ADS_1


Djarot menjatuhkan tubuhnya yang polos tanpa busana, hingga duduk diatas kakinya sendiri. Iya, sih, ini jauh lebih baik, tapi masalahnya, benda itu sudah memenuhi laci, jadi buat apa benda itu selanjutnya? Tidak mungkin kan kalau akan ditiup untuk dijadikan hiasan memperingati aniversary mereka nanti?


Djarot segera tersadar dari lamunannya. "Ya sudah. Kita gas kan saja, kalau begitu!"


Pria itu sangat bersemangat, lalu kembali menggoda Rully.


"Tapi, kita harus mengatur jadwalnya."


What? Jadwal apa itu?


Djarot sedang berada di dada Rully saat kalimat itu terdengar. Dia sampai membuat suara ketika melepaskan diri.


"Ya, kita tidak boleh setiap hari melakukannya, Mas." Rully melirik Djarot, sedikit takut dan rahim Mungkin sebaiknya, tidak sekarang mengatakannya. Ini kan terlalu nanggung. Keinginan Djarot sudah diselanya beberapa kali. Tidak kah Rully menyebalkan?


Djarot mengendikkan bahu. "Tidak masalah. Aku hanya bikin 24 jam sekali, bukan 24 jam 3 kali."


"Mas, bukan begitu—hmmm."


Penjelasan Rully tertelan oleh ciuman Djarot yang sudah tidak bisa ditawar lagi. Peduli setan dengan jadwal atau apapun semacamnya.


Toh, cepat hamil atau tidak, tergantung pada kesuburan masing-masing, bukan pada banyaknya frekuensi produksi. Dia hanya ingin menikmati, madu yang ditunggu dan ditahannya selama tiga puluh tujuh tahun hidupnya.


Dua kali permainan, cukuplah membuat keduanya kehabisan napas. Djarot langsung merebahkan tubuhnya, dan menarik Rully dalam dekapannya. "Kurasa besok pagi saja mandinya."


Rully terkikik, "Aku enggak lah, walau nggak mandi, setidaknya bebersih dulu. Biar tidur tidak dalam keadaan kotor."


Djarot tersenyum, "kamu emang perhatian sekali."


Rully dilepaskan, wanita itu sempoyongan saat ke kamar mandi. Djarot hanya tersenyum, puas sekali dengan perbuatannya barusan.


Djarot memang suka melihat lawannya tidak berdaya, wajah lemah memohon pemantik ampuh yang membakar gelora di dalam tubuhnya. Rully sudah melakukannya. Dia sangat menyukainya.


Pagi harinya, Rully sudah berteriak-teriak membangunkan Djarot.


"Mas ... bangun! Udah jam enam, kamu belum mandi." Rully sudah wangi, memakai mukena, dan menggoyang tubuh Djarot hingga berguncang.


Mata Djarot langsung membeliak, "Apa? Jam enam?"


Pria itu melompat dari ranjang, dan berlari ke kamar mandi.


Sementara Rully tertawa terbahak-bahak. "Dasar tukang molor! Udah dibangunkan dari tadi masih saja susah bangun! Baru bangun kalau dibohongi."

__ADS_1


Rully duduk di depan cermin, berdandan seperlunya, sebab ada orang yang akan memakai jasa MUA-nya. Ya, walau hanya untuk kekuarga mempelai pria, Rully senang-senang saja. Orang yang di rias keluarga pak Bupati. Jelas ini membuktikan, Rully sudah begiyu terpercaya.


Rully sedang berganti pakaian, dan sepertinya, sopirnya sudah datang. Dia harus cepat. Ini sudah hampir jam lima. Dia tidak mau terlambat. "Ya Tuhan, ini gara-gara Mas Djarot yang bikin aku kecapekan dan tidur kaya kebo!"


Rully berlari ke depan pintu kamar mandi.


"Mas ... aku berangkat dulu! Sarapan sudah aku siapkan. Tinggal nyeduh kopi, Roni bisa kan?" teriaknya seraya menggedor pintu kamar mandi.


Tidak menunggu jawaban, Rully meninggalkan rumah dan melesat menuju rumah pribadi bupati.


Djarot keluar dengan wajah bingung. Kamarnya kosong, padahal tadi dia cepat-cepat, karena mendengar panggilan Rully.


"Kemana wanita itu?" Djarot melongok ke jendela yang masih bertirai. Dia terperangah, saat melihat di luar masih gelap.


"Astaga ... dia ngerjain aku?" Sekali lagi memastikan jam menunjukkan waktu yang benar, Djarot mengumpat dan meraih ponselnya.


"Kamu kemana?" teriaknya saat Rully menjawab panggilannya.


"Maaf, Mas ... aku lupa kasih tahu semalam. Aku ke rumah Pak Indra, merias disana."


"Indra siapa?" Djarot sedikit cemburu.


"Pak Bupati."


"Oh ...." Segenap kemarahan Djarot tertelan kembali. Kalau di sana, Djarot tidak bisa marah. Ini adalah prestasi dan kelas seorang Rully. Istrinya yang begitu membanggakannya.


"Kok oh?"


"Ya, mau gimana lagi? Yang apa aku harus ngomel?" Djarot mengerutkan kening, alih-alih tersenyum bangga.


"Bilang Sayang kek ... love you kek."


"Love You too." Djarot mematikan panggilannya. Dia tahu Rully marah dan akan menghajarnya nanti. Biar saja Rully terus menginginkan dirinya, cintanya, dan juga kasih sayangnya. Dengan begitu, Rully tak akan pernah bosan menjalani hidup dengannya. Hidupnya terlalu datar, dan Rully yang membuatnya penuh warna.


*


*


*


Maaf baru update, anak sakit lagi. Ini diketik cepat2, takut nggak sesuai janji dan lebih lama lagi liburnya. 🙏

__ADS_1


__ADS_2